Gerobak Sampah Minggu Palma, Refleksi Sampah Dosa di Awal Pekan Suci

News859 Views

Bantul. Umat Paroki St. Yakobus Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendapat kejutan dari Rm. Cosmas Christian Timur, Pr kala memimpin Perayaan Ekaristi Minggu Palma, 29 Maret 2026 di Gereja St. Yakobus Bantul.

Dalam perarakan dari area parkir sepeda motor menuju ke dalam gereja, Pastor Vikaris Paroki yang akrab disapa Rm. Oot ini menaiki gerobak sampah yang ditarik, didorong, dan dijaga empat personel Pamja (Pengamanan Gereja) St. Mikael.

Seluruh umat terpesona dan kagum dengan ide yang tidak biasa ini. Rupanya, ide ini tercetus spontan pada Sabtu pagi saat Rm. Oot turun dari lantai dua pastoran dan bertemu Edmundus Singgih Nurhadi, salah satu satpam gereja.

Sebelumnya, Rm. Oot tiba-tiba berpikir, “Kira-kira Minggu Palma ini saya ingin memaknai bersama umat dengan apa?”

Pada saat bertemu Singgih itulah, Rm. Oot melihat ada gerobak sampah di pojokan parkiran. Kemudian, Rm. Oot bertanya kepada Singgih apakah gerobak sampah itu aman bila dinaiki. Singgih memastikan aman.

“Pada saat melihat tempat sampah itu, saya teringat dengan situasi beberapa waktu yang lalu di Yogyakarta yang mengalami darurat sampah,” ungkap Rm. Oot.

Situasi ini menjadi sebuah permenungan bagi Rm. Oot. Ketika Yesus memasuki Yerusalem dan dielu-elukan orang banyak, Dia memilih menaiki keledai.

Keledai dianggap sebagai hewan yang lemah, tetapi sebenarnya kuat, karena digunakan untuk membawa barang.

Ketika Rm. Oot memilih untuk menggunakan gerobak sampah dalam perjalanan perarakan bersama personel Pamja St. Mikael, ada beberapa permenungan yang ingin ia bawa kepada umat.

 

“Kita mengatakan amal kasih di dalam Prapaskah kita. Maka, kasih ini juga harus kita bawa di dalam lingkungan kita. Bagaimana kita menjaga lingkungan kita? Bagaimana kita menjaga sampah-sampah kita supaya dibuang pada tempatnya, supaya kemudian tertata sehingga darurat sampah tidak terjadi lagi kepada kita,” renung Rm. Oot.

Ia pun berharap ada pihak-pihak terkait yang melihat dan mendengarkannya saat berbicara tentang hal itu pada Perayaan Ekaristi Minggu Palma ini. “Semoga juga bisa menjadi kritik untuk kemudian diatur lebih baik lagi supaya pembuangan sampah dan yang lainnya juga lebih dijaga. Tetapi kita juga harus mulai mengatur itu semua,” tutur Rm. Oot.

Selanjutnya, Rm. Oot mengatakan tempat sampah umumnya dianggap sesuatu yang menjijikkan. “Padahal, sebenarnya kita sendiri adalah tempat sampah. Banyak sampah dosa di dalam diri kita, tetapi kita merasa baik-baik saja. Maka, masa Prapaskah yang kita lalui sampai dengan hari ini adalah masa pertobatan. Kita bersihkan tempat sampah kita ini supaya diri kita yang kadang sok suci ini juga merasakan bahwa saya juga sebenarnya tidak layak di hadapan Tuhan,” urainya.

Namun, satu hal mesti umat lihat dari permenungan ini ialah Tuhan berkenan hadir di dalam diri manusia yang tidak layak ini.

Rm. Oot menunjukkan, di dalam Pasio yang dibacakan pun diceritakan bagaimana Tuhan Yesus dicemooh, disingkir-singkirkan, tetapi Dia tetap ada di dalam diri manusia.

“Lebih dari itu, Tuhan Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita yang penuh dosa ini, yang tempat sampah dosa ini. Maka, kita syukuri hari ini ketika Tuhan mengajak kita, orang yang berdosa ini, orang yang penuh sampah dosa ini, boleh mengelu-elukan-Nya memasuki Kota Yerusalem, boleh mengatakan, ‘Hosana Putra Daud.’ Kemudian, kita juga diajak semakin merasakan bahwa Tuhan Yesus sedemikian berkenan kepada kita orang yang berdosa ini,” renung Rm. Oot.

Ia lantas merefleksikan, seakan-akan Tuhan Yesus lemah, tetapi Dia kuat. “Kita pun kadang lemah, jatuh di dalam dosa. Tetapi bersama Tuhan Yesus, seharusnya kita merasa semakin dikuatkan,” ujarnya. “Maka, saya mengajak Anda semua pada hari Minggu Palma ini untuk membawa pulang diri kita yang tempat sampah ini. Kita bawa diri kita untuk kemudian memasuki Tri hari Suci nanti dengan hati yang semakin rendah hati bahwa tanpa Tuhan, kita bukanlah apa-apa.”

Usai Perayaan Ekaristi, umat masih memperbincangkan kesan mereka atas pilihan Rm. Oot untuk menaiki gerobak sampah. Sebagian bertanya-tanya mengapa gerobak sampah itu tidak dihias, hanya diberi beberapa batang daun palma.

Kepada UTUSAN.NET Rm. Oot mengatakan ia ingin gerobak sampah itu terlihat apa adanya, autentik. “Supaya tetap kelihatan gerobak sampahnya,” tegasnya.

Willy Putranta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *