Kasus Eksploitasi Seksual Ibarat Ban Gembos

News1235 Views

Yogyakarta. Tuhan menciptakan manusia sebaik-baiknya melebihi ciptaan lain dengan memiliki akal dan budi. Terkadang manusia lalai akan hal tersebut, karena saat ini masih banyak peristiwa-peristiwa menyedihkan berkaitan dengan norma seperti pelecehan seksual, pembunuhan, penculikan, dan peristiwa-persitiwa lain.

Menanggapi hal ini, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta mengerti akan urgensi kaum muda dalam mencegah peristiwa-peristiwa tersebut. Oleh karena itu, pada Sabtu, 15 April 2023, Universitas Sanata Dharma mengadakan webinar dengan tema “Seksualitas Kaum Muda” untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kaum muda terkait tubuh dan seksualitas.

Seksualitas tidak hanya berkaitan dengan seks, tetapi juga sesuatu yang lebih luas baik secara sosial, kultural, psikologi, dan agama. Webinar ini membahas mengenai seksualitas dari sudut pandang teologi dan psikologi yang merupakan bagian dari mata kuliah filsafat moral dan teologi moral. Webinar ini mengundang dua pembicara yang kompeten, yaitu Sr. Inez FCJ dan Stella Vania.

Sr. Inez membahas mengenai teologi tubuh dari Paus Yohanes Paulus II. Sebelumnya, Sr. Inez juga memaparkan kasus-kasus modern slavery atau perbudakan modern pada tahun 2021 yang mencakup 49,6 juta orang mengalami perbudakan, 27,6 juta kerja paksa, dan 22 juta mengalami pernikahan paksa.

Dari 6,3 juta orang yang mengalami eksploitasi seksual tersebut, sebanyak 4,9 juta adalah perempuan dan anak. Oleh Paus Paulus Yohanes II, situasi tersebut disebut dengan sindrom ban gembos yang menggambarkan kurangnya kesadaran akan kasus-kasus serupa ibarat ban gembos yang tidak disadari oleh pemiliknya.

Sr. Inez: “Hormati tubuh sendiri dan orang lain.”

Sr. Inez mengungkapkan kasus-kasus tersebut dapat terjadi karena kurangnya pengenalan makna kebertubuhan seseorang. “Carut-marut akan kondisi yang disebut ban gembos itu tadi disebabkan karena orang tidak mengenal atau tidak memahami makna kebertubuhan kita. Jadi, kalau kita tidak mampu mengenali kebertubuhan kita, tidak mungkin kita mampu juga mengenali kebertubuhan orang lain. Teologi tubuh membahas mengenai hal itu,” ungkap Sr. Inez sembari mengajak peserta untuk senantiasa menghormati tubuhnya sendiri dan juga tubuh orang lain.

Selanjutnya, Stella Vania yang merupakan alumnus dari Universitas Sanata Dharma menjelaskan mengenai seksualitas kaum muda dari segi biologi dan psikologi. “Untuk menjelaskan mengenai seksualitas dapat menggunakan akronim SOGIESC. SO adalah sexual orientation atau orintasi seksual merupakan ketertarikan secara seksual terhadap orang lain. GIE atau gender identity and gender expression merupakan identitas gender dan ekspresi seperti tomboi atau feminin. SC atau sexual characteristic merupakan hal-hal yang secara biologi terdapat dalam fisik seseorang,” tutur Vania.

Vania: “Gunakan akronim SOGIESC untuk menjelaskan seksualitas.”

Selain itu, Vania juga memaparkan mengenai kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia. Ia mengungkapkan di awal tahun 2023 ini telah terjadi 3.830 kasus kekerasan seksual dan sebanyak 82,9% korban adalah perempuan.

“Perempuan memang lebih rentan menjadi korban, mau tidak mau kita harus mengakui hal tersebut,” tegas Vania. Ia juga menjelaskan tiga jenis kekerasan yang sering dialami dalam fase-fase remaja dan dewasa awal, yaitu kekerasan dalam pacaran, pelecehan seksual, dan cyber sexual harassment. Dampak mengenai kekerasan seksual dan bagaimana membangun relasi yang sehat turut juga dijelaskan oleh Vania dalam webinar tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *