Jakarta. Direktur Internasional Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia (Pope’s Worldwide Prayer Network/PWPN) Rm. Cristóbal Fones, SJ tiba di Indonesia pada Sabtu, 22 Februari 2025. Usai mendarat dari Singapura di Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta, Rm. Cristóbal bersama tim Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia-Indonesia mengunjungi Katedral Jakarta.
Rm. Cristóbal bersama rombongan disambut Rm. A. Hani Rudi Hartoko, SJ (Pastor Paroki Katedral Jakarta) serta imam rekan Rm. Macarius Maharsono Probho, SJ dan Rm. Yohanes Deodatus, SJ yang kemudian mengajak berkeliling ke Museum Katedral, Terowongan Silaturahim, dan Masjid Istiqlal.
Didi Hadian, Humas dan Protokol Badan Pengelola Masjid Istiqlal, menerima kedatangan Rm. Cristóbal mulai dari pintu Terowongan Silaturahim dari sisi Gereja Katedral hingga mengajak masuk ke dalam masjid terbesar ketiga di dunia itu.

Didi menerangkan, tujuan dibangunnya Terowongan Silaturahim ini ingin menunjukkan toleransi yang sangat utuh, saling menghormati dan menghargai, tampak dan terwujud di Indonesia. Terowongan ini dibangun di bawah tanah dengan kedalaman 8 meter, panjang 33 meter, dan lebar 5 meter.
“Kalau kita dekat dengan katedral, terdengar suara lonceng. Tapi kalau sudah di tengah-tengah, akan terdengar suara beduk, yang menyimbolkan sudah dekat dengan masjid,” sebutnya sembari menunjukkan posisinya.
Beduk, lanjutnya, cuma ada di Indonesia. Di negara-negara lainnya tidak ada beduk di masjid-masjidnya. “Ini kreativitas kaum Muslim di Indonesia karena teknologi delay di negara kita ini. Beduk itu menandakan waktu salat lima kali dalam sehari, sedangkan azan memanggil orang untuk melaksanakan sembahyang,” jelas Didi.

Tentang Masjid Istiqlal, Didi menjelaskan nama masjid ini berarti “merdeka”. Masjid ini menjadi simbol syukur kepada Tuhan atas kemerdekaan bangsa Indonesia setelah 350 tahun dijajah Belanda dan 3,5 tahun dijajah Jepang.
Usai kunjungan, Rm. Cristóbal mengungkapkan dirinya merasa diberkati karena dapat merasakan persaudaraan dan harmoni yang sungguh menunjukkan (kehadiran) Kerajaan Allah. “Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus. Saya juga bangga karena sungguh diterima di sini. Ada banyak kegembiraan bersama para peziarah dan kelompok Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia-Indonesia yang menunjukkan wajah kemanusiaan yang universal,” ungkapnya.
Di Katedral, Rm. Cristóbal terkesan dengan sejarah Gereja Katolik di Indonesia serta banyaknya umat yang mengunjungi Porta Santa (Pintu Suci) di Katedral, berdoa di Gua Maria, serta mengikuti Perayaan Ekaristi. “Saya datang dari Eropa yang gereja-gerejanya kosong. Berbeda dengan di sini, umat sangat antusias datang ke gereja,” pandang imam Jesuit asal Chili, Amerika Selatan ini.
Tentang Masjid Istiqlal, Rm. Cristóbal terpukau dengan bentuk bangunannya yang besar, megah, indah, dan bersih. “Keberadaannya yang berdekatan dengan Katedral, saya merasakan Tuhan Yesus menghubungkan keduanya yang disimbolkan dengan Terowongan Silaturahim,” pungkasnya.








