Sindrom Babel di Era Digital

Refleksi atas Magnifica Humanitas

Bingkai249 Views

Pernahkah kita bertanya-tanya: mengapa kita harus waspada terhadap teknologi? Bukankah ia diciptakan untuk mempermudah hidup kita? Sejak dulu, teknologi terbukti membuat pekerjaan selesai lebih cepat, pencarian informasi menjadi lebih mudah, dan hidup terasa jauh lebih efisien.

Lalu, apa yang perlu dicemaskan? Bukankah teknologi adalah buatan manusia yang sepenuhnya berada di bawah kendali kita? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu wajar apabila dilontarkan kepada mereka yang gencar menyuarakan dampak buruk teknologi. Toh, teknologi hadir sebagai alat bantu. Jadi, mengapa harus kita tolak?

Keraguan kita terhadap kecemasan orang-orang tersebut memang tidak salah. Namun, mari kita coba amati bersama: apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik kekhawatiran mereka?

Jujur saja, saya adalah bagian dari mereka yang menyimpan kecemasan besar terhadap keberadaan teknologi di era modern. Kecemasan ini bukan karena ketakutan pragmatis seperti menjadi korban penipuan atau diskriminasi digital.

Lebih dari itu, saya takut jika teknologi perlahan-lahan membuat kita merasa setara dengan Tuhan. Sebuah kondisi di mana manusia mendewakan dirinya sendiri, dan keberadaan Tuhan akhirnya dianggap tidak lagi ada.

Hadirnya berbagai teknologi di era ini, rasa-rasanya manusia perlahan menempatkan dirinya sebagai pusat segala sesuatu (antroposentris). Dalam penciptaan teknologi, manusia merasa seolah-olah dunia berada dalam genggamannya.

Segala sesuatu diukur berdasarkan kemampuan teknologisnya, sementara nilai-nilai kemanusiaan, relasi dengan sesama, bahkan kesadaran akan Tuhan mulai tersingkirkan. Kesombongan manusia inilah yang menjadi tanda bahaya dari perkembangan teknologi.

Ketika teknologi tidak lagi digunakan untuk memuliakan Tuhan melainkan sebagai panggung pamer kekuatan, manusia sedang terjebak
dalam apa yang disebut Paus Leo XIV sebagai Sindrom Babel (Magnificat Humanitas art.10). Istilah ini bukan sekadar metafora, melainkan gambaran riil mengenai krisis spiritual masyarakat modern saat ini.

Potret manusia di era modern ini bagai cermin dari kisah Menara Babel ribuan tahun silam. Kala itu, menara megah dibangun bukan sebagai bentuk bakti untuk memuliakan Tuhan, melainkan demi meninggikan ego dan memamerkan kekuasaan mereka sendiri.

Menara yang dibangun pada zaman ini bukan lagi menara fisik seperti dalam kisah Babel, melainkan menara yang menjelma dalam bentuk teknologi. “Sindrom Babel” adalah istilah untuk mendiagnosis penyakit kesombongan kolektif manusia modern yang gejala-gejalanya persis seperti manusia Babel di Kejadian 11:1-9.

Penyakit ini tidak menyerang tubuh, tapi menggerogoti jiwa zaman ini lewat teknologi. Dalam melihat seperti apa model sindrom Babel ini, terlebih dahulu kita sama-sama memperdalam kisah Manara Babel.

Manara Babel (Kejadian 11:1-9)

Mari kita bertolak ke kisah Manara Babel!!

Kisah Menara Babel diawali dengan gambaran umat manusia yang pada waktu itu memiliki satu bahasa dan satu logat yang sama. Kisah ini muncul setelah peristiwa air bah (Kejadian 7:1–24).

Meskipun Allah telah menghukum kejahatan manusia melalui air bah dan memberikan kesempatan bagi umat manusia untuk memulai kehidupan yang baru, tetapi manusia tetap menunjukkan ketidaktaatan terhadap kehendak Allah.

Jika sebelumnya kejahatan manusia lebih tampak dalam tindakan moral yang menyimpang dari kehendak Allah, maka dalam kisah Menara Babel manusia mulai menunjukkan sikap yang lebih radikal, yakni keinginan untuk bersaing dengan Tuhan.

Sikap radikal tersebut muncul karena mereka masih memiliki satu bahasa dan satu logat (Kejadian 11:1). Bagi saya, saat sekelompok orang mempunyai bahasa dan logat yang sama, mereka cenderung memiliki cara berpikir yang serupa karena adanya saling pengertian satu sama lain. Konsep ini saya terima dari Ludwig Wittgenstein dalam karyanya, Philosophical Investigations, yang menyatakan bahwa “language is not agreement in opinions but in form of life” (bahasa bukan sekadar kesepakatan opini, melainkan sebuah bentuk kehidupan).

Kesatuan bahasa bukan  hanya alat komunikasi, melainkan simbol dari kesamaan cara berpikir, kehendak, dan cara pandang dunia. Alhasil, ketika seseorang dalam kelompok tersebut memiliki ambisi tertentu, gagasan itu akan lebih mudah diterima dan diikuti oleh yang lain, sehingga menciptakan kesatuan visi serta tindakan yang solid.

Kesatuan itu tampak jelas dalam perkataan mereka: “Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik” (Kejadian 11:3). Ajakan tersebut segera diterima dan dilaksanakan bersama-sama oleh seluruh manusia pada waktu itu. Tidak ada penolakan ataupun perbedaan pandangan.

Mereka bersatu dalam satu tujuan yang sama, yakni membangun menara yang menjulang tinggi sebagai simbol kekuatan dan kemuliaan manusia.
Mereka berkata, “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (Kejadian 11:4).

Pernyataan ini dapat dipahami sebagai bentuk pemberontakan kosmologis manusia terhadap Tuhan. Hal karena dalam pandangan dunia kuno, langit dipahami sebagai wilayah ilahi, tempat kediaman Tuhan atau para dewa, sedangkan bumi merupakan tempat hidup manusia.

Maka, keinginan manusia untuk membangun menara yang menjulang sampai ke langit menunjukkan usaha untuk melampaui batas kodratnya sebagai manusia.

Melalui pembangunan Menara Babel, manusia tidak lagi menerima dirinya sebagai ciptaan yang terbatas, tetapi ingin menyamai Tuhan dengan kekuatan dan usahanya sendiri.

Mereka berusaha menghapus batas antara yang ilahi dan yang manusiawi. Ambisi tersebut memperlihatkan kesombongan manusia yang ingin mencapai ranah ilahi tanpa bergantung kepada Tuhan. Selain itu, mereka juga berkata, “marilah kita cari nama.” Ungkapan ini menunjukkan ketakutan manusia akan keterpecahan, kehilangan identitas, dan ketidakberartian.

Mereka takut tercerai-berai dan dilupakan, sehingga memilih membangun identitas mereka sendiri melalui karya besar yang dapat dikenang oleh semua orang. Namun, tindakan ini sekaligus menunjukkan penolakan terhadap identitas yang berasal dari Tuhan.

Antroposentris menuju Transhumanisme

Kalau diperkirakan, kisah Menara Babel sedikit menonjolkan persoalan
antroposentrisme. Dalam Encyclopaedia Britannica, antroposentrisme didefinisikan sebagai philosophical viewpoint arguing that human beings are the central or most significant entities in the world (suatu pandangan filosofis yang menyatakan bahwa manusia adalah entitas yang
paling sentral atau paling penting di dunia).

Sementara itu, dalam anjuran apostolik Laudato Deum, Paus Fransiskus menjelaskan antroposentrisme dengan pendekatan yang lebih halus
melalui terminologi situated anthropocentrism, yaitu suatu pandangan yang memahami manusia sebagai makhluk yang berada dalam jejaring relasi dengan makhluk hidup lainnya dan dengan seluruh ciptaan (Laudato Deum, art. 67).

Meskipun memiliki penekanan yang berbeda, kedua definisi tersebut sama-sama menunjukkan cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat.

Gambaran antroposentrisme sebagaimana tertuang dalam kedua definisi tersebut tampak dalam kisah Menara Babel. Antroposentrisme dalam kisah ini terlihat ketika manusia berniat mendirikan sebuah menara yang tinggi untuk “mencari nama” bagi diri mereka sendiri agar tidak terserak ke seluruh bumi (Kej. 11:4).

Menariknya, pola serupa kembali bergema di era modern. Melalui pesatnya teknologi digital, antroposentrisme kini bertransformasi menjadi fenomena transhumanisme—sebuah upaya meningkatkan martabat dan kapasitas manusia lewat teknologi ciptaan mereka sendiri.

Hal ini ditegaskan dalam ensiklik Magnifica Humanitas art. 116 yang menyatakan: “In general, transhumanism envisions the enhancement of human beings through technologies — such as biomedicine, body engineering, devices and algorithms — with the aim of increasing performance and capabilities”
Pada zaman ini, manusia telah menciptakan berbagai teknologi canggih yang perkembangannya semakin pesat. Teknologi-teknologi tersebut bahkan dapat dianggap seolah-olah mampu menempatkan manusia pada posisi yang menyerupai Tuhan.

Kondisi ini muncul ketika manusia tidak lagi memusatkan pengetahuan dan orientasi hidupnya kepada Tuhan, melainkan kepada hasil ciptaannya sendiri. Berbagai teknologi yang ada saat ini menunjukkan kecenderungan tersebut, mulai dari teknologi yang dapat merusak alam, mengubah penampilan manusia, menyelesaikan pekerjaan tanpa banyak usaha, hingga pengembangan robot yang mampu menggantikan sebagian pekerjaan manusia.

Di satu sisi, teknologi-teknologi tersebut memang membawa kemudahan dan membantu manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, situasi ini juga menimbulkan pertanyaan reflektif: sampai kapan manusia akan bergantung pada kemampuannya sendiri? Apakah manusia tidak menyadari bahwa di balik setiap penemuan dan ciptaan tersebut terdapat anugerah Tuhan yang memungkinkan mereka untuk berpikir, berkarya, dan menciptakan teknologi itu sendiri?

Jalan Nehemia

Kita harus kembali pada kesadaran akan hakikat diri sebagai manusia yang rapuh. Melalui ensiklik Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV menawarkan “Jalan Nehemia” untuk menyadari kerapuhan manusia sebagai ciptaan Tuhan.

Kisah Nehemia memperlihatkan bagaimana bangsa Israel berada dalam situasi kehancuran total setelah masa pembuangan dari Babel (bdk. Nehemia 1:1-2).

Menghadapi kondisi tersebut, Nehemia menaruh seluruh harapannya kepada Tuhan melalui doa dan puasa. Ia memohon kepada Allah Yang
Mahabesar dan Dahsyat agar mengampuni dosa serta kesalahan bangsa Israel, sekaligus memohon agar Tuhan berkenan mendengarkan keluh kesah umat-Nya (bdk. Nehemia 1:6-11).

Melalui doa tersebut, Nehemia mengakui bahwa Allah Mahabesar dan Dahsyat melampaui segala sesuatu. Sebagai Yang Mahabesar, Allah menjadi sentral dari seluruh aspek hidup manusia, sehingga Dia pulalah yang menjadi solusi utama ketika bangsa Israel menghadapi kekacauan.

Saat situasi Yerusalem kacau, Nehemia memohon agar Allah memberikan belas kasihan untuk membantu mereka membangun kembali kota tersebut.

Memang dalam pelaksanaannya, pembangunan kota dilakukan secara gotong royong oleh seluruh keluarga, namun Allahlah yang terlebih dahulu membangunnya. Hal ini ditegaskan dalam Magnifica Humanitas artikel 8 yang menyatakan bahwa “It is an undertaking with God at the center, which rebuilds relationships before rebuilding with stones.”

Kutipan ini menunjukkan bahwa Allah menjadi pusat utama ketika bangsa Israel membangun kembali kota Yerusalem. Jika demikian, apakah kita di zaman modern ini akan merasakan hal yang sama seperti yang dialami oleh bangsa Israel pada zaman Nehemia?

Kisah Nehemia sesungguhnya menjadi jalan bagi kita untuk mengakui bahwa di balik perkembangan teknologi yang kita ciptakan, Allahlah yang terlebih dahulu menginisiasinya, bukan manusia.

Manusia pada hakikatnya hanya menjalankan apa yang telah Allah gagas. Di era yang serba modern dan digital ini, kita diajak untuk menyadari bahwa di tengah segala kemampuan yang kita miliki, tetap ada berbagai macam kerapuhan.

Kerapuhan tersebut menuntun kita pada kesadaran bahwa kita harus senantiasa bergantung kepada Allah, bukan kepada kekuatan diri kita
sendiri.

Yosef Gunawan
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *