Ada banyak kesulitan yang dijumpai untuk masuk ke dalam doa yang khusyuk dan mendalam. Godaan untuk sulit/tidak mau berdoa paling banyak muncul dalam tiga bentuk, yaitu distraksi (godaan tidak fokus), kekeringan rohani, dan kemalasan rohani.
Distraksi dalam doa tidak melulu berupa gangguan kebisingan yang merusak suasana hening doa. Distraksi sering kali muncul dalam lanturan, ingatan, pikiran (overthinking)yang mengganggu fokus berdoa bersama Tuhan. Kita tidak bisa menyalahkan distraksi yang mudah muncul. Cara kita menghadapi distraksi adalah dengan sikap kewaspadaan dan “berjaga-jaga” dalam doa, seperti diajarkan dalam Injil Matius 24: 42.
Kita harus menyadari setiap distraksi yang muncul agar pikiran tidak terbawa arus lanturan yang menjauhkan kita dari Tuhan. Setelah menyadari distraksi, kita harus “meminta” pada kesadaran kita untuk menghentikan lanturan itu dan memusatkan kembali perhatian pada Tuhan dalam doa.
Masa kekeringan rohani terkadang juga melanda batin seseorang yang merasa bahwa hati mereka terpisah begitu jauh dari Tuhan. Orang yang mengalami kekeringan rohani biasanya kehilangan selera, gairah, kepekaan perasaan, memori, dan perhatian pada segala yang bernuansa rohani.
Sering kali kita tidak tahu apa penyebab masa kekeringan rohani ini melanda kita. Kekeringan rohani bisa terjadi karena situasi diri kita sendiri (sedang sakit, stres, sedang banyak beban) atau karena Tuhan yang menghendaki itu terjadi pada kita. Inilah dinamika pengalaman iman yang merupakan pendulum yang terus berayun antara momen konsolasi (sukacita, dekat dengan Tuhan) dan desolasi (kering, jauh dari Tuhan).
Masa kekeringan rohani itu seperti hari-hari yang kelabu. Mengalami hari yang kelabu dan suram adalah yang wajar, tetapi jangan sampai hati kita ikut menjadi kelabu dan suram. Hati yang suram merupakan bahaya rohani yang membuat terang Tuhan tidak dapat menyinari hati kita yang tertutup. Maka, meski hari kelabu menghampiri, kita harus tetap menjaga agar hati kita tetap terbuka pada sentuhan Tuhan dan setia dalam penantian akan harapan yang akan datang.
Kemalasan untuk berdoa kadang muncul karena kita tidak menemukan lagi sukacita atau hal yang baru dan menarik dari doa. Ini bisa terjadi karena kita kecewa pada ekspektasi pada doa yang diasosiasikan sebagai sarana pengganda perasaan senang terus-menerus (ekstasis). Padahal hidup harian sering kali bukan suatu ingar-bingar, tetapi hal biasa yang rutin berulang.
Untuk melawan kemalasan rohani, kita perlu memahami makna sejati dari sukacita. Sukacita bukanlah ingar-bingar dan suasana senang-senang superfisial. St. Fransiskus menyebutkan, sukacita rohani itu bukan soal kekayaan rohani yang kita terima dari surga, tetapi suatu proses melangkahkan kaki secara konsisten langkah demi langkah. Proses melangkah ini terus konsisten meski harus melewati lembah yang gelap dalam pengalaman yang buruk, ditolak, dianiaya, atau kehilangan.
Orang-orang Kudus juga pernah melewati lembah gelap dalam pengalaman doa yang lesu dan tanpa antusiasme. Kita harus belajar terus melangkah secara konsisten dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, meski di masa sulit ini seakan-akan Engkau seperti membuatku berhenti percaya pada-Mu, tapi aku tetap terus berdoa kepada-Mu.”
Terus “berjalan” dalam doa artinya kita juga bisa saja menyampaikan protes atau kemarahan yang jujur di hadapan Tuhan, seperti Nabi Ayub yang dalam cobaan tetap berjalan menuju Tuhan.
Ishak Jacues Cavin
Disarikan dari Audiensi Umum Paus Fransiskus 19 Mei 2021








