Anak-anak adalah aset dunia yang akan menjadi penerus peradaban pada masa mendatang. Perkembangan zaman terus mendorong anak untuk mengenali dan membentuk pola pikir yang menjadi dasar bagi pertumbuhannya.
Namun, mari kita sedikit menoleh ke belakang tanpa melupakan yang sekarang. Realitas akan kehidupan anak-anak menjadi hal yang penting untuk diperhatikan; dari pola pikir, pergaulan, orientasi, sampai pada masalah-masalah yang terjadi.
Masa anak-anak adalah masa pengenalan terhadap dunia sehingga dapat dikatakan bahwa masa anak-anak adalah masa yang rentan atau rawan terhadap pengaruh-pengaruh eksternal maupun internal. Apalagi, tantangan dunia zaman sekarang semakin kompleks karena anak zaman sekarang hidup pada era digitalisasi dan modernisasi yang ditandai dengan revolusi teknologi atau AI.

Pengaruh teknologi dan era digital
Anak zaman ini sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dalam kehidupan yang menyediakan segala macam barang atau media. Kecenderungan tersebut membawa anak menjadi “kurang” dalam melakukan interaksi yang nyata.
Keterlibatan untuk menuju manusia yang “utuh” menjadi kurang karena segala pola hidup mereka pada akhirnya dibatasi oleh teknologi. Walaupun demikian, pada dasarnya teknologi sangat memberikan kemudahan bagi manusia dalam segala karyanya dan sudah tentu teknologi menjadi bagian dari perkembangan zaman. Jika demikian, akankah generasi muda seperti anak-anak menjadi “kehilangan masa anak-anaknya”?
Padahal, melewati masa anak-anak merupakan hal yang penting untuk menjadi fondasi atau dasar dalam mencari jati diri di masa yang akan datang. Secara garis besar, masa anak-anak haruslah dilalui dengan semestinya karena jangan sampai era teknologi membuat anak-anak menjadi ketergantungan sehingga mereka tidak mampu untuk mengontrol dirinya, malah sebaliknya, mereka yang dikendalikan oleh teknologi (Jurnal Perpustakaan Universitas Airlangga, 2021).
Data statistik pada tahun 2016 menunjukkan bahwa 100% pengguna media sosial atau internet adalah anak-anak dan remaja dengan rentang umur 10-14 tahun (CNN Indonesia, 2016). Hal ini membuktikan bahwa anak-anak telah mendominasi penggunaan teknologi berupa gawai dan sejenisnya.
Rata-rata, sebagian besar dari mereka hanya menggunakannya untuk mencari afeksi melalui sajian-sajian hiburan berupa video, gambar, game, dan lainnya. Padahal, data ini disajikan pada tahun 2016, lantas bagaimana dengan keadaan anak-anak di tahun 2024 ini?
Ya, bisa dikatakan bahwa anak zaman sekarang terbawa oleh arus FOMO dari teknologi berupa gawai. Mereka seakan menjadi lupa waktu dan lupa akan dunia sekitarnya, bahkan mereka lupa pada dirinya sendiri. Begitulah teknologi, menjadi pisau bermata dua sehingga perlu bijak dalam memanfaatkannya.
Kemerosotan sosial-karakter
Anak-anak membubuhkan harapan bagi setiap aspek kehidupan, misalnya saja seperti pemerintah yang secara eksplisit berharap bahwa anak zaman sekarang adalah benih-benih dari generasi emas pada tahun 2045.
Mungkin banyak anak yang berprestasi dari aspek akademik, kuantitatif, kompetitif, dan lainnya. Namun, bagaimana dengan sisi humaniora dalam kehidupan relasi yang sehat dan beradab?
Hal ini memunculkan tanggapan yang serius dari berbagai pihak seperti sekolah-sekolah yang selalu mengupayakan bahwa setiap anak tidak hanya cerdas dalam intelektual saja, melainkan mampu menjadi manusia yang berkarakter dan mampu memanusiakan manusia. Itulah yang terus dicita-citakan dan harus ditanamkan pada anak-anak usia dini.
Saat ini, anak-anak mengalami krisis karakter dan moral di era modernisasi dan digitalisasi. Padahal, pendidikan karakter ini sangat penting untuk memberikan pijakan pada anak-anak dalam menjalani kehidupannya di masa mendatang.
Pendidikan karakter bertujuan membentuk dan membangun pola pikir, sikap, dan perilaku peserta didik agar menjadi pribadi yang positif, berakhlak, berjiwa luhur, dan bertanggung jawab (Jurnal Pastoral Kateketik, 2020). Mungkin, dampaknya tidak akan secara langsung dirasakan layaknya belajar matematika atau ilmu-ilmu pasti lainnya, tetapi karakter memberikan dampak konvensional yang bersifat keberlanjutan dalam jangka yang panjang.

Peran Gereja dalam ruang lingkup Seminari Mertoyudan
Anak-anak yang hidup pada zaman sekarang atau biasa disebut era 4.0 sangat membutuhkan iman dan kepribadian Kristen agar dapat menghadapi dunia yang penuh dengan digital. Peran yang dewasa mestilah sangat perlu bagi mereka karena Kitab Hukum Kanonik (KHK) menyatakan bahwa yang belum dewasa, sebelum genap tujuh tahun, disebut kanak-kanak dan dianggap belum dapat bertanggungjawab atas tindakannya sendiri; non sui compos (KHK, 2006).
Seperti ajaran kasih yang terus diajarkan oleh Yesus, anak-anak juga perlu memahami hal-hal yang berbau kasih sejak dini. Rm. Benedictus Hari Juliawan, SJ (Provinsial SJ) dalam audiensinya saat rekoleksi di Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan mengatakan bahwa teknologi tidak mampu menggantikan setiap aspek personal dari pengalaman kasih yang dialami manusia.
Pemuda Seminari Mertoyudan adalah para manusia yang berorientasi sebagai calon imam masa depan. Dengan tiga pilarnya yaitu sanctitas, sanitas, dan scientia, Seminari Mertoyudan mampu berjalan mengiringi zaman ke zaman di era modern dengan segala perkembangan yang beriringan.
Melalui semangat dalam berpastoral, para seminaris diajak untuk mau membangun kebersamaan dan mewartakan kasih Allah di tengah anak-anak sehingga lembaga Seminari Mertoyudan mempunyai program pastoral berupa pengajaran PIA/PIR kepada anak-anak. Program ini sebagai bentuk formasi yang menjadikan seminaris mampu melakukan aksi dalam karya pasotral di kalangan anak muda terutama anak-anak.
Pendampingan iman anak merupakan pembinaan iman yang khusus diadakan bagi anak-anak dengan suasana persaudaraan, persahabatan, keakraban, gembira dan bebas tanpa kurikulum. Pembinaan iman anak berusaha menumbuhkan religiositas anak (More, Mering and Seratman, 2019).
PIA/ PIR merupakan kegiatan yang sangat perlu diperhatikan dengan segala bentuk metode dan pelaksanaannya. Para seminaris terutama kelas XII atau bisa disebut Medan Utama selalu digiatkan dengan pelaksanaan PIA/PIR. Dengan daya kreativitas seminaris, anak-anak masuk ke dalam atmosfer iman dalam suasana yang sesuai dengan konteks mereka.
Pemuda Seminari Mertoyudan menjadi pelopor dalam mengajarkan dan mewartakan kasih Allah sejak dini di kalangan anak-anak. Sama seperti semboyan Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Querere et Salvum Facere, mencari dan menyelamatkan, pendampingan iman anak yang dilakukan oleh pemuda seminari menjadi sarana bagi anak-anak untuk mau mengenal iman mereka dan mengalami cinta kasih Allah di tengah kesibukan dunia yang dinamis.
Tentu tidak mudah bagi mereka (seminaris) untuk bisa menyesuaikan diri dan menyesuaikan pendampingannya terhadap dinamika anak-anak karena bukan hanya segala bentuk kegiatan yang bersifat rekreatif saja, anak-anak pun juga sudah mendapatkan hal itu di luar sana dengan kekayaan sajian-sajian hiburan yang lebih menarik lainnya sehingga menjadi PR seminaris untuk tetap berjuang menciptakan iklim rohani dengan korelasi suasana yang afektif.
Vinsensius Rio Nugroho (Siswa Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan)








