Kaum Muda, Modal Mendukung Karya Gereja

Pelita716 Views

“Kita tidak menginginkan Gereja yang akan bergerak bersama dunia. Kita menginginkan sebuah Gereja yang akan menggerakkan dunia” – GK Chesterton. Gereja memerlukan penerus penggeraknya dari zaman ke zaman.

Indonesia akan mengalami suatu fenomena, yaitu bonus demografi. Kaum muda yang menjadi aset bagi Gereja, mampukah meneruskan karya Gereja yang harus terus berjalan? Perlahan-lahan kaum muda harus dibina dalam meneruskan karya pelayanan Gereja. Konkretnya dari yang sangat sederhana adalah pembinaan untuk misdinar di setiap paroki.

Sayangnya, Gereja juga bersaing dengan dunia yang berada di luar Gereja, yang dirasa lebih menarik perhatian kaum muda. Gereja harus memahami identitas kaum muda secara tepat, belajar mengenali karakteristik dan keunikan mereka dalam pengaruh budaya zaman, serta menanamkan paradigma teologis yang tepat di dalam menumbuhkan spiritualitas kaum muda.

Tidak hanya itu, tetapi dari kaum muda juga harus memiliki ketertarikan dalam karya menggereja. Akan sulit apabila hanya Gereja yang mencari tahu mengenai kaum muda, tetapi tidak ada timbal balik dari kaum muda. Oleh sebab itu, Gereja perlu lebih inovatif dalam merancang karya Gereja yang bisa dilirik oleh kaum muda.

Zaman saat ini membawa kaum muda berada di budaya postmodern yang memiliki beberapa nilai utama, salah satunya adalah altruistic. Altruistic merupakan sifat tidak egoistis yang memberikan perhatian besar, seperti aksi sosial, kemanusiaan, dan persahabatan. Modal yang baik ini dapat dikembangkan oleh Gereja bahwa kaum muda memiliki nilai tersebut.

Hanya saja, Gereja perlu menarik perhatian kaum muda sehingga nilai tersebut dapat diterapkan di dalam karya Gereja. Karya Gereja bisa menjadi sarana bagi kaum muda untuk menuangkan kekreativitas dalam dirinya. Gereja dapat memberikan ruang khusus bagi kaum muda untuk menjalankan karya Gereja, mulai dari setiap lingkungan atau bisa saja langsung di lingkup paroki sehingga kaum muda merasa bahwa diri mereka diperhatikan.

Budaya postmodern menjunjung tinggi autentisitas. Semangat menjadi autentik terdorong karena ingin memperlihatkan dirinya di lingkungan sekitar. Akan tetapi, menjadi autentik dalam spiritualitas kekristenan adalah tidak menjadi pribadi yang palsu dan hidup apa adanya.

Kaum muda adalah fase seseorang sedang mencari jati diri sehingga mereka memerlukan pengakuan dari sekitar untuk merasa hidup. Gereja bisa memanfaatkan hal tersebut sebagai ajang untuk menarik perhatian dari kaum muda. Postmodernisme menghasilkan dampak terekspresi dalam budaya yang dekat dengan kaum muda. Gereja bisa mengadopsi nilai postmodern dan mengolahnya secara kreatif untuk bisa memengaruhi pola pikir kaum muda.

Gereja dapat mengadakan suatu acara untuk membuka wawasan kaum muda mengenai karya Gereja yang dikemas dengan unik. Membuka kesempatan bagi kaum muda terlibat dalam karya Gereja yang dirasa sesuai dengan kaum muda. Nantinya, kaum muda akan berlomba-lomba untuk menghasilkan suatu karya, karena kaum muda memerlukan pengakuan yang menumbuhkan jati diri mereka. Dengan bergabung di dalam karya Gereja, kaum muda merasa bahwa dirinya mendapat kepuasan dan pengakuan.

Menjadi pelayan muda tidak hanya akan mendapat relasi atau pengakuan, tetapi juga akan menambahkan spritualitas kaum muda. Homili tidak menjadi sumber utama bagi kaum muda merasakan penambahan spritualitas, tetapi dengan melakukan kegiatan langsung dalam karya Gereja, kaum muda akan lebih tersentuh dan merasakannya.

Sudah waktunya bagi Gereja untuk memberi rasa percaya kepada kaum muda dalam mengolah karya Gereja, supaya apa yang dikeluarkan oleh Gereja juga dapat lebih menarik dan tidak cenderung monoton.

Apabila kaum muda tidak memiliki ketertarikan dalam karya Gereja, maka akan bahaya bagi masa depan Gereja yang dipegang oleh kaum muda. Memang, tantangan utama Gereja saat ini adalah bagaimana kaum muda dapat memiliki ketertarikan khusus dalam hidup menggereja atau karya Gereja. Organisasi kaum muda atau yang biasa didengar OMK (Orang Muda Katolik) sudah mulai memudar di setiap paroki.

Gereja memang memerlukan inovasi untuk karya Gereja yang dimiliki oleh kaum muda melalui kekreativitasannya. Akan tetapi, Gereja tetap harus selektif dalam mengolah karya Gereja yang diolah oleh kaum muda.

Pelayanan kaum muda memang bisa inovatif, tetapi tetap harus berorientasi pada spiritualitas kaum muda. Momen tersebut juga menjadi sarana yang timbal balik antara Gereja dan kaum muda. Sampai kapan pun Gereja masih tetap memerlukan adanya generasi baru atau kaum muda untuk terus mewariskan ajaran Tuhan.

Oleh sebab itu, Gereja juga harus bisa menumbuhkan spritualitas kaum muda melalui karya Gereja yang dirancang oleh kaum muda. Kaum muda mengerti apa yang diinginkan kaum muda sekitarnya, maka dengan karya Gereja yang dirancang oleh kaum muda sekiranya dapat menumbuhkan spiritualitas kaum muda yang menerima karya Gereja tersebut. Dengan begitu, akan ada regenerasi di setiap masa karena kaum muda memiliki spiritualitas yang dibangun berdasarkan kenyataan dalam hidupnya.

Bonus demografi menjadi salah satu aset bagi Gereja dalam mempersiapkan wadah bagi kaum muda untuk bisa tertarik dalam karya Gereja. Indonesia akan mengalami peningkatan 68% untuk menerima bonus demografi. Momentum tersebut menjadi kesempatan Gereja untuk membuka ruang sebaik mungkin dalam karya Gereja bagi kaum muda.

Kaum muda harus terlibat aktif dalam pelaksanaan karya Gereja karena kaum muda adalah masa depan Gereja. Gereja tidak bisa terlepas dari kaum muda yang berperan dalam terus mewartakan pengajaran akan Tuhan Yesus. Tantangan memang nyata dirasakan oleh Gereja, tetapi saya merasa bahwa kaum muda saat ini masih memiliki keterikatan dalam Gereja. Kaum muda hanya belum merasakan ruang yang diberikan oleh Gereja.

Patrisius Widi Nugraha (seminaris tahun keempat Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *