Pertanyaan pengantar yang sering kali menjadi perdebatan atau tema menarik untuk dibahas oleh kaum intelektual dalam kaitannya dengan iman akan Yesus Kristus adalah apa yang dimaksud dengan wahyu dan iman.
Bahkan, bukan hanya kaum intelektual yang mempersoalkan hal ini, kita pun turut mempersoalkannya, tentu karena didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi. Hal ini relevan dengan pendapat dari salah satu bapa Gereja, Anselmus dari Canterbury, yang mengatakan, “Fides Quaerens Intelectum” dan jalan yang sangat membantu kita untuk memahami hal itu adalah dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat. Kita saat ini tidak hanya ingin merayakan Misa atau ibadat sabda lalu selesai ketika sudah merayakannya, tetapi lebih dari itu kita ingin memahami apa yang kita rayakan.
Sebagai titik tolak, apa itu wahyu dan iman? Wahyu merupakan Allah yang berbicara kepada manusia dalam sejarah keselamatannya melalui para nabi yang kemudian digenapi dalam diri Yesus Kristus melalui peristiwa Paskah. Sedangkan iman adalah tanggapan manusia atas pewahyuan diri Allah.
Secara tidak tidak langsung, sebenarnya kita sedang berada pada suatu jembatan, yang dalam jembatan itu terdapat jalur mudik manusia yang mau berelasi dengan Tuhan. Tuhan sudah membuka akses itu melalui para nabi yang kemudian berpuncak dalam diri Yesus Kristus.
Kita sangat bersyukur karena memiliki kesempatan untuk ambil bagian dalam jalan itu. Artinya, kita juga memiliki kesempatan untuk menghadap Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus dalam terang iman yang sama, yang telah kita peroleh secara cuma-cuma melalui diri yang rela berkorban demi keselamatan semua orang.
Tugas kita sekarang adalah mengenali wahyu Allah dalam hidup harian. Artinya, kita memberi diri untuk menjadi saksi atas wahyu itu sendiri. Namun, janganlah kita berpikir yang terlalu ribet. Kalau kita sudah tahu mana yang baik menurut diri kita sendiri dan memang hal itu memberi nilai positif, maka di sanalah wahyu hidup dan memperkenalkan diri. Tentang wahyu Allah, bukanlah soal Allah berbicara khusus dengan kita melalui pengalaman mistik, tetapi bagaimana kita bisa memahami juga maksud baik setiap orang yang berelasi dengan kita.
Orang tersenyum bagi kita atau menyapa kita, maka di sana kita bisa menemukan wahyu Allah yang tersirat, yakni orang yang sendang tersenyum merupakan sosok yang dipakai Tuhan untuk menyampaikan pesan-Nya bahwa kita harus bahagia.
Ketika orang mengatakan, “Profisiat, ya,” maka kita harus melihat bahwa orang itu dipakai Tuhan untuk mewahyukan diri dalam menyampaikan kabar sukacita yang dirasakan pula oleh Tuhan saat kita berada dalam suasana bahagia atas keberhasilan kita.
Contoh lain, ketika orang mengatakan, “Yang sabar, ya, pasti masalah yang kamu alami ada jalan keluarnya. Tuhan tidak menutup mata-Nya atas segala perkara yang kamu alami.”
Lewat orang yang mengatakan seperti itu, kita sebenarnya disapa oleh wahyu Allah. Ingat! Kita adalah bait Allah, kenisah Roh Kudus, Gereja yang hidup. Artinya apa? ini yang perlu kita pahami bersama. Kenisah Roh Kudus dan Bait Allah (1Kor. 3:16), artinya Allah yang kita imani sedang berdiam dalam diri kita dan melakukan kehendak-Nya secara bebas dengan menggunakan suara hati yang ada dalam tubuh kita. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa setiap hari kita disapa oleh Dia yang kita agung-agungkan.
Kehadiran-Nya sungguh nyata dalam hidup harian kita. Ia terus-menerus mengirimkan orang-orang baik yang menyapa kita setiap hari. Ia menyampaikan wahyu lewat senyuman manis, sapaan “selamat”, atau sekadar “apa kabar”. Itulah arti wahyu yang sebenarnya.
Memahami wahyu secara sederhana memang kita bisa melihatnya dalam diri orang lain setiap hari. Selanjutnya, bagaimana jika kita yang berperan sebagai pelaku wahyu? Apakah kita mampu menjadi pembawa kabar sukacita? Apakah kita mampu mengatakan “profisiat” kepada orang lain? Apakah kita mampu mengatakan, “Yang sabar, ya”, kepada orang lain? Semuanya akan menjadi sempurna jika kita berhasil menerapkannya.
Lalu, bagaimana dalam karya perutusan (misalnya menjadi pemimpin ibadah, Misa, dipercaya membawakan homili, menjadi lektor atau pemazmur, dan seterusnya) ada wahyu kepada orang lain? Mengenai hal ini, Paus Fransiskus pada hari Minggu biasa yang ketiga (Sunday of the Word of God atau Hari Minggu Sabda Allah) mengatakan, “Para imam harus menyediakan waktu untuk mempersiapkan homili dengan baik karena melalui momen ini kita bisa menikmati indahnya firman Tuhan.”
Pesan ini jelas ditujukan kepada para imam, tetapi kita juga bisa memaknainya bahwa pesan yang sama ditujukan pula kepada kita sebagai pembaca bacaan suci, pembawa mazmur, atau petugas-petugas lain selain yang tentu saja membantu untuk melancarkan suatu proses kegiatan yang menjadi tugas bersama.
Dari pesan Bapa Suci yang menarik bagi saya adalah persiapan bahwa kita dituntut untuk menyediakan waktu dalam mempersiapkan segala sesuatu yang kita tangani. Tidak hanya dalam urusan firman Tuhan, dalam hal lain pun bisa menggunakan pesan itu.
Akhirnya, pemahaman tentang wahyu bukanlah semata tentang pengalaman mistik, tetapi bagaimana kita bisa mengenal wahyu Allah itu dalam pengalaman riil kita setiap hari. Selain itu, keindahan wahyu Allah tampak apabila kita sungguh-sungguh mempersiapkan diri dalam suatu tugas perutusan. Poin penting dalam hal ini adalah kita harus memberi diri secara totalitas, menyadari, serta merasakan setiap hal yang kita kita lakukan.
Martinus Dendo Ngara CSsR
Mahasiswa Filsafat Keilahian Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Image by katemangostar on Freepik













