Bantul. Minggu, 27 Oktober 2024, anak-anak usia prasekolah hingga SD dan SMP mengikuti acara bertema “Tresna Gusti, Tresna Budaya” (Cinta Tuhan, Cinta Budaya) di SLB G-AB Helen Keller Indonesia Sedayu, Bantul, D.I. Yogyakarta. Acara ini merupakan salah satu rangkaian dari Perayaan HARPA (Hari Paroki) Gereja St. Theresia Sedayu ke-97.
Anak-anak datang dengan ditemani oleh orang tuanya. Mereka duduk secara lesehan menggunakan tikar serta mengikuti kegiatan dengan baik dan antusias.

Theresia Paramita Jati, salah satu anggota tim pelayanan PIA, mendampingi panitia dalam kegiatan ini. “Dari awal sampai akhir temanya terkait dengan budaya-budaya. Kami melihat dari kebutuhan anak-anak itu apa hingga memunculkan konsep yang mengenakan baju main atau dolan dan sedikit mengaitkan beberapa budaya Jawa yang ada di Jogja karena (anak-anak ini) belum sepenuhnya mengenal lebih konkret,” tutur Mita, sapaan akrabnya.
Nilai-nilai yang ingin disampaikan yakni mengenal Tuhan Yesus dengan berbagai macam cara, antara lain menyajikan dolanan (permainan) ular tangga disertai lagu-lagu sehingga suasananya lebih happy kemudian berbagi dengan teman melalui kado silang yang diberi ungkapan dalam wujudnya tulisan. “Hal ini bertujuan untuk mengajak anak-anak ikut ambil bagian menjadi saksi Kristus atau pewarta kabar gembira bagi sesama,” jelas Mita.

Alasan memilih tema budaya karena SLB G-AB Helen Keller Indonesia dan Paroki Sedayu berada di lingkungan Yogyakarta sehingga mayoritas acaranya menggunakan bahasa Jawa yang patut dilestarikan bersama. “Tempat ini kami pilih karena gereja sudah digunakan untuk Misa kaum disabilitas Kevikepan Yogyakarta Barat. Selain itu, tempatnya luas dan suster yang berada di sini welcome kepada kami, panitia,” sebut Mita.
Sepanjang acara, Mita mengaku mencoba have fun dan percaya diri untuk memperkenalkan berbagai budaya agar anak-anak ikut happy. “Tradisi atau budaya yang kami kenalkan ini kiranya akan membekas dan dikenang di memori anak, yang pastinya menjadi generasi penerus ke depannya. Maka, kami mengusahakan yang terbaik untuk anak-anak,” ucapnya.

Ia pun berharap acara seperti ini diadakan kembali, tetapi dengan situasi yang berbeda karena anak-anak menyukai beberapa hal variatif dan menyenangkan. Ia menyanggah bahwa untuk menciptakan semangat anak-anak berarti harus menyiapkan ice breaking yang seru dan diminati, melainkan harus pandai mencairkan suasana agar tidak terkesan monoton. “Acara ini dikemas secara sederhana supaya dapat mengena di setiap anak,” tegas Mita.
Di tengah acara, semua peserta menyaksikan aksi paramotor dari dua anggota OMK paroki yang terjun di dunia atlet. Mereka secara bergantian mengelilingi tempat acara berlangsung. Aksi ini mampu menjadi pusat perhatian anak-anak dan orang tua karena saat itu juga pandangan mereka langsung terfokus melihat ke atas.








