Manggarai Barat. Resonansi spiritualitas dalam kehadiran yang memulihkan martabat dirasakan di Rumah Shelter. Kunjungan pastoral Yang Mulia Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus berlangsung pada tanggal 27 Maret 2026 bukan sekadar agenda administratif. Kunjungan ini merupakan sebuah perjumpaan eksistensial yang menegaskan kehadiran Gereja di tengah kaum yang terpinggirkan.
Dalam kunjungan ini uskup Labuan Bajo didampingi Rm. Rikardus Manggu, Pr (Vikjen), Rm. Fransiskus Nala Kartijo Udu (Sekjen) Romo Yuvensius Rugi, Pr (Vikep Labuan Bajo), Ketua
Komisi Komsos Keuskupan Labuan Bajo, Rm. Heribertus Ratu Pr dan Romo Ketua Komisi Kateketik Keuksupan Labuan Bajo Rm Hermen Sanusi Pr.
Kehadiran jajaran pimpinan Keuskupan di rumah Perlindungan perempuan (shelter) dan SSpS Flores ini merupakan manifestasi dari reksa pastoral yang menjemput bola. Sebuah bentuk
kehadiran struktural sekaligus rohani yang bertujuan memulihkan martabat manusia melalui kasih yang nyata.
Suasana kehangatan segera menyeruak saat pimpinan Rm. Rikardus Manggu, Pr (Vikjen), Rm.Fransiskus Nala Kartijo Udu (Sekjen) Romo Yuvensius Rugi, Pr Vikep Labuan Bajo), sekaligus
Ketua Karitas, dan Moderator Legio Maria, Rm. Heribertus Ratu Pr dan Romo Rm Hermen Sanusi Pr Ketua Komisi Kateketik Keuksupan Labuan Bajo. Kehadiran Keuskupan Labuan Bajo
menjadi simbol runtuhnya sekat-sekat birokrasi Gereja demi pelayanan yang holistik; di mana bantuan materiil (Karitas) dan pendampingan rohani (Legio Maria) menyatu dalam satu tarikan
napas misi kemanusiaan.

Dalam kata sambutannya Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus menyampaikan bahwa “kami semua dari Kuskupan menyampaikan salam sukacita untuk para suster disini, keluarga
besar shelter, dan teristimewa karena kita bisa berjumpa dan bergembira bersama pada hari ini, menikmati suasana kebersamaan dan juga suasana rohani spiritual melalui acara jalan salib
bersama” ungkapnya.
Mgr Maksi menyampaikan rasa senang karena berada diantara para suster dan juga terutama mama-mama disini, adik-adik, anak-anak di Shelter ini bersama dengan kami, dan semuanya
menikmati rahmat dan belas kasih Tuhan disini, menikmati suasana kegembiraan, saling mendukung, saling menguatkan, dan penghiburan satu sama lain.
“Bagi kami, tentu ini adalah satu hal yang mengembirakan dan memperkuat pengharapan kita dalam perjalanan bersama kita sebagai umat Tuhan. Keberadaan Suster SSpS ini memberi warna
yang khas, unik, dan memberi nilai lebih dari perjalanan pastoral bersama kita sebagai gereja lokal Keuskupan Labuan Bajo. Karena itu, kami dengan dukungan-dukungan kecil senantiasa
berusaha memperhatikan, melihat apa yang terjadi di sini dan tentu selalu ada di dalam ingatan dan doa-doakan kami.
Kami selalu berusaha untuk memberikan perhatian baik secara rohani pastoral maupun perhatian-perhatian lain pada perjalanan Rumah Shelter ini. Tentu saja hal sudah banyak yang
dilakukan di sini dan akan lebih banyak lagi mungkin hal-hal yang luar biasa yang dilakukan para Suster di tempat ini.
Kami berharap para Suster untuk tetap bertekun dalam pekerjaan dan pelayanan ini, diberi kekuatan, diberi sukacita dalam pelayanan-pelayanan yang tidak mudah dan pelayanan yang sulit
ini. “Saya yakin apa yang dikerjakan di sini adalah sesuatu yang diminta oleh Tuhan sendiri. Jadi lakukan itu semuanya itu dalam kegembiraan dan dalam sukacita.
Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus mengajak para remaja dan anak yang tinggal dirumah perlindungan agar tetap semangat khususnya selama proses pendampingan yang
dilakukan oleh para suster.
Gereja Bukan Sekadar Gedung Pelajaran Mengejutkan dari “Tahun Persekutuan Sinergis” di Labuan Bajo
Sering kali kita terjebak dalam persepsi keliru bahwa Gereja hanyalah sebatas bangunan fisik dengan altar yang megah atau struktur hierarki yang kaku. Kita cenderung mencari Tuhan di
balik wangi dupa dan keheningan ruang ibadah, namun melupakan bahwa inkarnasi Kristus terjadi di tengah hiruk-pikuk pergumulan manusia.
Rm. Hermen Sanusi Pr Ketua Komisi Kateketik Keuksupan Labuan Bajo menegaskan bahwa Keuskupan Labuan Bajo, melalui pencanangan “Tahun Persekutuan Sinergis” mencoba meruntuhkan tembok-tembok tersebut. Langkah radikal yang diambil Yang Mulia Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus untuk turun langsung mengunjungi komunitas rentan di shelter ini bukanlah sekadar seremonial belaka. Ini adalah pernyataan pastoral yang tajam bahwa Gereja yang sejati harus berani turun ke palung penderitaan manusia yang paling dalam.
Partisipasi adalah kata kunci dalam sinergi ini. Dalam kacamata pastoral, tidak ada umat yang dianggap sebagai objek pasif. Semua orang penting dan memiliki tempat. Melalui semangat ini,
Keuskupan ingin mewujudkan diri sebagai Gereja yang Solid dan Solider. Kokoh dalam iman namun peka secara sosial agar karya keselamatan dapat dirasakan secara nyata oleh setiap
pribadi, tanpa terkecuali.

Menemukan Gereja yang Hidup Melalui Jalan Salib Kesengsaraan
Momen paling menyentuh dari gerakan ini adalah ketika Bapak Uskup merayakan Jalan Salib bersama para penghuni shelter. Ini adalah sebuah simbolisme liturgis yang mendalam. Gereja tidak hanya mengunjungi, tetapi sedang berjalan bersama memanggul salib penderitaan di samping mereka yang terpinggirkan.
Bapak Uskup menegaskan sebuah perspektif yang melampaui batas institusional dengan menyebut kaum marginal ini sebagai Gereja yang hidup dan Gereja yang nyata. Uskup Labuan
Bajo tidak menempatkan mereka sebagai penerima santunan, melainkan sebagai subjek atau mitra dalam bersinergi. Wajah lain dari Gereja itu adalah mereka yang di shelter ini.
Di satu sisi, ada penegasan solidaritas bahwa Gereja berdiri di pihak mereka, menjamin bahwa mereka tidak sendirian dalam pergulatan hidupnya. Namun di sisi lain, sinergi ini juga membawa
semangat bertobat (semangat pertobatan).
Dukungan yang diberikan bukanlah dukungan yang membiarkan, melainkan dukungan yang transformatif. Ada ajakan bagi para penmghuni Shelter untuk masuk ke dalam proses pembaruan
diri. Inilah inti dari misi keselamatan yang holistic. Gereja merangkul mereka dalam kerapuhan, sembari menuntun mereka menuju pemulihan martabat sebagai citra Allah.
Kehadiran Uskup Labuan Bajo dirumah Shelter mengirimkan pesan kuat bahwa shelter ini adalah jantung hati pelayanan keuskupan, sebuah komitmen yang berdiri tegak di atas sinergi
seluruh elemen umat.
Kepala Shelter Perlindungan Perempuan dan Anak SSpS Flores Barat Sr. Frederika TangguHana,SSpS ketika diwawancarai menjelaskan bahwa mewakili ibu-ibu dan anak-anak dari hati
yang paling dalam kami sangat berterima kasih.
“Kami tidak menyangka bahwa Uskup yang mengurus ribuan umat masih bisa bertetemu dengan kami ungkapnya.kesan saya bahwa Yang Mulia sungguh seorang gembala yang sungguh-
sungguh kenal domba-dombanya ungkapnya.
Bapak Uskup kenal mana yang membutuhkan. Dan di momen ini adalah momen masa Prapaska, masa Puasa, khususnya Jumat Agung, peristiwa sengsara, Bapak Uskup datang. Saya menilai
bahwa Bapak Uskup ingin merasakan kesengsaraan dari konteks sebagai korban.
Itu yang saya lihat dari seorang gembala yang punya hati luar biasa sekali terhadap orang-orang kecil. Dan terima kasih untuk itu semua kebaikan dan inisiatif untuk menunjungi ibu-ibu dan
anak-anak. Ini satu hiburan besar, dukungan besar, dan berkat yang besar untuk kami semua, baik yang korban maupun kami yang bekerja, untuk terus melanjutkan pekerjaan urusan
kemanusiaan yang juga adalah pelayanan Gereja.
Berkaitan jalan salib bersama Mgr. Regus bersama kami dishelter bagi saya adalah bahwa Yesus ini menjalankan suatu pengorbanan yang luar biasa. Kalau melihat dari konteksnya, dia bukan
pendosa. Dia juga korban. Dan tujuannya untuk keselamatan kita.
Maknanya untuk anak-anak dan kami semua yang berada dengan anak-anak yang korban, Yesus maupun anak-anak berjalan bersama walaupun dalam konteksnya mereka bukan pelaku, dan
mereka itu adalah korban. Jadi hampir serupa dengan peristiwa Yesus. Dan saya mengharapkan anak-anak ini melewati jalan salib saat ini yang mereka alami, mereka pun harus setia menjalani agar memperoleh keselamatan.
Sinergi Pastoral dan Keberlanjutan Ekosistem Kasih
Kunjungan Yang Mulia Uskup Labuan Bajo pada 27 Maret 2026 ini menutup sebuah narasi tentang sinergi yang utuh. Kolaborasi antara hirarki keuskupan, dedikasi suster pengelola, dan
keteguhan hati para penghuni telah menciptakan sebuah ekosistem kasih yang nyata di Labuan Bajo.
Keuskupan menegaskan komitmennya untuk terus memberikan dukungan-dukungan kecil yang konsisten, baik secara materiil maupun melalui kehadiran rohani dan doa.
Momen ini menjadi pengingat bahwa Gereja hadir bukan sebagai institusi yang jauh, melainkan sebagai sahabat seperjalanan.
Dengan rencana pemberian sakramen baptis sebagai tonggak perjalanan berikutnya, masa depan rumah shelter ini terus dipenuhi dengan pengharapan. Melalui sinergi pastoral ini, Gereja lokal Keuskupan Labuan Bajo membuktikan bahwa manifestasi iman yang paling konkret adalah ketika kasih Tuhan dialami secara nyata oleh mereka yang paling membutuhkannya.
Vincentius Patno








