Umat Katolik Larantuka dikenal dengan kuatnya devosi pada Bunda Maria. Hampir di semua keluarga terdapat patung atau gambar Bunda Maria. Tempo dulu, umumnya setiap orang memiliki kontas atau Rosario yang selalu dibawa dan disimpan di saku, dompet, atau dikalungkan di leher. Doa dan devosi kepada Bunda Maria sangat populer. Banyak perempuan mengawali namanya dengan Maria.
Dari ribuan patung dan ikon Maria lainnya, ada sebuah patung Mater Dolorosa, Bunda Berdukacita, yang oleh umat Kristiani di Larantuka disebut Tuan Ma. Kata “tuan” merupakan sapaan terhormat bagi bangsawan atau orang yang patut mendapat penghormatan untuk itu. “Ma” dari kata “mama”, ibu. Patung ini memiliki nilai historis, sosiokultural, dan tentunya religiositas. Patung ini beserta devosinya diwariskan secara turun-temurun sehingga memiliki nilai tradisional. Menariknya, Patung Tuan Ma yang ditakhta khusus dalam sebuah Kapela itu menjadi pusat perhatian dalam Masa Prapaskah dan Pekan Suci. Bahkan, pada hari Jumat Agung, patung ini akan diarak dalam suatu prosesi keliling Kota Larantuka.
Fenomena ini telah menuai debat teologis. Umat Larantuka dinilai Maria-sentris dan tidak Kristo-sentris. Apa pun kesimpulan debat itu, hingga saat ini kedudukan dan peran Tuan Ma di Larantuka enggan bergeser, sementara pewartaan iman Katolik dan Liturgi Gereja menunjukkan kemajuannya yang pesat.
Penasaran dengan fenomena ini, saya coba berbincang-bincang dengan tetua pewaris dan pelaku tradisi seperti suku Semana, Mama Muji, dan Confreria. Mereka juga tidak paham dengan gagasan teologis. Bagi mereka, itulah warisan leluhur yang mesti dilanjutkan, kalau perlu tak alpa dengan satu pun yang terjadi di masa lalu. Percakapan pun menukik lebih dalam pada peristiwa prosesi Jumat Agung. Mengapa orang begitu berpusat pada Tuan Ma, selain ada Peti Jenazah Yesus, dan Sakramen Mahakudus yang disertakan dalam prosesi itu?
Masyarakat punya alam pikiran tersendiri. Seperti yang sudah biasa dalam hajatan kematian, mereka tidak hanya meratapi jenazah, melainkan juga turut berduka dengan keluarga yang ditinggalkan. Orang meratap tidak hanya dikarenakan oleh musibah yang menimpa almarhum atau almarhumah, melainkan tergerak oleh duka dan ratapan keluarga, utamanya ibu. Mater Dolorosa, Bunda Berdukacita, itulah gelar yang disandang Tuan Ma Reinha Larantuka.
Menukik lebih dalam, hal ini berakar pada pandangan budaya masyarakat tentang kedudukan dan peran perempuan. Bagi masyarakat Melayu Larantuka yang mengalami penyuburan budaya Lamaholot, perempuan dipandang sebagai pokok pohon yang menumbuhkan tunas baru, Kayo Puken; mata air yang mengalirkan sungai kehidupan, wai matan. Budaya Lamaholot pun memiliki narasi suci, mite, yang mengisahkan peran perempuan yang rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan komunitas dari bencana. Tonu Wujo, perempuan legendaris yang ikhlas dirinya dicincang agar tumbuh tanaman pangan. Sabu Peni, perempuan yang rela dikawinkan dengan makhluk halus untuk mengatasi bencana kekeringan.
Seperti itulah orang Larantuka membatini perempuan sebagai sumber dan penyelamat kehidupan. Apakah karena itu, maka Tuan Ma mendapat tempat yang istimewa di hati umat Kristiani Larantuka? Tulisan ini tidak bertendensi menjawab pertanyaan itu. Yang jelas, budaya masyarakat turut menyuburkan faktor penyebab Tuan Ma menjadi unik dan istimewa di Larantuka. Bila Gereja Katolik pada abad pertengahan sangat memberi tempat pada santo, santa, dan pewartaan awal oleh Misionaris Dominikan dengan memperkenalkan Bunda Maria di Larantuka, maka kondisi sosiokultural telah turut menyuburkannya.
Foto: wikipedia.org













