PML Luncurkan Buku “Menabur Benih” di Petra FM

News1722 Views

Sleman. Senin, 22 Juli 2024, pukul 18.00 – 19.00 wib, di Radio Petra FM, tim Pusat Musik Liturgi (PML) terdiri dari Gading, Hesty, serta Danan Mr.meluncurkanbuku baru Menabur Benih yang berisi tentang kenangan perjalanan Rm. Dr. (HC) Karl-Edmund Prier SJ. Peluncuran buku ini sekaligus kado hari jadi ke-53 PML pada 11 Juli 2024.

Acara ini terselenggara berkat kerja sama dengan Radio Petra di Jl. Pusung II No. 8 Banteng, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, D.I. Yogyakarta yang dipandu Arya dari Petra FM dalam acara Rest and Relaxs.Selama satu jam penuh tim PML memperbincangkan isi dari buku baru tersebut.

Secara garis besar, buku ini berisi tentang beberapa kenangan, dari relasi dan kolega alm. Rm. Prier sewaktu berkarya di PML. Tidak terduga, begitu banyak peristiwa tercatat dari sebuah kenangan seseorang, yang di dalamnya terdapat sebuah oasis, juga unek-unekterhadap sosok Rm. Prier.

Dari aneka ekspresi sehari-hari, mulai bentuk kemarahan, rasa kekaguman, cambuk, empati, contoh bentuk rendah hati, pendorong semangat, pujian, bahkan sebagai contoh/panutan hidup, semua terekam dalam karangan orang-orang terdekatnya. Itulah garis besar tulisan yang ada dalam buku ini.

Namun, di balik itu sebenarnya bila ditelisik lebih jauh, ada maksud luhur dari ketokohan seorang sosok Rm. Prier, yakni mendidik calon petugas Gereja (organis, kor, dan dirigen) yang tangguh, punya pendirian, serta ketegasan dalam menjalankan tugas keseharian. Semua tersaji dalam buku kenangan ini, yang merupakan wujud ungkapan jujur yang dirasakan oleh tiap personal dalam mengenal Rm. Prier.

Ada hal menarik dari berbagai tulisan yang ada, yakni dengan sebuah ungkapan bahwa Rm. Prier merupakan sosok pribadi yang mempunyai cita dan keunggulan yang tak dapat dibandingkan dengan gaya pendidik di mana pun. Di samping punya kelembutan, ia tetap memiliki bentuk ketegasan kala mengajar. Itulah gaya mengajar Rm. Prier, yakni perpaduan antara budaya Barat yang dikombinasi dengan budaya ketimuran, yang banyak dirasakan oleh para siswanya, dalam pendidikannya.

Seperti diungkapkan Hany Kusuma, ia sempat down atau putus asa ketika masuk pertama kali kursus di PML karena harus menyesuaikan dengan materinya. Namun, pada saat demikian, dia memperoleh kesempatan, dimotivasi, diberi semangat bahkan tidak dipatahkan, dan itu dirasakan ketika kursus diampu sendiri oleh Rm. Prier. “Mungkin kalau guru yang lain, bisa jadi saya sudah ‘dibinasakan’ untuk stop kursus karena kemampuan saya. Namun, sepertinya bukan itu tipe Rm. Prier. Beliau begitu sabar membimbing siswanya,” katanya bangga.

Hal senada dirasakan Angela Justina K, siswa Kursus Organ Jarak Jauh (KOGJJ) asal Cirebon. Ketika mengikuti pelajaran kursus, ia merasakan ada ketegasan, bentakan, hingga kemarahan. Namun demikian, bagi Angela sebenarnya ini adalah wujud perhatian Rm. Prier. “Ini wujud gemblengan terhadap siswa yang sesungguhnya, karena dapat melatih siswa agar ke depan tidak kaget bilamana menemui persoalan yang berat dan harus dilalui,” ungkapnya.

Buku Menabur Benih yang diluncurkan di Petra FM.

Ada yang menarik atau sepesifik dari orang terdekat, yang selama ini yang belum terungkap secara gamblang. Buku kenangan kali ini seperti memberi jawaban tentang ekspresi perasaan yang sesungguhnya. Seperti diungkapkan Djohan Salim, sebenarnya Rm. Prier adalah seorang mentor dan gembala sejati dalam karyanya.

Hal ini dirasakan ketika merasakan adanya kebekuan di hatinya kala itu, bahkan tebersit “membenci” dalam dirinya. Namun, rupanya Djohan salah mengartikan karena kebencian waktu itu dirasakan sekarang. Bahkan situasi itu berhasil mengantarkannya sebagai seorang dosen yang punya gelar doktor.

Hal ini berawal ketika Djohan diminta untuk mengarang dalam Majalah Warta Musik (terbitan PML, yang sampai hari ini masih terbit). Karangan itu langsung dicoret dengan spidol warna merah. “Anda bodoh sekali, mengarang saja tidak bisa,” kata Rm. Prier yang menyayat hati, bahkan sampai luka batin, hingga ia mengundurkan diri dari kegiatan PML tanpa sepatah kata pun untuk pamit.

Namun, ketika Djohan lulus sebagai doktor, dengan tak terduga Rm. Prier justru mengucapkan selamat atas prestasinya melalui telepon. Seketika itu Djohan ingin bertemu Rm. Prier dan mengaku dosa. “Mengapa Djohan membenci saya? ‘Kan sekarang ada hasilnya,” tanya Rm. Prier membuat Djohan sungguh terharu mendengar kalimat bijak ini.

“Kalau tidak ada Rm. Prier, saya tidak ada hari ini,” ungkap Djohan jujur.

Rasa khas Indonesia

Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Rm. B. Hari Juliawan, SJ, menyebut Rm. Prier sebagai pejuang inkulturasi sejati. “Gereja tidak akan semeriah ini tanpa kehadirannya. Ke-Indonesia-an dalam wajah keragaman budaya seperti diperjuangkan Rm. Prier perlu tetap menjadi penanda Gereja Indonesia,” demikian kesannya.

Dapat dikatakan, keilmuan Rm. Prier begitu mumpuni karena kepiawaian dalam bidang musik. Beliau juga seorang guru, pengarang buku sejarah musik, buku ilmu bentuk musik, buku organis, buku kor, buku teori musik, buku Madah Bakti sebagai lagu liturgi Gereja, buku musik umum dan sebagainya.

Tentang Rm. Prier sendiri, Djohan bahkan menyebut paling pas bila almarhum disebut sebagai “empu”, yakni orang yang “mumpuni” di bidang musik Gereja dan musik umum.

Buku Menabur Benih, mengambil judul dari salah satu judul aransemen iringan organ, yang belum terpublikasikan, bersama lima puluh aransemen iringan lainnya dalam buku ini. Semua menunjukkan rasa kebinekaan dalam wujud karya musik sesuai daerahnya, dari hasil lima puluh tujuh kali lokakarya di pelosok tanah air hingga tahun 2015.

Secara garis besar, buku ini khusus dibuat para kolega Rm. Prier yang tentu mempunyai ciri khas dan daya tarik tersendiri dari tiap penulisnya. Sebagai buku kenangan, buku ini cocok untuk dibaca siapa pun. Baik pelajar, akademisi, pemerhati musik Gereja, dan pembaca pada umumnya. Terlebih dapat digunakan oleh kalangan praktisi dan petugas musik Gereja, terutama organis, dirigen, ataupun kor, agar selalu bermain musik dan bernyanyi dengan hati.

Hal ini sesuai moto PML, “Melalui Musik yang Bermutu, Menggerakkan Hati Orang,” yang selalu diucapkan Rm. Prier di setiap kesempatan mengajar, seperti diuraikan pimpinan PML Elisabeth Twitien Sezi dalam pengantar buku ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *