Jalan Salib dan Jalan Demokrasi

Jendela638 Views

Masa Prapaskah selalu diidentik dengan jalan salib. Ibadat ini dilakukan untuk merenungkan misteri sengsara Yesus menuju Bukit Kalvari, tempat Dia kemudian mengembuskan napas terakhir-Nya untuk menebus dosa manusia.

Dalam jalan salib, umat Kristiani diundang untuk berjalan bersama Yesus mulai dari saat Dia dihukum mati sampai ketika Dia bangkit dari mati. Yesus memikul salib yang berat, yang bahkan Dia sendiri tidak mampu untuk memikulnya. Dia dibantu oleh Simon dari Kirene, sebuah peristiwa yang jelas menunjukkan betapa sulitnya situasi yang dialami Yesus.

Dia pernah terjatuh sampai tiga kali dengan berdarah-darah, berjumpa dengan ibu-Nya dalam keadaan yang mengenaskan, ditangisi oleh beberapa wanita, dicambuki oleh serdadu secara kasar, dimahkotai duri, dan berakhir dengan mati di salib.

Namun, fragmen jalan salib tidak berhenti pada kematian. Jalan salib mencapai puncaknya pada kebangkitan Yesus, sebuah misteri imam Kristiani yang direfleksikan terus-menerus sepanjang masa.

Kemudian ada jalan demokrasi, yang berangkat dari permenungan pribadi atas bergulirnya perhelatan pesta demokrasi beberapa waktu lalu. Banyak perhentian yang direnungkan dari perhelatan tersebut, ketika di dalamnya rakyat ikut campur tangan menentukan hasil akhirnya.

Namun, sebagaimana jalan salib, jalan demokrasi tidak berhenti hanya saat Pemilu selesai dan quick count keluar. Demokrasi tidak direduksi hanya saat Pemilu, karena pada dasarnya demokrasi tidak pernah usai.

Selama negara yang menganut sistem demokrasi ini tetap ada, demikian demokrasi itu masih tetap berjalan. Jalan tengah yang muncul kemudian adalah bagaimana merefleksikan kembali proses demokrasi yang telah lalu.

Bahan start refleksi itu adalah mengenai bagaimana perhelatan besar Pemilu misalnya dipersiapkan, siapa saja pelaku politiknya, bagaimana berlangsungnya, dan bagaimana mekanisme ini berakhir.

Tentang segala perdebatan dan diskusi mengenainya, biarlah itu menjadi perhentian khusus yang membantu rakyat mengingat jalan demokrasi di Indonesia ini.

Akhir-akhir ini apa yang dikatakan sebagai merefleksikan kembali jalan demokrasi itu telah banyak terjadi melalui perbincangan, perdebatan, dan diskusi di berbagai media. Para elite politik menjadi inisiator proses refleksi ini. Mereka mempertanyakan proses yang telah berlalu, menyalahkan satu sama lain, merencanakan gugatan tertentu, dan berbicara mengenai kepentingan-kepentingan.

Bukan hanya para elite, upaya merefleksikan jalan demokrasi juga terjadi pada masyarakat akar rumput. Tidak kalah menariknya dengan diskusi para elite politik, refleksi pada tataran masyarakat akar rumput adalah sebuah proses yang berlangsung dengan cukup mengesankan.

Mereka tidak menggunakan teori politik untuk menganalisis jalan demokrasi yang terjadi, tetapi menyumbangkan pemikiran yang tidak kalah kritisnya dengan seorang politisi yang sedang berbicara di televisi.

Dalam diskusi di warung kopi atau di pos ronda, mereka juga memang jarang memakai bahasa retoris seperti halnya seorang pengamat politik, tetapi pada mereka ada bahan merefleksikan jalan demokrasi sesuai kebebasan memilih yang sudah melekat dalam diri mereka masing-masing.

Jalan salib dan jalan demokrasi

Jalan Salib dan jalan demokrasi adalah dua hal yang sama-sama memerlukan permenungan atau refleksi. Keduanya tampak berbeda dari sudut pandang pendekatan, tetapi bertalian dalam merumuskan pengertian mengenai panggilan hidup.

Sebagai seorang Kristiani, misalnya, merenungkan jalan salib membantu untuk semakin merumuskan iman akan Yesus yang sengsara, mati, dan bangkit bagi keselamatan manusia. Sebagai seorang warga negara, merefleksikan jalan demokrasi menjadi bagian penting untuk mencapai kebaikan bersama (Bonum Commune).

Ketika demokrasi dibiarkan berjalan begitu saja tanpa melalui sebuah tahapan refleksi atasnya, saat itulah seorang warga negara bersikap apatis terhadap hidup bersama yang secara jelas mendatangkan kebaikan.

Dua jalan ini tentu saja merupakan dimensi khusus dalam hidup manusia sebagai makhluk beragama dan makhluk politik yang memberikan kesempatan untuk membawa hidup ke arah yang lebih baik.

Pada dasarnya, jalan salib adalah jalan mistagogis. Di dalamnya setiap orang merenungkan bagaimana Yesus menampilkan diri sebagai pembawa keselamatan Allah. Dia mengorbankan diri-Nya untuk dipersembahkan kepada Allah dan untuk menebus dosa manusia.

Dia menghadapi banyak penderitaan hanya agar pesan keselamatan tersampaikan kepada manusia. Namun masalahnya tidak sedikit orang yang kurang mengerti dengan cara Yesus mengungkapkan keselamatan itu.

Itulah mengapa ada jalan salib. Jalan salib menampilkan secara visual imajinatif cara Yesus mengungkapkan keselamatan melalui sengsara yang dialami-Nya. Meskipun dalam kenyataannya Yesus mungkin mengalami siksaan dan hinaan yang melebihi apa yang dijelaskan dalam jalan salib, poinnya adalah bahwa jalan salib semakin membuat Kristiani mengerti bahwa karya keselamatan yang dibawa Yesus tidak melulu hadir melalui tindakan yang heroik. Sebaliknya keselamatan itu dihadirkan dengan melewati jalur penderitaan yang disaksikan dalam jalan salib itu.

Hal serupa terjadi dalam jalan demokrasi. Banyak yang masih tidak mengetahui (atau mungkin pura-pura tidak tahu) bahwa tujuan dari demokrasi adalah untuk kesejahteraan masyarakat. Yang terjadi sekarang adalah rakyat yang dipilih sebagai wakil dalam tata pemerintahan sulit dipercaya bahwa mereka bekerja menyampaikan aspirasi sesamanya.

Korupsi terjadi di mana-mana, begitu juga dengan bentuk kecurangan sistematis-elektoral lainnya. Barangkali hanya segelintir orang saja yang memahami esensi demokrasi adalah untuk kepentingan masyarakat.

Mereka ini adalah orang-orang yang mungkin dianggap biasa saja dalam tatanan hidup bermasyarakat tetapi membawa hasil kerja yang cukup signifikan bagi kepentingan bersama di negara ini. Mereka itu antara lain para guru, para petani, para buruh, pekerja kasar, para pedagang, dan masih banyak lagi yang justru kerap kali menjadi korban kebijakan yang tidak memihak dalam proses berjalannya demokrasi di negara ini.

Sintesis: menatap Indonesia

Upaya merefleksikan perjalanan demokrasi di negara ini adalah bagian penting yang tidak boleh dilupakan oleh segenap masyarakat Indonesia. Alasannya karena refleksi terhadap jalan demokrasi mengandung sebuah kesadaran bahwa rakyat adalah pembawa keselamatan yang memiliki peran penting bagi kesejahteraan bersama.

Seperti halnya Yesus dalam perjalanan salib bertindak sebagai sumber iman, demikian juga rakyat dalam perjalanan demokrasi mestinya ditempatkan sebagai sumber pertimbangan segala kebijakan hidup bersama.

Rakyat tidak lain adalah bahan refleksi sejauh mana demokrasi di negara ini berjalan di koridor yang tepat. Demokrasi, baru sungguh dikatakan sebagai sistem pemerintahan yang suci jika berpihak pada kepentingan rakyat, termasuk mereka yang kecil dan terpinggirkan.

Pada rakyat ada kemampuan besar untuk menjaga dan mempertahankan demokrasi, karena rakyat memiliki kedaulatan untuk membuat keputusan berdasarkan kehendak yang tetap menghormati hak-hak individu, kebebasan sipil, dan keadilan.

Demokrasi akan tetap berjalan meskipun setiap lima tahun wajah pemimpin baru silih berganti muncul. Harapannya masih sama, yakni agar siapa pun yang dipercayakan memimpin mesti berbakti sepenuhnya kepada mandat yang diberikan rakyat.

Rakyat tidak akan pernah tinggal diam membiarkan pemimpin yang diberi kepercayaan untuk bertindak sewenang-wenang, mengingat bahwa rakyat selalu bertindak sebagai penjaga kesakralan demokrasi.

Rakyat menanggung keselamatan demokrasi di Indonesia ini, yang sesekali bisa mengkritik dan menggugat, tetapi juga konsisten pada sikap kreatif untuk mendukung seutuhnya pemimpin yang diberi mandat.

Pada dasarnya, rakyat sama-sama berjuang mencapai kehidupan bersama yang lebih baik. Seperti Yesus yang mengorbankan nyawa-Nya demi keselamatan umat manusia, demikian rakyat mengorbankan harapan, kepercayaan, dan optimisme pada setiap pemimpin yang ditugaskan untuk berbakti demi bangsa dan negara.

Mari memaknai jalan salib pada masa Prapaskah ini untuk semakin mengalami kehadiran Yesus yang sengsara demi umat manusia, sambil menjadi penjaga kedaulatan jalan demokrasi di negara tercinta ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *