Kekristenan tengah dilanda krisis iman di zaman sekarang, dapat dilihat dari banyaknya penurunan iman di benua barat dan naiknya masyarakat yang mengaku tidak menganut agama.
Walau penurunan agama tidak tergolong signifikan, tetapi bila terjadi penurunan secara berkala setiap tahunnya, maka agama terancam akan menjadi masa lalu saja.
Anak muda tentunya berperan dalam penurunan agama dengan cara mengaku sebagai beragama tetapi berperilaku tidak seperti yang diajarkan agama mereka. Oleh karena itu, generasi muda hendaknya mendalami agamanya dengan serius dan mengamalkannya dengan serius juga.
Bila melihat fenomena akhir-akhir ini, dapat dilihat bahwa generasi muda zaman sekarang tampak makin kehilangan iman. Hal ini dapat dilihat dari perilaku yang kerap kali tidak sesuai dengan nilai-nilai agama pada generasi muda zaman sekarang, menandakan bahwa nilai agama kurang tertanam pada diri mereka. Dengan maraknya media sosial dan globalisasi, nilai-nilai yang mengikis kukuhnya tembok agama pun terbawa ke seluruh dunia.
Di belahan bumi bagian barat, Kekristenan menjadi kultur utama di Eropa. Namun, Kekristenan telah mengalami penurunan yang dapat berkisar 19% sejak 1990 sampai pada 2020.
Di negara-negara Kristen yang Kekristenannya berpengaruh besar, dampaknya tidak begitu terasa. Namun, di negara-negara yang Kekristenan tidak terlalu berpengaruh, Kekristenan mengalami penurunan yang cukup drastis.
Amerika Serikat juga mengalami penurunan penganut agama Kristen sebanyak 12% dari tahun 2009-2019 menurut data yang diambil dari PEW Research. Banyak orang masih mengaku sebagai penganut agama Kristiani tetapi tidak semuanya mempraktikkan iman mereka.
Persenan median dari PEW research pada tahun 2017 menunjukkan bahwa hanya sedikit populasi dari negara-negara Eropa Barat yang masih menghadiri pelayanan di gereja secara rutin, kecuali pada kasus Italia yang persenan orang menghadiri upacara keagamaan sama dengan persenan orang tidak menghadiri upacara keagamaan (40%).
Dengan demikian, penganut agama Kristen yang tidak menghadiri upacara keagamaan mereka lebih besar daripada penganut Kristen yang taat untuk menjalani ibadah mereka kecuali pada kasus Italia.
Bukanlah hal yang biasa lagi bila ada gereja yang terbengkalai di daerah Eropa Utara, karena penurunan iman di sana adalah yang terbesar di antara negara-negara Eropa lainnya. Bahkan, populasi Kristen di Belanda mungkin hanya mencapai setengah lebih dari seluruh populasi negara.
Banyak gereja yang telah ditutup lalu dialihfungsikan menjadi restoran dan fasilitas lain karena jarangnya umat yang datang ke gereja dan merayakan ibadat di sana.
Sungguh ironis bahwa benua yang dulunya menjadi rumah bagi banyak misionaris, sekarang malah menjadi tempat yang agamanya malah berkurang dibandingkan dengan Asia yang terus mengalami peningkatan penganut agama Kristiani.
Dalam menghadapi peristiwa seperti sekarang ini, generasi muda memang diharapkan dapat memikul banyak beban, yaitu untuk memperdalam dan menjalankan imannya sesuai dengan yang diajarkan oleh agamanya.
Generasi muda zaman sekarang janganlah puas dengan posisi suam-suam kuku belaka. Karena kurangnya pemahaman iman di kalangan muda, maka mereka gampang berpaling bila ada suatu serangan yang datang ke arah iman mereka.
Di sinilah pentingnya kedalaman bagi para muda, kedalaman melahirkan pendirian yang kuat, pendirian yang kuat melahirkan sikap yang konsisten. Seperti yang dikatakan oleh Karl Rahner, orang Kristen perlu untuk menjadi mistik atau tidak beriman sama sekali, orang muda perlu meningkatkan literasi agama mereka.
Media sosial turut berperan dalam penyebaran ajaran yang menyerang iman, tetapi bukan berarti media sosial adalah akar masalah dari dekristenisasi masyarakat. Kitalah yang kurang memanfaatkan media sosial untuk memperdalam iman kita.
Hendaknya teknologi yang menjadi penyebaran ajaran antiiman juga digunakan untuk pengarahan jati diri kepada Tuhan oleh para anak muda, karena sebenarnya sudah banyak pengajar agama yang turun ke dalam media sosial.
Kendati media sosial dapat menjadi sarana para muda untuk memperdalam iman, tetapi lebih baik untuk memperdalam ajaran agama melalui dunia nyata lewat para katekis atau para pemimpin agama setempat.
Hal itu penting agar para muda dapat mempunyai relasi yang lebih dekat dengan komunitas iman, komunitas iman mampu untuk menguatkan para muda yang sedang mengalami pergulatan iman sesuai dengan konteks orang muda tersebut.
Masalah lainnya adalah adanya penganut agama yang imannya dalam tetapi dangkal dalam perbuatan. Salah satu penyebab tidak percayanya orang kepada agama adalah karena melihat orang yang menganut suatu agama melakukan sesuatu yang tidak sesuai yang dikatakannya.
Gereja telah banyak tidak dipercayai oleh karena banyaknya pelecehan dan tindak cela yang dilakukan oleh para pemimpin agamanya. Paus Fransiskus telah menuliskan di ensiklik Gaudium et Spes bahwa cacat cela orang beriman pun memperkeruh pandangan orang terhadap Gereja selain dosa-dosa yang dilakukan oleh Gereja.
Maka, orang muda sekarang entah itu awam atau religius diharapkan melakukan apa yang telah dipelajarinya dalam agama. Telah terbukti bahwa orang yang melakukan ajaran agama akan terlihat berbeda dari orang-orang pada umumnya, itulah yang menjadikan orang terpesona oleh suatu agama.
Salah satu ajaran iman Kristiani adalah menerima manusia apa adanya. Maka, sikap rasial janganlah ada dalam generasi muda yang sudah beriman. Di samping adanya perintah untuk menghormati manusia apa adanya, sikap rasialis dapat menyebabkan orang tidak percaya lagi pada agama tertentu.
Pada intinya, kedalaman iman dan kesetiaan untuk menjalankannya diperlukan dalam hidup anak muda. Kedalaman iman dapat menangkis banyak serangan yang ditunjukkan kepada iman mereka dan kesetiaan dalam menjalankan iman dapat menguatkan posisi agama dalam mata masyarakat.
Penurunan iman telah terjadi di negara-negara barat, tempat Kristen telah berkembang selama berabad-abad. Jangan sampai hal itu terjadi di negara kita ini hanya karena kurangnya perhatian kita terhadap iman kita sendiri maupun iman orang lain.
Leonardus Damas Adi Nugroho
Seminaris Tahun Keempat SMA Seminari Mertoyudan Magelang













