Inspirasi dari Bukit Kecil yang Damai di Menoreh

Papan Tulis1418 Views

Belum lama ini, para mahasiswa School Management and Leadership, Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (SML MM USD) berkesempatan mengunjungi SD Kanisius Kenalan, Magelang, Jawa Tengah dalam rangka mata kuliah Kewirausahaan Sosial yang diampu Rm. Antonius Sumarwan, SJ.

Kedatangan para mahasiswa disambut dengan penampilan kesenian khas SD Kanisius Kenalan, yaitu Blekothek, sebuah pertunjukan musik ritmis yang memanfaatkan perkakas rumah bekas sebagai alatnya.

Setelah pertunjukan, para mahasiswa disambut oleh Presiden Republik Anak Kenalan dan diberi waktu istirahat sejenak serta menikmati makanan ringan khas Menoreh sambil berkeliling dan melihat lingkungan SD Kanisius Kenalan yang meskipun tidak besar, tetapi penuh dengan tanaman dan hasil karya anak yang ditata dengan baik, rapi, dan memiliki suasana sejuk dengan pemandangan lima gunung di sekitarnya.

Setelah beristirahat sejenak, para mahasiswa dibawa masuk ke ruang pertemuan “Kanthong Bolong” untuk berdiskusi terkait kewirausahaan sosial yang dilakukan di SD Kanisius Kenalan.

Setelah berkenalan secara singkat, Yosef Onesimus Maryono selaku Kepala SD Kanisius Kenalan menceritakan situasi dan kondisi di SD Kanisius Kenalan, awal berdirinya, proses perpindahan lokasi sekolah, dan pergumulan-pergumulan yang dihadapi oleh sekolah.

Meskipun sudah dikenal bahkan diakui oleh UNESCO Asia Pacific sebagai salah satu sekolah yang dianggap sebagai sekolah yang menawarkan solusi global pendidikan, Simus dengan rendah hati menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh SD Kanisius Kenalan hanyalah buah dari keprihatinan sekolah terhadap kondisi masyarakat perbukitan Menoreh yang secara perlahan mulai abai dengan kondisi lingkungan dan budaya di sana.

Mereka memulai dengan berbagai kegiatan tematik terkait pelestarian lingkungan hidup, budaya, dan religi sampai membentuk komunitas anak yang kini dikenal sebagai Republik Anak Kenalan. Selain itu, sekolah juga turut menghidupkan geliat masyarakat dengan berbagai kegiatan seperti Slawatan Katolik, napak tilas Barnabas Sarikromo, sampai penggaduhan kambing dan yang terkini melalui koperasi. Dampak kegiatan-kegiatan ini juga cukup luas, mengingat SD Kanisius Kenalan memiliki jejaring yang sangat kuat.

Ditambahkan Nur Cahyo selaku Ketua Komite SD Kanisius Kenalan, orang tua dan masyarakat juga sangat mendukung kegiatan-kegiatan SD Kanisius Kenalan. Berawal dari keprihatinan untuk bisa menghidupi sekolah secara mandiri, Komite memulai dengan program penggaduhan kambing, yakni sekolah menitipkan kambing kepada orang tua murid, yang harapannya, kambing ini dipelihara oleh orang tua kemudian hasil pemeliharaan ini dapat menghasilkan keuntungan yang berkontribusi untuk kemandirian sekolah.

SD Kanisius Kenalan menyikapi kegagalan dengan sangat bijak dan tetap move on untuk terus berproses.

Sayangnya, program ini tidak berjalan dengan baik dan hanya “bak-buk” atau sekadar mengembalikan modal. Meskipun terhitung gagal, tetapi hal ini tidak disesali oleh sekolah karena proses mengalami dan gagal ini menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat.

Ini sungguh mengagetkan para mahasiswa karena SD Kanisius Kenalan menyikapi kegagalan dengan sangat bijak dan tetap move on untuk terus berproses. Kegagalan penggaduhan kambing ini tidak lantas menyurutkan semangat SD Kanisius Kenalan, tetapi justru melahirkan program baru melalui koperasi.

Koperasi yang dimulai sejak 2019 ini berkembang dengan cukup pesat dengan anggota yang tidak hanya terbatas pada masyarakat Perbukitan Menoreh, bahkan dari berbagai daerah lain di Indonesia. Koperasi ini secara perlahan mampu membantu memberdayakan masyarakat sekitar melalui kepengurusan dan kegiatan simpan pinjam, juga dapat membantu SD Kanisius Kenalan secara finansial.

Rm. Antonius Padua Danang Bramasti, SJ selaku Kepala Yayasan Kanisius Cabang Magelang menegaskan bahwa sekolah-sekolah Kanisius Magelang berproses untuk menjadi sekolah dengan pembelajaran yang kreatif berbasis konteks melalui Project Based Learning dengan 4 Standar, yaitu Akademik, Artistik, Ekonomik, dan Sosial.

Secara singkat bisa dijelaskan bahwa pendidikan di Kanisius Magelang wajib memiliki nilai-nilai akademik (karya ilmiah, karya tulis, dan lain-lain), harus ditampilkan pula dalam karya artistik (drama, puisi, pementasan, dan lain-lain) yang diharapkan dapat menghidupi kegiatan tersebut (memberikan hasil ekonomi kepada sekolah), dan berdampak bagi masyarakat dan lingkungan (sosial).

Pertemuan ini menjadi pengalaman yang sangat baik bagi para mahasiswa SML MM USD untuk melihat bagaimana ilmu yang dipelajari diaktualisasikan dalam dunia pendidikan secara nyata, khususnya berdasarkan pengalaman dari SD Kanisius Kenalan dan menjadi inspirasi bagi para mahasiswa untuk dapat terus menjadi pendidik yang transformatif dan berdaya ubah untuk unit kerja masing-masing demi terwujudnya pendidikan, khususnya pendidikan di sekolah Katolik, menjadi pendidikan yang bermakna bagi semua.

Yoseph Bambang Sulistyanto Triyono, M.Pd. (Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *