Sr. Irene OP dan Sepatu yang Berjumpa Dua Paus

Feature643 Views

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua peristiwa terjadi karena kehendak Tuhan. Oleh karenanya, semua sudah terhubung. Hanya waktulah yang tidak bisa dipastikan, kapan akan terjadi.

Cerita ”kebetulan“ ini adalah kisah sepatu. Bukan sepatu Cinderela karya penulis Prancis, Charles Perrault pada tahun 1697. Ya, ini memang bukan kisah sepatu kaca, tetapi soal sepatu kulit buatan Utrecth, Belanda, brand-nya Bitter Classic Utrecht.

Cerita ini tentang Sr. Irene OP dan sepatunya. Ia adalah biarawati dari Kongregasi Suster Dominikan yang berkarya di Kedubes Vatikan atau Nunciatura di Jakarta. Nama Sr. Irene muncul dalam kisah bocah bernama Louis Emilio Agriveta Dosiwoda (Emilio) yang bertemu dan dicium Paus Fransiskus pada Jumat, 6 September 2024.

Sr. Irene OP mencium tangan Paus Fransiskus di Kedubes Takhta Suci untuk Indonesia (Nunciatur), Jakarta, Rabu (04/09/2024).

Sr. Irene inilah yang membawa masuk Emilio ke Nunciantura untuk bertemu Paus Fransiskus. Emilio menjadi satu-satunya anak atau orang yang bisa masuk Nunciatura tanpa daftar undangan dan sama sekali tidak dikenal.

Tentu, karena berkarya di situ, Sr. Irene OP juga berkesempatan beraudiensi dengan Paus Fransiskus. Ia juga melayani para tamu yang akan bertemu dengan Paus Fransiskus. Apakah kebetulan karena berkarya di Nunciatura lalu bertemu Paus Fransiskus? Lalu, apa hubungannya dengan sepatu kulit buatan Utrecht, Belanda?

Sr. Irene berkisah, selama melayani Paus Fransiskus, ia mengenakan sepatu bekas yang diberi seseorang pada 17 tahun silam. Berarti tahun 2007. Bukan sepatu baru, tetapi sepatu bekas. Si pemberi adalah mantan provinsial dari Kongregasi Para Suster St. Dominikus, Sr. Agnes Iswatini OP. Pada tahun itu, Sr. Agnes menjabat sebagai ekonom kongregasi. Suster kelahiran 27 Juli 1931 ini meninggal pada 03 April 2017 dalam usia 86 tahun.

”Ketika itu saya berada di ruang makan di biara para suster Dominikan di Maguwo, Yogyakarta. Kira-kira waktu itu pukul 10.00 pagi,“ demikian Sr. Irene mulai berkisah.

Pada saat itu dirinya sedang sendirian. Tiba-tiba Sr. Agnes, pimpinannya, datang ke ruang tersebut sambil membawa sepatu. Begitu bertemu, Sr. Agnes langsung memberikan kepadanya sepatu yang dibawa dan sambil berkata, ”Sr. Irene, saya kasih sepatu. Sepatu ini yang membawa saya ketemu Paus.”

Yang dimaksud Paus adalah Paus Johanes Paulus II, yang meninggal pada 2 April 2005. Pada 27 April 2014, paus ini mendapat gelar santo atau orang kudus dari Gereja Katolik. Ini merupakan penganugerahan gelar tercepat sepanjang sejarah Gereja Katolik Dunia.

Sepatu Bitter Classics Utrecht pemberian Sr. Agnes Iswatini OP kepada Sr. Irene OP pada tahun 2007.

“Saya menerima sepatu begitu saja tanpa berpikir apa-apa. Saya hanya menyampaikan terima kasih dan tidak ada pembicaraan lebih lanjut, kecuali peristiwa pemberian sepatu. Di hadapan Sr. Agnes, saya mencoba mengenakan sepatu itu. Sepatunya sangat bagus dan indah. Saya katakan, sepatunya pas sekali, Sr Agnes. Beliau tersenyum senang melihat sepatu pemberiannya memang cukup di kaki saya. Namun, yang menjadi pertanyaan, dari mana suster pimpinan tahu ukuran sepatu saya?“ kenang Sr. Irene yang waktu kejadian itu masih sebagai suster muda.

Mengingat pemberian sepatu itu memiliki makna khusus, Sr. Irene merasa sayang untuk memakainya. Meski demikian, sepatu itu selalu dibawa ke mana dirinya berkarya, pindah tempat ataupun pindah kota. Sepatu itu baru dipakai pada 25 Oktober 2018, ketika dirinya diwisuda dari PPM setelah menyelesaikan studi pascasarjana di bidang manajemen.

Pengalaman iman itu pun terjadi saat Paus Fransiskus berkunjung ke Indonesia. Ketika mendengar rencana Paus Fransiskus berkunjung ke Indonesia dan akan menginap di Nunciatura, dirinya tersadar dan terenyak, ternyata sepatu itu menjadi sebuah tanda. Tanda dirinya akan berjumpa dengan Paus Fransiskus sebagaimana Sr. Agnes OP bertemu dengan Paus Johanes Paulus II.

“Dalam suatu rapat bersama menjelang kunjungan Paus Fransiskus, kepada Dubes Vatikan untuk Indonesia (Nuncio), Mgr. Piero Pioppo, saya membuka rahasia yang saya pegang. Ya, tentang sepatu itu. Setelah mendengar cerita, Nuncio kemudian mengatakan, ‘You see, it revealed – tuh ‘kan, akhirnya terungkap misterinya.’ Oleh karenanya, Nuncio meminta saya menjadi yang pertama menyambut Paus Fransiskus ketika tiba di Nunciatura,” lanjut Sr. Irene.

Saat Paus Fransiskus tiba di Nunciatura, lalu apa yang terjadi? Sr Irene OP mengingat pimpinannya yang telah beristirahat panjang untuk selamanya. Kepada alm. Sr. Agnes OP, Sr Irene berucap dalam hati, “Terima kasih karena sepatu ini saya juga diantar bertemu dengan Paus (Fransiskus). Benar-benar rencana Tuhan, bahwa saya ditugaskan di Nunciatura.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *