Ketika Tanah Berubah, Gereja Dipanggil untuk Bertumbuh (1)

HPS 2026 Santo Petrus Warak: Merawat Pangan, Merawat Rumah Bersama, dan Meneruskan Kehidupan

Jendela89 Views

Ada sesuatu yang perlahan berubah di sekitar kita. Tanah yang dahulu ditanami padi, palawija, dan berbagai tanaman pangan, kini semakin banyak berdampingan dengan bangunan perumahan, tempat usaha, dan berbagai fasilitas kehidupan modern.

Jalan-jalan berkembang, permukiman meluas, dan wajah kawasan perlahan berganti. Perubahan itu sering kali dianggap sebagai tanda kemajuan.

Namun, di baliknya tersimpan pertanyaan yang tidak sederhana: ketika tanah semakin banyak digunakan untuk membangun, bagaimana manusia memastikan bahwa kehidupan yang tumbuh di atasnya tetap dapat berlanjut?

Kegelisahan itulah yang menjadi salah satu titik berangkat Perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2026 di Paroki Santo Petrus Warak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengangkat tema “Tanah yang Dihidupkan, Kehidupan yang Diteruskan”, perayaan ini tidak sekadar mengajak umat berbicara tentang makanan, hasil pertanian, atau persoalan ketersediaan pangan.

Lebih jauh, HPS menjadi ruang refleksi tentang hubungan manusia dengan tanah, perubahan sosial, keberlanjutan ekonomi keluarga, dan tanggung jawab iman terhadap rumah bersama.

Menurut Gregorius Decky Krishartedi, Penanggung Jawab Kegiatan, tema tersebut berangkat dari kegelisahan bersama terhadap perubahan lingkungan sosial di wilayah Santo Petrus Warak. Lahan pertanian yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat mulai berkurang dan berganti menjadi kawasan perumahan maupun tempat usaha.

Kegelisahan ini bukan semata-mata kerinduan romantis terhadap masa lalu. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana masyarakat akan mempertahankan kehidupan apabila ruang-ruang yang selama ini menopang kehidupan perlahan berubah fungsi? Bagaimana generasi berikutnya mengenal tanah sebagai sumber kehidupan jika pengalaman sehari-hari mereka semakin jauh dari aktivitas pertanian?

Pertanyaan tersebut membawa HPS keluar dari pengertian yang sempit. Pangan bukan hanya perkara apa yang tersaji di atas meja makan, melainkan juga tentang tanah tempat bahan makanan tumbuh, orang-orang yang mengolahnya, sistem ekonomi yang menopangnya, dan kebudayaan yang diwariskan melalui hubungan manusia dengan alam.

Pelatihan UMKM bersama Yovita Imaculata Lucky Astuti Hapy Ria (pemilik Sirikit Catering).
Tanah bukan sekadar ruang yang dapat diperjualbelikan 

Dalam perspektif sosiologi perkotaan, perubahan wajah Warak dapat dibaca melaluii the production of space atau produksi ruang. Ruang bukan sekadar tempat kosong yang secara alamiah tersedia untuk ditempati. Ruang selalu dibentuk oleh hubungan sosial, kepentingan ekonomi, kebijakan, kebudayaan, serta praktik kehidupan sehari-hari.

Artinya, perubahan lahan pertanian menjadi perumahan bukan hanya perubahan fisik dari sawah menjadi bangunan. Perubahan itu juga membawa perubahan cara manusia bekerja, berinteraksi, memperoleh penghasilan, membangun relasi sosial, bahkan memahami lingkungan tempat tinggalnya.

Sawah, misalnya, bukan hanya bidang tanah yang menghasilkan beras. Di dalamnya terdapat jaringan hubungan antara petani, pemilik lahan, buruh tani, pedagang, keluarga, tradisi, dan pengetahuan lokal.

Ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan, yang berubah bukan hanya bentang alam, melainkan juga sebagian jaringan kehidupan yang sebelumnya tumbuh di atasnya.

Di sinilah pertanyaan HPS memperoleh kedalaman sosialnya. Apakah kemajuan selalu berarti semakin banyak bangunan berdiri? Ataukah kemajuan juga harus diukur dari kemampuan sebuah masyarakat mempertahankan sumber kehidupannya?

Kita melihat bahwa ruang memiliki dimensi ekonomi sekaligus pengalaman hidup. Sebuah wilayah dapat mengalami peningkatan nilai properti, tetapi pada saat bersamaan kehilangan sebagian fungsi sosial dan ekologisnya.

Kemajuan yang hanya dihitung berdasarkan nilai jual tanah berisiko mengabaikan nilai lain yang tidak mudah dimasukkan ke dalam transaksi ekonomi.

Karena itu, merawat tanah bukan berarti menolak pembangunan. Masyarakat tetap membutuhkan rumah, fasilitas pendidikan, pekerjaan, dan ruang usaha. Persoalannya, bagaimana pembangunan berlangsung tanpa memutus hubungan manusia dengan sumber kehidupan dan tanpa mengorbankan kepentingan generasi mendatang.

Lomba memasak umbi.
Membaca perubahan, bukan sekadar meratapi masa lalu

Perubahan sosial tidak pernah berlangsung dalam ruang hampa. Ada kebutuhan ekonomi keluarga, pertumbuhan penduduk, perubahan pekerjaan, mobilitas masyarakat, serta berkembangnya orientasi hidup baru. Karena itu, respons terhadap perubahan tidak cukup hanya dengan mengajak masyarakat kembali kepada kehidupan masa lalu.

Dalam konteks Warak, perubahan penggunaan lahan dipengaruhi oleh struktur ekonomi yang lebih luas. Harga tanah, kebutuhan perumahan, peluang usaha, dan perubahan mata pencaharian ikut membentuk keputusan masyarakat.

Namun, masyarakat bukan sekadar objek yang menerima perubahan tersebut. Mereka tetap memiliki kemampuan untuk menentukan bagaimana kehidupan bersama hendak dibangun.

Di sinilah Gereja memiliki ruang keterlibatan yang penting. Gereja tidak harus mengambil posisi sebagai pihak yang menghakimi setiap perubahan. Sebaliknya, Gereja dapat menjadi ruang perjumpaan untuk membantu masyarakat membaca persoalan, memperkuat kapasitas, membangun solidaritas, dan menemukan pilihan-pilihan yang lebih berkelanjutan.

HPS 2026 mencoba menjawab panggilan itu melalui serangkaian kegiatan yang menghubungkan kesadaran ekologis dengan penguatan kehidupan ekonomi masyarakat.

Pada 3 Oktober 2026, dalam rangka Hari Pangan Sedunia, Gereja Santo Petrus Warak menyelenggarakan pelatihan UMKM di Gedung Serbaguna Santo Petrus Warak. Kegiatan yang diikuti 24 pelaku UMKM dari umat paroki tersebut menghadirkan Yovita Imaculata Lucky Astuti Hapy Ria, pemilik Sirikit Catering dan Kapulaga Wedding Planner.

Pelatihan ini membahas sejumlah persoalan praktis yang dihadapi pelaku usaha kecil, mulai dari membangun identitas dan branding produk, memanfaatkan WhatsApp sebagai sarana pemasaran, melakukan riset produk, memahami kebutuhan konsumen, membangun pelanggan agar melakukan pembelian berulang, hingga mengelola pencatatan keuangan dan memisahkan keuangan pribadi dari keuangan usaha.

Salah satu pesan yang mengemuka adalah: “Jadilah UMKM yang sehat, walaupun kecil.”

Pesan sederhana tersebut mengandung makna yang cukup mendalam. Usaha kecil tidak harus menunggu menjadi besar untuk disebut berhasil. Kemampuan mengelola keuangan, menjaga kualitas produk, memahami konsumen, dan mempertahankan keberlangsungan usaha merupakan bagian penting dari kemandirian ekonomi keluarga.

Dalam konteks perubahan sosial Warak, penguatan UMKM dapat dipahami sebagai usaha memperkuat agensi masyarakat. Ketika sebagian ruang pertanian berkurang dan mata pencaharian mengalami perubahan, masyarakat membutuhkan keterampilan baru agar tetap mampu menghidupi keluarga.

Namun, penting pula untuk tidak menyederhanakan persoalan. UMKM bukan pengganti sempurna bagi lahan pertanian yang hilang. Keduanya mempunyai fungsi berbeda. Pelatihan usaha kecil merupakan salah satu jalan untuk memperkuat ketahanan ekonomi, sementara keberlanjutan lahan produktif tetap membutuhkan perhatian tersendiri.

Dengan demikian, HPS tidak sedang mempertentangkan pertanian dengan kegiatan ekonomi modern. Yang hendak dibangun adalah kesadaran bahwa setiap aktivitas ekonomi seharusnya tetap memperhatikan keberlanjutan kehidupan.

Hans Salvatore

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *