“Kurang Piknik” dalam Ruang Gema Apologetik

Saat Algoritma Menjebak Manusia untuk Terpolarisasi dan Berprasangka (1)

Bingkai464 Views

Di Indonesia, ada ungkapan yang sering dipakai untuk menyindir orang yang berpikiran sempit: “kurang piknik”. Biasanya istilah ini ditujukan kepada mereka yang terlalu lama hidup dalam lingkungan yang sama sehingga gagal melihat bahwa dunia jauh lebih luas daripada apa yang diyakini.

 

Saya dulu mengira istilah itu hanya lelucon belaka, sampai suatu saat menyadari, bahwa saya sendirilah sedang mengalami bentuk baru dari “kurang piknik” ini. “Kurang piknik” yang dialami bukan karena saya jarang bepergian, melainkan karena terlalu lama hidup di dalam ruang gema digital (echo-chamber) yang dipilihkan algoritma.

Saya adalah seorang Katolik yang bekerja di sebuah Yayasan Protestan. Dalam keseharian, saya dikelilingi oleh para pendeta yang baik, rendah hati, dan terbuka. Kami mengikuti renungan pagi, kebaktian, serta perayaan ekumenis secara berkala. Hidup beragama dalam keberagaman terasa damai dan indah, sama sekali tidak ada pemaksaan untuk meninggalkan iman sebagai umat Katolik.

Saya justru belajar dari para pendeta dan para penganut Protestantisme tentang kehidupan rohani, perwujudan kasih, serta transformasi batin. Di lingkungan Protestan ini pulalah saya mempelajari spiritualitas para orang kudus, mulai dari Bunda Teresa Kalkuta sampai mistisisme malam gelap St. Yohanes Salib. Suasana terasa begitu damai dan indah.

Situasi ini memicu saya untuk mempelajari agama lebih mendalam. Kemajuan dunia digital memungkinkan kita untuk belajar lebih banyak lagi melalui internet, media sosial, maupun kecerdasan buatan (artificial intelligence). Saya bisa mengikuti dan mendengarkan berbagai pengajaran dari para imam, baik dari dalam maupun luar negeri. Wawasan seakan-akan dapat menjadi semakin luas dengan mendapatkan banyak informasi dari dunia digital.

Namun, tanpa disangka, justru dengan mendapatkan pengajaran dari media digital itulah rasa damai ini jadi terusik. Suatu saat, di beranda saya, muncul sebuah renungan Katolik yang tampak menarik. Karena hasrat ingin memahami, tautan tersebut saya klik. Ternyata, tautan itu mengarahkan pada pengajaran apologetik yang mengatakan bahwa Protestantisme itu bidaah dan heretik.

Bagi saya, itu hanya satu klik saja. Namun, bagi kecerdasan buatan yang bekerja di balik layar, klik tunggal itu adalah umpan data. Begitu klik pertama dilepaskan, mesin rekomendasi langsung mengunci perhatian saya. Hari berikutnya, puluhan tautan dan video debat sejenis membanjiri beranda.

Berbagai macam video dari para imam Katolik yang sangat berpengaruh—termasuk imam akademisi yang mendidik para calon romo di seminari, menyampaikan pengajaran tentang doktrin dan dogma. Isi ulasannya disesuaikan dengan ajaran Gereja Katolik yang membela berbagai doktrin dan dogma tentang Bunda Maria, serta perdebatan mengenai sola scriptura. Terlepas dari isi, cara penyampaiannya memancing emosi dan perdebatan yang tak kunjung henti. Perbedaan ritual pun memicu hujatan. Kesan yang saya tangkap saat itu adalah seolah-olah hanya kelompok kami yang memiliki kebenaran penuh, sementara kelompok lain dipandang terutama melalui kesalahannya.

Melihat figur otoritas tampil seperti itu, saya mulai melakukan generalisasi instan: Jika sang pendidik di jantung institusi saja seagresif itu, apakah jangan-jangan Gereja Katolik secara resmi memang mengajarkan umatnya untuk kembali menabuh genderang perang terhadap umat Protestan di zaman ini?

Saya bukan ahli agama dan filsafat. Kemampuan saya dalam memahami berbagai doktrin dan dogma tentu saja tidak sebanding dengan kemampuan para imam yang memang khusus mempelajarinya. Namun, saya merasa kehilangan ajaran Katolik yang penuh kasih, membawa damai, dan mempersatukan. Saya merasa terguncang. Iman saya memang masih belum selesai. Saya lebih menikmati hidup dalam misteri inkarnasi dibandingkan mendapatkan suatu jawaban pasti.

Di sinilah iman Katolik saya diuji. Jika ada keharusan untuk memilih, saya lebih memilih cara beragama yang mengajarkan kasih dibandingkan cara beragama yang melahirkan permusuhan. Muncullah keraguan untuk tetap beriman sebagai umat Katolik. Kegalauan ini mempertemukan saya dengan Romo Martinus Joko Lelono Pr (Romo Joko). Algoritma YouTube ternyata mengarahkan saya untuk melihat podcast beliau tentang kerukunan beragama. Betapa bersyukurnya saya karena dapat secara langsung bertemu Romo Joko di Seminari St. Petrus dan Paulus Kentungan.

Romo Joko memperingatkan tentang bahaya ruang gema. Tanpa disadari, ternyata selama ini saya terseret ke dalam ruang gema buatan. Setiap kali membuka ponsel, layar saya dipenuhi video debat agama: Katolik tampak seperti benteng yang terus bertahan, dan Protestan tampak seperti musuh yang terus menyerang. Saya sempat mengira bahwa ketegangan di layar adalah realitas yang sesungguhnya. Padahal, yang saya lihat hanyalah potongan kecil yang dipilihkan algoritma, bukan gambaran utuh kehidupan Gereja.

Romo Joko mengajarkan saya untuk meninjau ulang pengaturan YouTube. Bila ada tautan tentang debat agama, kita bisa mengatur agar tidak lagi melihat hal yang sama. Alhasil, saya mengerjakan apa yang beliau anjurkan. Video tentang debat agama menjadi jarang muncul di beranda. Daftar video beralih menunjukkan tentang kerukunan beragama dan kehidupan para orang kudus. Saya jadi sadar. Saya lupa bahwa saya sedang tidak melihat realitas. Saya hanya sedang melihat potongan dunia sempit yang dipilihkan oleh algoritma. Dalam hal ini, ternyata saya perlu membedakan, mana yang betul-betul ajaran Gereja Katolik, dan mana sikap tokoh agama yang subjektif.

Saat itulah saya mulai menyadari bahwa persoalannya bukan semata soal Katolik dan Protestan. Persoalannya adalah cara dunia digital memperlakukan manusia. Konflik antar denominasi hanyalah salah satu contoh saja. Algoritma tidak dirancang untuk membantu manusia memahami sesamanya, melainkan untuk mempertahankan perhatian. Karena itu, konflik, polarisasi, simplifikasi, dan karikatur menjadi bahan bakar. Algoritma tidak pertama-tama bekerja untuk mencari kebenaran, melainkan pada apa yang membuat kita terus menatap layar. Yang sedang bekerja di balik layar bukan hanya perbedaan teologi, melainkan juga cara algoritma membentuk cara kita melihat kenyataan.

Namun, apakah akar ketegangan antar denominasi memang semata-mata akibat ruang gema digital? Pertanyaan itu mendorong saya untuk melihat persoalan ini lebih dalam. (Bersambung…)

Bagian 2: Mengapa Katolik dan Protestan Terus Berdebat?

Bagian 3:Magnifica Humanitas dan Godaan Ruang Gema

 

  • Penulis mengucapkan terima kasih pada Romo Martinus Joko Lelono Pr, Romo Yohanes Dwi Harsanto Pr, Pendeta Fendi Susanto, dan Pendeta Daniel Listijabudi, yang telah memberikan banyak ilmu dan masukan untuk tulisan ini.

 

Lisa Kurnia Sari, Sp.PD-KR, FINASIM
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana
dan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi
RS Bethesda Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment