Merti Sungai Winongo, Umat Katolik Paroki Jetis Gotong Royong bersama Warga

News1591 Views

Yogyakarta. Umat Katolik dari Paroki St. Albertus Agung Jetis bersama warga RT 14 RW 03 Jatimulyo, Kricak, mengadakan kegiatan Merti Sungai Winongo, Minggu, 14 Juli 2024. Kegiatan dipusatkan di area sempadan sungai yang melewati wilayah mereka, yang bersebelahan dengan Kampung Kricak Kidul dan Kampung Bener.

Lokasi ini dulunya merupakan tanah kosong yang kumuh, tetapi kini perlahan mulai tertata dengan baik, bahkan sering digunakan untuk tempat berkumpulnya warga.

Kegiatan Merti Sungai yang diprakarsai Tim Pelayanan Kemasyarakatan Gereja St. Albertus Agung Jetis ini juga melibatkan komunitas Tagana Kricak serta perangkat pemerintahan setempat, yakni Pemerintah Kalurahan Kricak, Polsek Tegalrejo, dan Koramil Tegalrejo.

Suasana gotong royong warga bersama umat Katolik Paroki Jetis.

Kegiatan diawali dengan penyerahan alat kebersihan dan tanaman hias secara simbolis oleh Pastor Paroki Jetis, Rm. Vincentius Suparman, Pr, kepada Ketua RT 14 Joko Hariyanta.

Rm. Parman mengingatkan agar semua manusia beriman memiliki tanggung jawab melestarikan dan menjaga keutuhan ciptaan Tuhan. Karena itu, gotong royong yang dilakukan warga bersama umat Paroki Jetis menjadi hal baik agar manusia ikut mencintai lingkungan dan bersama-sama menjaga serta merawat lingkungan.

“Membangun paseduluran (persaudaraan) dengan bersama-sama merawat dan menjaga keutuhan ciptaan adalah tugas umat beriman. Maka, kegiatan Merti Sungai ini perlu kita dukung sebagai upaya membangun paseduluran agar kita manusia ikut mencintai, bersama-sama menjaga dan merawat lingkungan,” pesan Rm. Parman.

Sementara itu, Joko menyampaikan terima kasih atas dukungan umat Katolik Paroki Jetis yang peduli pada lingkungan di wilayahnya. Terutama dalam mendukung upaya warga memanfaatkan area pinggiran sungai menjadi produktif. “Dulu tempat ini hanya tanah kosong yang kotor. Sejak dua tahun terakhir, kami mulai membenahi. Harapan ke depan, tempat ini bisa menjadi ruang interaksi sosial sekaligus untuk meningkatkan perekonomian warga,” harap Joko.

Kegiatan Merti Sungai dimulai sekitar pukul 06.30, diawali dengan bersih-bersih lingkungan dan pemilahan sampah. Sejak dua tahun terakhir, warga RT 14 telah melaksanakan pengelolaan sampah mandiri dengan koordinator pengurus RT. Setiap hari, petugas akan mengambil sampah kemudian dibawa ke tempat pembuangan sampah mandiri.

Komunitas Tagana Kricak bersama umat Katolik Paroki Jetis melakukan aksi bersih sampah di pinggiran Sungai Winongo.

Joko mengakui pengelolaan sampah yang dilakukan warganya masih sangat sederhana. “Iya, masih sangat sederhana. Apa yang bisa dilakukan warga saja. Namun, itu lebih baik daripada harus menunggu pemerintah,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, saat ini Yogyakarta berada dalam fase darurat sampah, setelah Tempat Pembuangan Sampah terpadu (TPST) Piyungan ditutup sejak Maret 2024.

Dampak dari penutupan TPST Piyungan membuat warga membuang sampah seenaknya, termasuk ke sungai. Maka, kegiatan Merti Sungai ini menjadi momentum untuk menyadarkan dan mengingatkan warga serta pemerintah untuk sama-sama peduli pada lingkungan. Termasuk mengelola sampah di lingkungan. Jika perlu, meningkatkan nilai ekonomi sampah melalui daur ulang.

Dalam kegiatan ini, umat Paroki Jetis bersama Komunitas Tagana Kricak juga turun ke sungai untuk membersihkannya dari tumpukan sampah. Dari pantauan di lapangan, di sepanjang Sungai Winongo ini masih banyak ditemukan tumpukan sampah plastik yang tersangkut dipinggiran talud. Dampaknya selain membuat pemandangan tidak sedap, juga menimbulkan pencemaran air dan dapat menyebabkan banjir.

Foto bersama warga RT 14 dan umat Katolik Paroki Jetis.

Mendapat dukungan lurah

Lurah Kricak, May Christianti, yang hadir juga menyampaikan apresiasi atas insiaitif dan peran serta warga RT 14 bersama umat katolik Paroki Jetis yang mengadakan kegiatan Merti Sungai. Ia berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut dan dilakukan oleh warga di RT lain, agar pinggiran Sungai Winongo di wilayah Kricak menjadi bersih dan asri. Christanti juga menyatakan dukungan agar area sempadan Sungai di RT 14 ini bisa dikembangkan menjadi ruang interaksi sosial yang produktif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Kami terus mendorong agar tanah yang ada ini bisa bisa dimanfaatkan secara luas. Namun, saat ini masih terkendala status kepemilikan yang tidak jelas. Harapannya, bila area ini menjadi Ruang Terbuka Hijau Publik, maka untuk pembangunan fasilitas-fasilitas yang ada di atasnya bisa dianggarkan oleh pemerintah kota Yogyakarta,” terang Christianti.

Acara Merti Sungai diakhiri dengan dahar kembul dan hiburan dari masyarakat setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *