Mencintai Indonesia, Menjaga Keadaban Republik

Sarasehan Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI)

News120 Views

Jakarta. Dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas), Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) menggelar Sarasehan Nasional pada Sabtu, 24 Oktober 2026 di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Menteng, Jakarta Pusat, dengan tema “Mencintai Indonesia: Merawat Hikmat Kebijaksanaan, Menjaga Keadaban Republik”.

Serasehan yang dihadiri sekitar 100 orang baik peserta, tamu undangan dari beragam komunitas Katolik di Jakarta dan sekitarnya, menghadirkan narasumber Rm. Yohanes Kurnianto Jeharut, Pr atau Rm. Hans (Sekretaris Eksekutif Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia), Purnomo Yusgiantoro (Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi), Syafiq A. Mughni (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah), dan Alissa Wahid (Direktur Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia). Sarasehan diawali dengan keynote speech dari Kardinal Ignatius Suharyo (Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta).

“Negara Vatikan merupakan salah satu negara yang awal mengakui kemerdekaan Indonesia, karena desakan dari Mgr. Soegijapranata melalui surat yang dikirimkan kepada Bapa Paus,” ungkap Kardinal Ignatius Suharyo.

Ia menambahkan, “Sementara gurunya, yaitu Romo Van Lith, seorang Imam Yesuit dari Belanda yang berkarya di Muntilan, Jawa Tengah tahun 1897, pernah berkata bahwa semua orang tahu, kami para misionaris akan berdiri di antara yang dijajah dan menjajah. Namun, jika ada konflik, kami akan berdiri di pihak pribumi. Kecintaan para tokoh Katolik awal inilah yang menjadi warisan berharga bagi Gereja Katolik Indonesia untuk diteruskan oleh generasi sekarang.”

Semangat ini tertuang dalam seruan Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2026 yang menjelaskan tentang Gereja yang berjalan bersama merawat keadaban publik dan meneguhkan solidaritas kemanusiaan di Indonesia.

Sementara itu, Rm. Hans menjelaskan isi dari nota pastoral terdapat tiga bagian utama. Pertama, ucapan syukur dan terima kasih atas karya agung Allah di tengah bangsa dan Gereja Indonesia. Kedua, memaparkan krisis multidimensi yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Ketiga, berjalan bersama sebagai bangsa, merawat keadaban publik, dan meneguhkan solidaritas kemanusiaan.

Krisis multidimensi yang dialami bangsa Indonesia yaitu krisis nurani dan moral publik, kepemimpinan dan demokrasi, solidaritas dan kesatuan, ekonomi dan kebijakan, ekologi dan kemanusiaan, budaya dan identitas, serta generasi muda dan era digital.

Kardinal Ignatius Suharyo. Kecintaan para tokoh Katolik awal menjadi warisan berharga bagi Gereja Katolik Indonesia.

“Kemudian, dengan metode see (menganalisis), judge (refleksi), dan act (aksi), menentukan arah pastoral berikutnya yaitu penguatan kohesi sosial dengan memperkuat modal sosial dengan menciptakan ruang pertemuan lintas iman, budaya, dan sosial, membuat protokol safeguarding bagi anak dan orang dewasa, menginisiasi sekretariat Papua sebagai pusat penanganan krisis, serta reformasi pelayanan publik seperti sekolah dan rumah sakit Katolik,” papar Rm. Hans.

Arah seruan pastoral ini kemudian dilengkapi dengan pemaparan Purnomo Yusgiantoro yang menjelaskan visi Indonesia emas 2045, krisis multidimensi yang dialami masyarakat Indonesia seperti krisis ekonomi politik zaman Orde Baru (1965-1967), kejatuhan harga minyak dunia (1982-1986), krisis moneter dan reformasi Orde Baru (1997-1998), krisis harga minyak dunia dan keuangan digital (2007-2009), serta pandemi COVID-19 (2020-2022).

Menurut Purnomo Yusgiantoro, rencana aksi komprehensif seperti pembangunan karakter dengan pendidikan formal dan nonformal, membangun wawasan kebangsaan, harus dilakukan dengan berkolaborasi secara multipihak (pemerintah, akademisi, nongovernmental organization, media, dan dunia industri serta bisnis), serta afirmasi sumber daya seperti melalui kegiatan literasi, dan pengembangan kegiatan inovasi.

Kemudian, Syafiq A. Mughni menyampaikan bahwa Indonesia sedang mengalami defisit moral sehingga perlunya peran dari tokoh agama untuk turut membangun keadaban, dengan menjadikan agama sebagai fungsional, misal menginisiasi kegiatan fungsional yang mendorong toleransi dan keadilan bagi masyarakat.

Sementara itu, Alissa Wahid mengatakan peradaban manusia menghadapi tantangan ekologi terkait dengan lingkungan hidup, kompetensi kepemimpinan yang rendah, dan persoalan dengan intoleransi. “Ini mendorong kita untuk terus bergerak dengan cerdas dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia,” simpulnya.

Sarasehan yang dihadiri pengurus FMKI dan berbagai organisasi serta komunitas umat Katolik ini ditutup dengan ajakan untuk aktif memikirkan bangsa Indonesia.

Sejalan dengan ini, FMKI sebagai perkumpulan forum masyarakat Katolik Indonesia hadir sebagai rumah bersama masyarakat Katolik dalam berkarya bersama di bidang sosial, politik, kemasyarakatan sesuai Ajaran Sosial Gereja, Pancasila, dan Konstitusi Undang-undang Dasar 1945.

Lisa Esti Puji Hartanti & Basil Triharyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *