Romansa Politik Gonjang-ganjing Tantang Orang Muda Jelang Pemilu 2024

Jendela732 Views

Pemilu, tidak jarang tatkala mendengar kata itu kita akan terbayang dengan apa yang disebut dengan politik. Sebagai seorang yang sangat muda dan awam, mendengar kata politik ini tampak cukup rumit untuk dipikirkan.

Saat berdiskusi dengan teman di tongkrongan pun, yang notabene khalayak akar rumput, kita dapat melihat bahwa politik merupakan sebuah hal yang runyam, kompleks, dan mempunyai stigma banyak drama dan masalah.

Mengapa demikian? Ya, itulah yang terjadi di negara kita, apalagi menjelang Pemilu 2024.

Sebenarnya, Pemilu merupakan sebuah panggung dalam pesta demokrasi yang mengundang semua warga untuk turut menentukan masa depan bangsa. Menjelang pemilu 2024, suasana politik begitu kental terasa, seperti aroma kopi yang diseduh di pagi hari. Namun bila “diseruput” atau diikuti dan direnungkan, suasana politik menjelang Pemilu 2024 di Indonesia itu seperti sebuah drama yang penuh dengan intrik, konflik, dan kejutan tak terduga.

Romansa politik yang seharusnya menggugah hati dan menyalakan semangat demokrasi, malah terasa penuh gonjang-ganjing. Seakan-akan, setiap langkah yang diambil menuntun kita masuk ke dalam labirin kebimbangan.

Bagaimana tidak, dalam hal pemilihan capres dan cawapres saja kita telah disuguhi berbagai isu yang silih berganti? Mulai dari isu penyalahgunaan wewenang untuk melanggengkan kekuasaan, politik dinasti, isu presiden adalah petugas partai, serta polarisasi suara akibat politik identitas.

Pertanyaannya, di tengah gonjang-ganjingnya politik menjelang pemilu 2024 ini, apa yang bisa Gereja lakukan (katekese apa yang sesuai) untuk orang muda yang notabene mendominasi suara pemilih di Pemilu 2024 agar mereka dapat berpartisipasi dalam pesta politik 2024 yang membingungkan, ada banyak drama yang penuh dengan intrik, konflik, dan kejutan tak terduga?

Bila direnungkan, isu politik yang gonjang-ganjing ini bisa jadi turut menambah beban mental orang muda untuk menentukan pilihan. Gonjang-ganjing yang dirasakan ini baru mengenai calon presiden dan wakil presiden, bagaimana bila nanti generasi muda ini harus memilih secara serempak calon wakil rakyat yang jumlahnya begitu banyak itu. Jangan-jangan ini justru akan orang muda menjadi apatis dengan politik, tidak percaya terhadap sistem politik.

Foto: Canva

Analisis permasalahan

Pertarungan antarkandidat menjelang Pemilu 2024 menjadi makin panas, dengan bermunculannya isu-isu silih berganti. Seperti yang telah saya sebutkan di atas, ada banyak sekali isu-isu politik yang disuguhkan, mulai dari isu penyalahgunaan wewenang untuk melanggengkan kekuasaan, politik dinasti, isu presiden adalah petugas partai, serta polarisasi suara akibat politik identitas.

Hal ini cukup membuat kita menyadari akar permasalahan ini bahwa betapa tonggak kepemimpinan ini sangat diinginkan/diperebutkan oleh banyak orang atau boleh saya katakan oleh banyak pihak, bukan hanya para paslon, tetapi beberapa partai pengusung dan para pendukung.

Bila kita merenungkan lagi gejolak politik ini, pada akhirnya politik seolah-olah memang menjadi panggung sirkus yang setiap pesertanya berusaha untuk menghadirkan utopia politik belaka. Untuk apa? Saya merenungkan apakah ini adalah sebuah trik untuk memperoleh suara, karena tampaknya para paslon presiden dan wakil presiden ingin memanfaatkan letak bonus demografi untuk tahun 2024, yakni orang muda.

Mereka meredam ketegangan politik dengan menjadi bintang utama dengan trik-trik yang lebih menarik daripada substansi politik mengenai visi, misi, dan program kerja demi mempersiapkan perwujudan generasi emas untuk 2045.

Para paslon ataupun para pendukung mencoba untuk membuat jargon atau gaya yang viral atau dikenal oleh orang muda yang notabene mendominasi suara pemilih pada Pemilu tahun 2024 sehingga para paslon sering kali jatuh pada sikap unjuk popularitas dan lupa tentang nilai atau visi dan misi apa yang ingin ditawarkan untuk bangsa ini ke depan.

Di situlah kita sebagai pemilih sering kali terombang-ambing dalam pusaran propaganda dan permainan kata, rayuan para paslon melalui janji-janji manis yang terkadang ada yang banyak kurang masuk di akal.

Romansa politik yang gonjang-ganjing ini turut menjadi tantangan tersendiri terutama bagi orang muda dalam membentuk keterlibatan dan pandangan terhadap politik. Generasi muda tercatat oleh KPU mendominasi suara sebagai pemilih di Pemilu 2024, dengan 33,60% adalah generasi milenial dan 22,85% adalah generasi Z.

Tentu dari sini generasi muda merupakan bonus demografi yang memegang peran penting dalam menentukan masa depan bangsa melalui suara mereka. Permasalahannya, sebagai generasi yang masih muda, mereka memiliki banyak sekali tuntutan dan beban yang harus mereka tanggung, mulai dari banyaknya tugas sekolah atau kuliah, tanggungan pekerjaan, rumah tangga bagi pasangan muda, tagihan, dan sebagainya. Tak sedikit dari mereka mengalami isu mental health pula karena banyaknya tuntutan dan beban itu.

Foto: Canva

Tanggapan Gereja

Berkaitan dengan Pemilu, Gereja Katolik selalu memiliki pandangan dan prinsip-prinsip yang dapat membimbing umat dalam proses politik. Dalam hal pemilu, Gereja selalu mengajarkan bahwa umat Katolik memiliki tanggung jawab moral untuk terlibat dalam kehidupan politik dan berkontribusi dalam pembentukan masyarakat yang adil dan berkeadilan.

Dalam pandangan Gereja Katolik, umat diharapkan dapat mempertimbangkan prinsip-prinsip moral dalam memilih pemimpin politik dan mendukung kebijakan yang sesuai dengan ajaran moral Katolik, seperti keadilan sosial, perlindungan HAM, perdamaian, subsidiaritas, solidaritas, dan perlindungan lingkungan. Gereja juga mengajarkan bahwa umat harus terlibat dalam politik dengan semangat kasih dan kebijaksanaan, mencintai kebenaran dan menghindari fanatisme atau kebencian.

Dalam situasi politik yang gonjang-ganjing ini tampaknya menarik bila kita melihat bagaimana tanggapan Gereja dalam memasuki tahun politik 2024. Dalam hal ini saya mencoba melihat bagaimana tanggapan Gereja, terlebih khusus Gereja Keuskupan Agung Semarang (KAS) dalam menanggapi tahun politik 2024 ini.

Keuskupan Agung Semarang mencoba mengusung gagasan dasar “Menantikan Raja Damai untuk Indonesia Damai” dalam panduan Adven 2023. Bila kita sadari, setiap menjalani masa Adven, kita senantiasa diajak untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan di tengah-tengah situasi hidup ini (perlu dirayakan dan direfleksikan sesuai konteks hidup kita). Maka pada tahun 2023 ini, situasi politik yang gonjang-ganjing ini sudah bergejolak sebagai situasi sosial kemasyarakatan yang membutuhkan perhatian kita, termasuk orang muda Katolik sebagai warga negara.

Dalam hal ini, Gereja Keuskupan Agung Semarang mengajak umatnya untuk melihat kembali arah Dasar VIII (2021-2025). Di sana kita diajak untuk terus mengembangkan salah satu prioritas garapan, yakni kebangsaan dan cinta tanah air.

Bulan ini kita akan melaksanakan Pemilu 2024. Dari pemilu tersebut diharapkan kita mampu memilih pemimpin yang menentukan lima tahun masa depan bangsa. Maka, dalam masa Adven 2023 yang lalu, Komkat mengajak semua umat Keuskupan Agung Semarang mempersiapkan Adventus (masa penantian) dengan kesadaran membangun keterlibatan berbangsa dan memperjuangkan nilai nilai kedamaian.

Komisi Kateketik juga mengajak umat untuk mendalami seruan dari Paus Fransiskus melalui Ensiklik “Fratelli Tutti” (art. 30) bahwa Gereja tidak “membatasi misinya pada ranah privat” dan juga tidak mengikatkan diri dalam politik, tetapi Gereja tidak meninggalkan dimensi politik dari hidupnya sendiri.

Harapannya tanggapan Gereja di KAS yang berangkat dari keprihatinan dan konteks yang kita hadapi ini bisa menjadi tanggapan Gereja di keuskupan lainnya. Tanggapan secara lebih spesifik biasanya disampaikan Gereja melalui Surat Gembala, sebagaimana telah disampaikan juga oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko pada HUT RI ke-78.

Dalam surat tersebut, Bapa Uskup mengajak umat Katolik untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk menggunakan hak pilih dalam Pemilu 2024 nanti. Dalam Surat Gembala tersebut Bapa Uskup juga menegaskan, baik yang menjadi pemilih maupun yang menjadi penyelenggara Pemilu harus mempunyai integritas, kecurangan, intimidasi atau menakut-nakuti, pemaksaan, dan kecurangan dalam pemilu sangat tidak dibenarkan, karena melukai kepercayaan masyarakat dan menodai semangat Pemilu yang Luberjurdil (langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil).

Tanggapan pribadi

Meskipun suasana politik menjelang pemilu 2024 ini penuh gonjang-ganjing, kita tidak boleh lupa akan esensi dari Pemilu ini, yakni memilih pemimpin untuk melanjutkan estafet kepemimpinan demi kemajuan Bangsa Indonesia. Oleh karena itu semangat demokrasi kita tidak boleh padam.

Dalam hal ini saya teringat oleh kata-kata yang disampaikan oleh Romo Franz Magnis-Suseno, “Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa.” Bila dibaca, kata-kata ini memang cukup tendensius, karena merujuk salah satu paslon. Namun, bila direnungkan apa yang dimaksud oleh Romo Magnis ini adalah memilih pasangan yang memiliki kadar kesalahan, rekam jejak yang lebih sedikit, atau minus malum. 

Tentu hal ini akan lebih fair, karena kita perlu menyadari bahwa setiap paslon memiliki kadar kesalahan, rekam jejaknya masing-masing; dan itulah yang sebenarnya penting. Baru dari situ kita bisa melihat visi-misi serta program-program kerja mana saja yang masuk akal.

Meskipun suasana politik menjelang Pemilu 2024 ini penuh gonjang-ganjing, kita sebagai generasi muda yang adalah warga negara memiliki tanggung jawab untuk menentukan masa depan bangsa Indonesia ini melalui Pemilu 2024.

Dalam gonjang-ganjing yang penuh drama ini kita diingatkan untuk mengutamakan substansi dari setiap program dan visi-misi para paslon. Sebagai generasi muda, jangan sampai kita terlena oleh janji-janji manis semata, tetapi selalu perhatikan rekam jejak dan komitmen nyata para kandidat.

Bagaimanapun, saat ini kita berada dalam panggung pesta demokrasi yang tak bisa diabaikan. Romansa menjelang Pemilu 2024 di Indonesia ini bukan hanya tentang pesta popularitas, tetapi juga tentang kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Sebagai penonton gonjang-ganjing yang penuh drama, sebenarnya kita adalah aktor utama dalam kisah romansa Pemilu 2024 ini, kita memiliki peran penting untuk menentukan ending yang memuaskan dengan memilih calon pemimpin yang sungguh ingin melayani, bukan kepentingan atau popularitas pribadi.

Bila dalam Seruan Apostoliknya, Paus Fransiskus menyebutkan bahwa orang muda adalah masa depan Allah, maka benarlah bahwa orang muda juga adalah masa depan bangsa Indonesia. Maka, menurut saya golput, masa bodoh, atau asal nyoblos atas dasar pilihan suka tidak suka bukanlah prinsip orang muda Katolik. Kita perlu selektif dan ber-discernment untuk memilih calon pemimpin yang memiliki visi dan misi selaras dengan ajaran moral Gereja, yakni seperti keadilan sosial, perlindungan HAM, perdamaian, subsidiaritas, solidaritas, dan perlindungan lingkungan.

Ilustrasi: freepik.com

Model pastoral/katekese

 Dalam menanggapi dilema orang muda dalam romansa politik yang gonjang-ganjing ini, Gereja perlu hadir untuk membersamai/menjadi teman seperjalanan orang muda. Gereja perlu hadir seperti Yesus yang mau membersamai dua murid dalam perjalanannya ke Emaus.

Menurut saya, model pastoral/katekese ini adalah model yang relevan saat ini. Sebab, bila direnungkan, romansa politik dan latar belakang kisah perjalanan dua murid ke Emaus cukup memiliki kontras yang sama.

Ada tiga poin penting yang ingin saya angkat dalam model pastoral/katekese ini. Pertama, perjalanan dua murid ke Emaus menggambarkan bagaimana perjalanan iman seorang Kristiani secara bertahap sesuai kondisi manusiawinya.

Kondisi para murid yang diliputi rasa bingung, takut, hingga bahkan tidak mengenali Yesus saat dalam perjalanan, bisa jadi juga pengalaman orang muda yang kurang memahami gejolak politik ini dalam kerangka menantikan raja damai untuk Indonesia damai.

Gejolak politik yang penuh intrik dan isu-isu politik lainnya tanpa adanya daya kritis, discermment sering kali menumpulkan hati kita untuk dapat selektif dan bijak untuk menentukan pilihan. Maka dari itu, saya merasa simbol perjalanan dua murid ke Emaus ini menjadi model yang cocok untuk membawa pada pengenalan yang lebih mendalam akan Yesus, sebagaimana ditegaskan dalam petunjuk untuk katekese 2020.

Dalam hal ini pengenalan akan Yesus, harapannya dapat dilihat dari pengenalan orang muda terhadap para paslon capres dan cawapres sebagai raja damai yang ditentukan.

Kedua, dalam dinamika perjalanan ke Emaus kita melihat bagaimana Yesus hadir di tengah-tengah perjalanan kedua murid itu. Misteriusnya ialah tatkala kedua murid itu belum memahami rencana Allah, Yesus sama sekali tidak menghakiminya. Ia menjadi teman seperjalanan kedua murid itu, Ia menerangi pemikiran kedua murid itu dengan Kitab Suci.

Dari kisah ini, saya merenungkan tentang bagaimana seharusnya sikap Gereja dalam membersamai orang muda dalam dilemanya menghadapi romansa politik yang gonjang-ganjing ini, bagaimana Gereja dapat menjadi teman seperjalanan orang muda yang dapat menuntun mereka untuk tetap menjadi orang muda yang dapat berpartisipasi aktif dalam proses pemilu mendatang.

Ketiga, kesediaan Yesus untuk mampir ke rumah kedua murid tersebut menggambarkan kerendahan hati. Rumah yang pada saat itu bisa dikatakan adalah saksi keriwehan orang, sehingga bila kita singgah ke rumah seseorang berarti adalah kesediaan untuk mengenal seseorang lebih dalam.

Maka dari itu, Gereja juga perlu mengenal apa yang menjadi permasalahan orang muda saat ini—apalagi dalam segala kesibukan dan tuntutan yang ada, mereka juga didapuk sebagai penentu masa depan bangsa melalui suara mereka—sehingga model pastoral/katekese yang disimbolkan sebagai perjalanan pedagogis ini dapat sungguh membimbing orang muda untuk berjumpa secara pribadi dengan Yesus Kristus, bertumbuh dalam mentalitas iman dan menjadi saksi kehidupan baru di dunia (PUK 2020, 65), terlebih dalam konteks sebagai pemilih yang dapat berpartisipasi dalam pemilu 2024 dan dapat memilih dengan selektif demi terpilihnya raja damai untuk Indonesia damai, sebagaimana dicita-citakan oleh KAS melalui modul pendalaman Adven di tahun ini.

Saat ini simbol perjalanan dua murid ke Emaus cukup mendapatkan perhatian yang istimewa bukan hanya mengedepankan dialog, tetapi juga sejalan dengan apa yang sering digaungkan oleh Paus Fransiskus mengenai konsep sinodalitas. Ini menjadi dasar iman kedua setelah Kitab Suci dari Injil Lukas 24:13-35 yang saya pakai sebagai model pastoral/katekese saya di atas.

Berkaitan dengan gagasan tentang Sinodalitas, saya mencoba mengacu pada dokumen International Theological Commission (2018). Dalam pengertiannya, sinodalitas berasal dari dua kata Yunani, syn (bersama) dan hodos (berjalan). Dengan demikian sinodalitas memiliki arti berjalan bersama untuk mencari kehendak Tuhan.

Pertanyaannya, berjalan bersama siapa? Tentang “berjalan bersama” kita tidak dapat mengandaikan “sendirian” atau berjalan bersama umat sendiri. Sebab persekutuan umat dalam Kristus adalah Gereja di dalam dunia. Artinya, “berjalan bersama” harus dimaknai sebagai bersama “orang lain” atau “liyan” (other). 

Perjalanan dua orang murid adalah simbol dari sinodalitas dalam terang Kitab Suci. Melalui kisah tersebut, model pastoral/katekese adalah proses ketika Yesus mendampingi para murid, membersamai mereka untuk menemukan misteri kehendak Allah dalam hidup mereka. Katekese dengan simbol perjalanan dua orang murid ke Emaus mewujudkan proses berjalan bersama dengan liyan. 

Menurut saya, simbol perjalanan dua murid ke Emaus ini sangat relevan dengan situasi orang muda yang secara beban mental turut dibebani dengan tanggung jawab besar dalam memberikan suara yang turut menentukan masa depan Bangsa. Hal ini menjadi tantangan bagi Gereja untuk memahami orang muda.

Dalam konteks pelayanan katekese bagi orang muda, kedua murid yang pergi ke Emaus sampai batas tertentu merupakan gambaran kaum muda saat ini. Yesus yang adalah pengharapan mereka, kini telah mati dan kurang dirasakan kembali kehadiran-Nya karena banyaknya isu dan gejolak politik yang gonjang-ganjing menjelang pemilu 2024.

Model pastoral/katekese dalam simbol ini mengindikasikan ada proses jalan bersama liyan atau bersinodal dengan orang muda, saling mendengarkan, berdialog, dan melakukan discernment sehingga pengalaman orang muda yang serupa dengan pengalaman dua murid itu tidak akan dihakimi, melainkan dituntun untuk menemukan Yesus dalam diri paslon capres dan cawapres atau wakil rakyat dalam pemilu 2024 yang akan mereka pilih.

Mendampingi mereka berarti berjalan bersama mereka agar Yesus mampu mengobarkan hati mereka dan menerangi pikiran mereka hingga pada akhirnya harapannya ialah sama: orang muda dapat melihat misteri raja damai untuk Indonesia damai dalam pemilu 2024. 

Kesimpulan

Akhirnya, saya menyimpulkan bahwa model pastoral/katekese dalam simbol perjalanan dua murid ke Emaus ini perlu mendapatkan perhatian dan penekanan terlebih bagi orang muda menjelang Pemilu 2024.

Momen romansa pemilu 2024 yang gonjang-ganjing serta permasalahan yang dihadapi orang muda saat ini dapat menjadi momen “Pengalaman Emaus” bagi kaum muda dengan Gereja sehingga hati dan pikiran mereka dapat diterangi agar dapat melihat Tuhan dalam pengalaman iman saat mempersiapkan diri hingga berpartisipasi dalam pesat demokrasi atau Pemilu 2024.

Rengga Nata Pratama

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Universitas Sanata Dharma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *