Magnifica Humanitas dan Godaan Ruang Gema

Saat Algoritma Menjebak Manusia untuk Terpolarisasi dan Berprasangka (3)

Bingkai237 Views

Diskusi dengan para pakar dan belajar dari berbagai dokumen Gereja membuat saya memikirkan kembali tentang peran ruang gema digital dalam membentuk cara memandang manusia.

 

Jika perbedaan teologis dapat diperparah oleh ruang gema digital, maka pertanyaan berikutnya menjadi semakin mendasar: Apa yang terjadi ketika manusia berhenti melihat sesamanya sebagai pribadi dan mulai melihatnya hanya sebagai label? Mendalami refleksi tentang teknologi, algoritma, dan martabat manusia menjadi sangat penting.

Ketika terlalu lama mendengarkan konten apologetika digital, banyak umat mulai percaya hal-hal parsial yang kemudian digeneralisasi seolah-olah mewakili keseluruhan. Dalam situasi ini, seorang Katolik dapat dengan mudah percaya bahwa semua Protestan membenci Maria, menolak tradisi, dan hidup hanya dengan slogan sola scriptura  yang dipahami secara sempit. Di sisi lain, seorang Protestan dapat dengan mudah melihat Katolik sebagai agama yang sibuk dengan ritual, pemujaan santo-santa, dan selalu siap menyerang mereka yang berbeda. Kedua pihak akhirnya berbicara tentang satu sama lain tanpa pernah sungguh-sungguh saling mengenal.

Di situlah letak bahayanya. Dalam ruang gema, manusia tidak lagi berjumpa dengan manusia, melainkan dengan stereotip dan karikatur—dan keduanya selalu lebih mudah dibenci daripada pribadi yang nyata. Ketika itu terjadi, manusia dipersempit menjadi label dan identitas, sementara kompleksitasnya sebagai pribadi perlahan menghilang. Harga yang dibayar tidak kecil: manusia semakin terpisah, terkotak-kotak, dan terpecah-belah.

Semakin sempit identitas itu, semakin mudah pula algoritma memprediksi dan mengarahkan perilaku kita. Algoritma tidak bekerja karena niat jahat; dia tidak peduli Katolik atau Protestan. Tujuannya sederhana: mempertahankan perhatian pengguna. Sudah terbukti bahwa konflik identitas sangat efektif untuk menghasilkan keterlibatan.

Sementara itu, perjumpaan nyata menjadi kurang menarik bagi algoritma, karena lebih jujur ​​dan sulit keseimbangan. Dalam perjumpaan nyata, seorang Katolik dapat menemukan seorang Protestan yang mencintai Kristus, menghormati Maria, menerangi Yohanes Salib, dan hidup dalam kasih. Sebaliknya, seorang Protestan dapat menjumpai seorang Katolik yang tidak sibuk mengutuk, melainkan berusaha mengikuti Kristus dengan rendah hati. Dalam perjumpaan itulah kita menyadari bahwa kita sesungguhnya dapat saling belajar. Semakin banyak perjumpaan terjadi, semakin sulit mempertahankan prasangka. Sebaliknya, semakin lama hidup di ruang gema digital, semakin mudah percaya bahwa suara yang paling keras mewakili seluruh umat beriman.

Dulu, saya mengira bahwa dengan mengonsumsi berbagai konten, wawasan iman saya akan menjadi semakin luas. Ternyata, saya justru sedang dipersempit oleh sistem yang terus memberikan informasi sejenis. Tanpa sadar, saya membiarkan algoritma memilih siapa yang boleh saya temukan. Saya tidak akan menjadi anti-Protestan karena membaca seluruh teologi Protestan, atau menjadi eksklusif karena meneliti ribuan denominasi gereja. Namun, saya bisa menjadi semakin sempit hanya dengan menonton satu video apologetika, lalu disusul video serupa, dan semakin ekstrem, hingga akhirnya terjebak dalam ruang gema.

Ajakan Romo Joko untuk kembali pada perjumpaan nyata—melalui ibadah ekumenis di Gereja Kristus Raja Baciro—telah menyadarkan: betapa piciknya saya ketika mengira bahwa “perang melawan Protestantisme” di zaman ini merupakan ajaran resmi Gereja Katolik di Indonesia. Ketika algoritma terus-menerus menyajikan versi paling buruk dari kelompok lain, manusia perlahan berhenti melihat sesamanya sebagai pribadi. Yang terlihat hanyalah label: Katolik atau Protestan. Manusia tidak lagi dijumpai sebagai individu yang konkret, melainkan sebagai identitas yang harus dibela atau dilawan.

Saya merasa menemukan jawaban yang begitu relevan ketika membaca ensiklik Magnifica Humanitas dari Paus Leo XIV. Kritik beliau terhadap dunia digital ternyata menjelaskan dengan sangat tepat apa yang menjadi kegalauan saya. Pertaruhan sebenarnya adalah cara kita memandang manusia. Di balik pembahasan mengenai kecerdasan buatan, teknologi, dan algoritma, terdapat sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: “Apakah manusia masih mampu melihat sesamanya sebagai manusia?”

Paus Leo XIV mengingatkan bahwa teknologi harus melayani Magnifica Humanitas —keagungan manusia: bukan keagungan mesin; bukan keagungan algoritma; bukan pula keagungan identitas kelompok. Manusia selalu lebih besar daripada kategori-kategori yang melekat padanya. Terbentuklah pemahaman, mengapa ruang gema digital begitu berbahaya. Ruang gema tidak hanya menyebarkan informasi yang keliru. Ruang gema perlahan mereduksi manusia menjadi karikatur dan stereotip. Bukan hanya kebenaran yang hilang, melainkan kemanusiaan itu sendiri.

Dalam konteks ini, peringatan Paus Leo XIV tentang “Sindrom Babel” terasa sangat relevan. Godaan zaman ini bukan hanya kebingungan karena terlalu banyak perbedaan. Justru sebaliknya, kita menguraikan realitas yang kompleks menjadi satu narasi, satu kelompok, satu cara melihat dunia. Algoritma digital bekerja dengan logika yang serupa. Algoritma terus menyajikan apa yang ingin kita dengar sampai akhirnya kita kehilangan kemampuan untuk mendengar yang lain.

Berpuncak pada inkarnasi, sabda tidak hadir sebagai teori, slogan, atau identitas kelompok. Sabda menjadi manusia. Oleh karena itu, iman tidak tumbuh terutama melalui karikatur digital tentang sesama, melainkan melalui perjumpaan nyata dengan manusia konkret yang memiliki wajah, suara, luka, dan martabat.

Di sini saya mulai memahami bahwa tantangan terbesar di era digital bukanlah mempertahankan identitas kelompok, melainkan mempertahankan kemanusiaan. Sebab, ketika manusia berhenti melihat manusia, misalkan agama akan selalu lebih diutamakan dibandingkan kasih. Ketika identitas menjadi lebih penting daripada manusia, algoritma memperoleh kekuasaan yang semakin besar dalam membentuk cara kita memandang sesama

 Mungkin, di era digital, inilah arti “kurang piknik”. Kurang piknik bukanlah sekedar perjalanan. Kurang piknik adalah ketika seseorang terlalu lama hidup di dalam ruang gema yang sama sampai lupa bahwa dunia nyata jauh lebih luas daripada layar yang ada dalam genggamannya. Jalan keluarnya bukan semata-mata memuat lebih banyak informasi, melainkan memperluas komunikasi; bukan semakin sering berbicara saja, melainkan semakin sering berjumpa dengan mereka yang berbeda. Sebab, hanya dalam perjumpaan nyata, manusia dapat kembali dilihat sebagai manusia, bukan sebagai stereotip atau karikatur yang dibentuk oleh algoritma.

Apologetika digital yang sehat tidak boleh hanya bertanya, “Bagaimana membela agama saya”, melainkan juga bertanya, “Apakah cara saya membela agama tetap menghormati keagungan manusia pada mereka yang berbeda”. Pertanyaan iman yang paling mendasar pun terbersit di era algoritma ini. Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang benar”, melainkan “apakah kita masih mampu melihat sesama sebagai manusia”.

Bila iman membuat kita berhenti melihat manusia, mungkin yang sedang kita bela bukan lagi iman, melainkan identitas. Padahal, seluruh perjalanan iman pada akhirnya selalu kembali pada perjumpaan dengan manusia yang konkret, bukan pada kemenangan atas kelompok lain. Identitas selalu lebih kecil dari manusia, dan manusia selalu lebih agung dari algoritma. (Selesai).

Bagian 1:  “Kurang Piknik” dalam Ruang Gema Apologetik

Bagian 2 : Mengapa Katolik dan Protestan Terus Berdebat?

 

  • Penulis mengucapkan terima kasih kepada Romo Martinus Joko Lelono Pr, Romo Yohanes Dwi Harsanto Pr, Pendeta Fendi Susanto, dan Pendeta Daniel Listijabudi, yang telah memberikan banyak ilmu dan masukan untuk tulisan ini.

Referensi:

Lisa Kurnia Sari, Sp.PD-KR, FINASIM
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana
dan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi
RS Bethesda Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment