Iklim Pendidikan Hendaknya Penuh Kehangatan

Papan Tulis593 Views

Dr. Erich Fromm, seorang ahli pendidikan, mengemukakan bahwa pendidikan adalah sarana untuk memanusiakan manusia. Kecenderungan pola pendidikan di Indonesia saat ini terlalu berfokus membentuk pribadi siap bekerja, “manusia industri”.

Kecenderungan ini membentuk iklim pendidikan dengan nuansa dominan hanya mengejar nilai. Padahal, keutuhan karakter juga menjadi fondasi dalam menentukan karier di masa depan.

Banyak faktor menyebabkan buruknya kualitas pendidikan di negara kita. Namun, penggunaan metode belajar dan sistem manajemen sekolah yang tidak mampu beradaptasi dengan tantangan zaman menjadi salah satu akar permasalahan.

Sering kali dijumpai bentuk soal pilihan ganda yang membatasi daya berpikir dan kekritisan peserta didik dalam memandang suatu persoalan. Bentuk soal semacam ini hanya menekankan segi praktis dan mudahnya saja sehingga terjadi kecenderungan untuk bersikap malas.

Selain itu, relasi antara tenaga pendidik dan peserta didik masih hanya sekadar guru dan murid, padahal pendidikan yang utuh memerlukan relasi afektif dalam pembelajaran. Manajemen sekolah yang kurang baik terkadang terlalu menyepelekan hal teknis yang membuat formasi berjalan ugal-ugalan.

Gereja Katolik dalam ensiklik Gravissimum Educationis art. 2 menjelaskan bahwa tujuan pendidikan untuk membentuk pribadi yang dapat berpartisipasi dalam masyarakat demi mewujudkan kesejahteraan bersama. Pada artikel-artikel selanjutnya, Gereja menempatkan secara istimewa orang tua dan keluarga sebagai “sekolah” yang pertama dan utama.

Peranan ini terus berlanjut dan tidak bisa digantikan oleh institusi pendidikan mana pun. Selain itu, Gereja juga membuka diri dan memberi bantuan dengan kehadiran sekolah-sekolah Katolik untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Metode pendidikan yang mengintegralkan kompetensi, hati nurani, berbela rasa, dan komitmen, dalam dunia pendidikan biasa disebut dengan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR). Relasi pembelajaran akan memiliki siklus yang afektif bila meliputi konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi.

Tenaga pendidik, peserta didik, dan wali murid menjadi subjek pelaksana pendidikan yang saling mendengarkan dan terbuka. Upaya ini membuahkan evaluasi pendidikan yang berkelanjutan ke arah yang lebih baik.

Kompetensi merupakan aspek pendidikan yang mengembangkan pengetahuan kognitif. Kompetensi dapat terasah melalui transfer materi di kelas maupun usaha belajar mandiri dengan kemudahan literasi dari teknologi.

Pada Taksonomi Bloom, menghafal menjadi dasar pendidikan yang paling rendah tetapi mengambil porsi paling besar. Sedangkan pada teori tersebut, mencipta menjadi tingkatan tertinggi tetapi dengan porsi yang paling kecil.

Teori ini selaras dengan pandangan belajar yang dikemukakan oleh Plato dan Aristoteles. Mereka mengemukakan bahwa formasi pendidikan harus menekankan dialektika yang berarti mendukung terjadinya diskusi dan debat untuk mencapai suatu pemahaman yang dalam serta benar. Kompetensi akan semakin mendalam dengan adanya discovery learning yang meliputi meaningful and rote learning, melalui observasi sosial, pertimbangan, dan aksi.

Hati nurani yang benar merupakan kemampuan afektif untuk menentukan pilihan-pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral dari kompetensi yang diperoleh. Pada bagian ini pendidikan selaras dengan social learning theory bahwa manusia belajar tidak melulu dengan cara mengamati tetapi juga dengan meniru dan memperteguh hasil pengamatannya.

Dinamika belajar berlangsung dengan mengamati termasuk lewat imajinasi yang terarah. Hati nurani menjadi pedomana bertingkah laku terhadap komunitas beserta risiko yang mengikut. Pada taraf pendidikan ini diharapkan pelajar dan tenaga pendidik mampu menata tingkah lakunya berdasarkan pertimbangan atas berbagai konsekuensi yang bisa dibayangkan sendiri.

Berbela rasa menjadi kemampuan psikomotorik dan kemauan untuk mengembangkan bakat serta kemampuan sepanjang hidup yang disertai dengan motivasi untuk menggunakannya demi sesama. Pendidikan memiliki unsur behavioristik, yaitu proses belajar yang termanifestasikan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang selaras dengan nilai pendidikan.

Namun, kita sadari bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk tingkah laku maupun habitus. Peranan sekolah berupaya menciptakan lingkungan pendidikan kekeluargaan sehingga memampukan generasi muda mengingat dan menjadikan bagian dari kebiasaan bentuk-bentuk tingkah laku yang diikuti.

Pengulangan pengetahuan dengan aksi konkret dan persiapan yang matang sangat menentukan hasil belajar. Di lain sisi, pemberian apresiasi menjadi hal penting atas pencapaian siswa atas kerja kerasnya.

Komitmen menjadi ikatan prinsip diri yang memperjuangkan semangat berbela rasa pendidikan dalam aktualisasi pada hidup harian. Ilmu yang didapatkan pada formasi pendidikan tidak berakhir pada sebuah penilaian. Namun, menjadi semangat hidup yang terus digeluti dengan modifikasi dari ilmu-ilmu yang terus berkembang.

Ilmu pengetahuan menuntut adanya aksi nyata sehingga membantu mengubah pola berpikir menjadi lebih mendalam dan benar. Keseluruhan proses belajar ini terjalin secara integratif dan seimbang menghasilkan pribadi yang utuh secara intelektual dan humaniora.

Sudah saatnya dunia pendidikan Indonesia mulai memperbarui diri dengan pendidikan yang mengutamakan nilai kompetensi, hati nurani, berbela rasa, dan komitmen. Keempat nilai ini membantu kita untuk lebih memahami pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia.

Tidak ada kata terlambat karena dibandingkan dengan negara-negara lain, usia negara kita masih terhitung muda. Seluruh lapisan masyarakat diajak untuk menjadi pelaku pendidikan, baik secara informal dan formal.

Iklim yang dihadirkan dalam dunia pendidikan hendaknya dipenuhi kehangatan sebagai keluarga yang saling mengembangkan. Peran pemerintah juga dituntut lebih untuk menciptakan instrumen-instrumen pendukung dengan modifikasi dari negara lain. Semangat kekeluargaan yang dilengkapi dengan nilai-nilai kemanusiaan mampu menyelaraskan cita-cita bangsa dengan tantangan zaman saat ini.

Pendidikan bukanlah dunia yang kaku dan dingin, tetapi menjadi media yang menghadirkan cinta dan harapan. Tantangan zaman ini sudah sangat kompleks sehingga tidak bisa diselesaikan dengan metode yang usang. Masalah kemanusiaan, ekonomi, dan budaya menjadi perkara yang tidak berkesudahan meskipun berkali-kali dilakukan pemeriksaan.

Banyak negara yang telah membuktikan untuk mengatasi masalah-masalh pelik tersebut. Pendidikan ternyata menjadi senjata yang ampuh. Pada realitasnya, memang tidak semudah pada teori. Namun, dengan semangat dan pengharapan, semua menjadi mungkin untuk diperjuangkan.

Michael Bryan Ardhitama (Seminaris KPA 110, Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *