Lagu Inkulturasi dalam Madah Bakti: Cermin Gereja Merawat Kebinekaan Indonesia

News1555 Views

Yogyakarta. Pada Jumat, 11 Juli 2025, Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta genap berusia  54 tahun. Selama lebih dari setengah abad, PML telah memberikan pelayanan kepada Gereja Indonesia melalui lagu-lagu inkulturasi.

Kiprah PML selama 54 tahun tidak bisa dilepaskan dari para pendiri, Rm. Karl-Edmund Prier, SJ dan Paul Widyawan sebagai duo partner yang berproses dalam pembuatan lagu liturgi Gereja, khususnya inkulturasi.

PML sebagai lembaga independen di bawah Jesuit (Serikat Jesus), seperti dikatakan Rm. Prier dalam bukunya Hidup untuk Musik (2023), telah menghasilkan ratusan lagu inkulturasi Gereja dari berbagai daerah di Nusantara. Bisa dibayangkan begitu kayanya budaya Indonesia yang disajikan dalam buku Madah Bakti (MB).

Madah Bakti merupakan karya besar untuk kalangan umat Katolik sejak 1985 hingga kini. Hampir semua lagu yang tersaji berasal dari Sabang sampai Merauke, dengan gaya khas daerah masing-masing. Dapat dikatakan, Madah Bakti merupakan sebuah karya spektakuler di antara sajian buku panduan ibadat yang jarang terjadi dilakukan oleh instansi pemerintah sekalipun, karena memuat ciri lagu khas Indonesia yang disebut inkulturasi.

Lagu-lagu tersebut merupakan hasil lokakarya PML di daerah yang bertujuan membantu pemusik lokal berbagi pengalaman serta belajar bagaimana melahirkan sebuah (musik) liturgi yang bermutu.

Dalam lokakarya, PML selalu melibatkan masyarakat umum (akar rumput), mulai dari tokoh masyarakat, guru, tokoh adat, musikus, penari, budayawan, ibu rumah tangga, hingga petani pun terlibat untuk menghasilkan lagu bermutu dalam ibadat.

Namun, lagu-lagu inkulturasi di dalam Madah Bakti bukan mengambil begitu saja budaya dalam masyarakat tersebut tanpa diolah. Proses pembuatan lagu inkulturasi melibatkan para ahli untuk menghadirkan sebuah karya seni yang tinggi sehingga karya tersebut membawa nilai seni yang bermutu.

Gerry Gerald Pratomo memberikan pemaparan materi dalam kongres.
Kekuatan syair lagu

Pada hari ke dua Kongres Nasional Musik Liturgi Inkulturasi 2025 di Auditorium Auditorium Puskat Yogyakarta, Kamis, 10 Juli 2025 Sesi III, Gerry Gerald Pratomo membedah lagu Cahaya Suci dari Madah Bakti (MB 220) bergaya Sunda karangan Paul Widyawan.

Kekuatan lagu ini terletak pada syairnya yang didukung melodinya. Dalam bait pertama lagu tersebut menuju pada hal yang kuat (terang). Tersaji dalam syair: “Direlung gunung-gunung kunanti surya berseri. Sang cahya menerangi hati benderang sepanjang hari.”

Sementara bait kedua menuju (arah gelap) tersaji dalam syairnya: “Kendati mendung, menyapu terang hati.” Lalu kembali ke syair terang dengan nada kuat: “Cahaya kami terima, niatan kami makin terbina, laksana Surya yang bulat berseri, iman suci benderang sepanjang hari.”

“Pada bait pertama lagunya terasa enak, ada pengharapan, dengan adanya kata ‘Surya berseri’. Bait kedua agak berbeda karena ada suasana berbeda, bisa lihat syair ‘kendati mendung’, kemudian kembali ke suasana cerah, ada pengharapan karena datangnya ‘cahaya’ yang melambangkan suatu pengharapan,” jabar Gerry.

Diskusi ini mendapat beragam tanggapan antusias dari peserta kongres. Maria Goreti Widyastuti, salah satu peserta, mengungkapkan, “Lepas dari bedah syair ini, garapan lagu dari almahum Pak Paul saya rasakan mengena. Mulai dari lagunya, syairnya, melodinya. Itulah kelebihan dan kepiawaian Pak Paul Widyawan dalam mengaransemen lagunya. Hal ini saya rasakan semenjak ikut menyanyi dengan grup Vocalista Sonora dari tahun 1979.”

Bagi Tutik, sapaan akrabnya, kekuatan lagu terseut sungguh dapat menyentuh hati. Ibarat makanan, sudah pas racikannya sehingga lagu tersebut memang bagus. “Karena Pak Paul menggarap dengan hati, itu yang saya rasakan. Inilah pentingnya diadakannya kongres. Bila nanti ada yang dibawa pulang, salah satu contohnya dalam membedah lagu dan tentu terkaitan keilmuan yang didapat dari sini,” tambah Tutik.

Ditutup Misa Syukur

Kongres Nasional Musik Liturgi Inkulturasi 2025 akan diakhiri dengan Misa Syukur, dilanjutkan pentas kor oleh Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Soli Deo Gloria Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik (Pendikkat) angkatan 2024 Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta. Para mahasiswa dari Kampus V, satu kompleks dengan PML, ini akan menampilkan lagu-lagu inkulturasi dari Madah Bakti.

Kongres Nasional Musik Liturgi Inkulturasi 2025 pada 9 – 11 Juli 2025 ini juga merupakan upaya untuk me-refresh kembali budaya kearifan lokal agar tetap dipakai dalam Gereja. Sebab, lagu-lagu inkulturasi dalam Madah Bakti adalah manifestasi kelokalan budaya yang sesungguhnya dalam balutan inkulturasi Gereja di Indonesia. Lagu inkulturasi juga merupakan cermin Gereja dalam merawat kebinekaan Indonesia.

Danan Murdyantoro 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. Ulasan padat yang apik dan merangkum seluruh kegiatan kongres musik liturgi inkulturasi yang dudah berlangsung dengan gemilang.
    Sekedar evaluasi dari saya, karena kongres itu ada kata nasionalnya, diharapkan nanti kalau ada kongres lagi bisa menjaring lebih dari 61 peserta ( lebih banyak dari panitianya ) 🙂 biar marwah kongresnya bisa lebih bergema.
    Tetap semangat mas Danan.
    Berkah Dalem.