Ekaristi Kaum Muda, Pewartaan bagi “Jantung Gereja” Masa Depan

Jendela1195 Views

Ecclesia Semper Reformanda merupakan sebuah ungkapan Latin yang kerap kali terdengar terutama di kalangan umat Katolik. Ecclesia Semper Reformanda berarti “Gereja yang Selalu Memperbarui Diri”.

Waktu terus berjalan dan zaman terus berkembang. Seiring berkembangnya zaman, Gereja perlu terus memperbarui diri, mengarungi zaman supaya tidak tenggelam dalam samudra kemajuan zaman yang berkembang makin pesat.

Salah satu contoh bahwa Gereja mengikuti perkembangan zaman adalah pewartaan melalui media online. Semakin teknologi berkembang, semakin banyak pula imam yang berkreasi menggunakan media online sebagai sarana pewartaan, mengulas Injil di satu hari kemudian mengunggahnya di media online, baik Instagram, Facebook, YouTube,dan masih banyak media online lainnya yang dapat digunakan sebagai sarana pewartaan Gereja di masa kini.

Gereja bagaikan bahtera yang mengarungi samudra kemajuan zaman. Untuk mengarungi kemajuan zaman saat ini, dibutuhkan para “pelaku kemajuan zaman” yang bisa menjadi penerus Gereja masa kini. Tentu saja para pelaku kemajuan zaman itu adalah kita semua, terutama kaum muda yang kelak akan menjadi “jantung Gereja”, menjadi penerus-penerus Gereja masa depan.

Orang-orang dewasa yang saat ini berada dalam komunitas pelayanan di Gereja tidak akan selamanya mengabdikan dirinya dalam pelayanan di Gereja. Usia mereka akan terus bertambah dan akan makin menua sehingga perlu digantikan oleh generasi selanjutnya yang lebih muda untuk menjadi penerus. Untuk menggerakkan generasi-generasi yang selanjutnya, diperlukan organisasi yang bisa mewadahi para kaum muda untuk berkarya, yang tentu saja karya-karyanya diharapkan bisa berguna bagi Gereja.

 Salah satu wadah bagi para kaum muda untuk berkarya yang sudah ada sejak dulu hingga saat ini adalah Orang Muda Katolik (OMK) atau bisa juga disebut sebagai Mudika (Muda-mudi Katolik). OMK atau Mudika merupakan salah satu komunitas atau organisasi dalam Gereja Katolik yang beranggotakan para kaum muda.

Menurut jurnal “Hubungan Antara Dukungan Sosial dan Psychology Well-being pada Anggota Komunitas Orang Muda Katolik (OMK) Kevikepan Surabaya Barat” karya Kevin Jonathan Susilo, melalui OMK, orang muda dapat mengisi waktu luangnya dengan berbagai hal positif, misalnya menjaga kerukunan antarsesama anggota, membentuk berbagai pengalaman iman melalui program sosial dan keagamaan, dan sebagainya.

Mengutip juga dari jurnal “Deskripsi Keterlibatan Orang Muda Katolik di Lingkungan Santa Monica Pingit” karya Petrus Widya Arnawa, peran OMK bagi Gereja bisa dilihat dari kelompok usia anggotanya. Yang pertama anggota OMK usia remaja yang cenderung kritis mempelajari agama dan mempertanyakan segala hal karena dalam fase mencari jati diri, tetapi ketika dewasa iman mereka diharapkan lebih kuat dan bisa mempertanggungjawabkan iman mereka.

Komunitas OMK juga bisa menjadi wadah untuk mengembangkan kreativitas, baik di tingkat stasi atau paroki. OMK memiliki peran yang cukup penting, terlebih bagi Gereja masa depan karena kelak mereka akan menjadi orang-orang dewasa yang memegang peranan penting bagi kelangsungan hidup Gereja, baik sebagai pengurus, ataupun sebagai anggota Gereja. Mereka adalah pelaku utama dari berbagai aktivitas Gereja yang diharapkan mampu membawa dampak positif, baik perubahan atau bahkan perkembangan.

Berdasarkan sumber dari Katolisitas, jumlah umat katolik di Indonesia ada sekitar 3% dari jumlah penduduk di Indonesia, sedangkan 60% di antaranya adalah kaum muda. Ada sekitar 4 juta OMK tersebar di 38 keuskupan di Indonesia. Data yang ada ini menunjukkan tak sedikit jumlah OMK di Indonesia. Jumlah yang banyak ini hendaknya kita syukuri dan maknai sebagai anugerah yang berharga dari Tuhan.

Selain bersyukur, kita juga perlu kritis dengan data yang ada agar tidak tertipu dengan jumlah yang banyak. Jumlah yang banyak belum tentu punya kualitas yang baik pula. Jika banyak jumlahnya tetapi buruk kualitasnya, untuk apa? Maka dari itu, pertanyaan yang patut kita bersama renungkan, terkhusus bagi OMK, adalah, “Apakah kualitas OMK sudah sesuai dengan banyaknya jumlah OMK saat ini? Apakah dengan jumlah yang banyak, OMK mampu membawa hal positif yang membawa Gereja pada perkembangan dan perubahan yang lebih baik?”

Pertanyaan ini perlu kita renungkan, terutama sebagai umat Katolik, baik tua ataupun muda. Ini merupakan satu bentuk kepedulian kita terhadap kelangsungan Gereja Katolik, terkhusus di Indonesia. Untuk meneruskan Gereja di masa kini, diperlukan kerja sama yang baik dan diperlukan juga sinodalitas antarumat, saling bahu-membahu untuk membawa perubahan dan perkembangan dalam Gereja Katolik sehingga Gereja Katolik dapat mengarungi zaman yang makin maju dan berkembang ini, tetap dapat mengikuti perkembangan zaman.

Gereja dapat diwartakan kepada kaum muda ketika cara yang digunakan juga relevan atau sesuai dengan apa yang mereka rasakan. Ketika cara pewartaan yang digunakan untuk kaum muda merupakan cara yang lama, atau tidak sesuai dengan kehidupan mereka, maka pewartaan akan dipandang sebagai sesuatu yang membosankan dan kuno, maka untuk membuat sesuatu menjadi lebih menarik, diperlukan ide-ide kreatif yang tetap mengandung unsur yang autentik dari Gereja supaya tidak menghilangkan keautentikan atau kekhasan dari Gereja itu sendiri yang telah hidup dari zaman ke zaman.

Salah satu cara pewartaan bagi kaum muda yang selama ini sudah sering diterapkan adalah Ekaristi Kaum Muda (EKM). EKM merupakan salah satu cara yang diterapkan beberapa paroki dan dianggap efektif untuk mengumpulkan kaum muda dalam Ekaristi. EKM merupakan cara yang cukup efektif untuk menjadi sarana pewartaan kepada kaum muda, misalnya melalui homili saat Misa yang dibuat lebih relevan dengan pengalaman dan perasaan kaum muda masa kini.

Meski relevan, hendaknya kita juga tidak melupakan kualitas dari pewartaan itu sendiri. Pembawaan yang “santai” atau “kekinian” dalam pewartaan tak berarti melupakan tujuan dari pewartaan itu sendiri. Sekalipun pengemasannya unik dan “kekinian”, tujuan pertama dan utama tetaplah yang terpenting. Tanpa kualitas yang bermutu, maka sesuatu tidak akan bernilai dan berpengaruh bagi kehidupan, bahkan justru akan merugikan masyarakat karena perilaku-perilakunya yang menyimpang, maka dari itu diperlukan pendampingan, atau sentuhan khusus bagi kaum muda yang sedang dalam fase pencarian jati diri.

EKM hadir di tengah kaum muda untuk memberikan sebuah solusi yang mungkin menarik bagi mereka. EKM tak hanya soal Misa, tetapi di dalamnya ada pewartaan yang disampaikan secara tersirat, mengajak kaum muda untuk mau dan sadar untuk mengikuti Perayaan Ekaristi setidaknya setiap minggu.

Dalam EKM, para kaum muda juga bisa menjalin relasi yang lebih luas, saling mengenal sehingga mereka menemukan sesuatu yang mereka senangi dalam sesuatu yang mereka ikuti tersebut. Dengan demikian, mereka merasa lebih nyaman, menemukan komunitasnya yang mereka rasa cocok dan nyaman ketika berada di dalamnya.

Benedictus Steven Subiakto (Seminaris Tahun Keempat Seminari Menengah Mertoyudan Magelang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *