Sleman. Sekitar 600 pelajar Katolik tingkat SMA/SMK negeri dan swasta se-Kabupaten Sleman yang tergabung dalam Srawung Pelajar Katolik Sleman (SPKS) berkumpul di aula Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta. Perbedaan almamater melebur dalam satu semangat yang sama, terlukis jelas pada tulisan di kaos panitia: We Need Jesus.
Kegiatan temu pelajar yang digelar pada Sabtu, 12 September 2026 ini mengusung tema “Muda, Guyub, dan Beriman” dan dihadir CB. Ismulyadi, S.S., M.Hum. (Penyelenggara Katolik Kementerian Agama Kabupaten Sleman), Rosalia Sri Purwaningrum, S.Pd., M.Pd. (Pengawas Pendidikan Agama Katolik jenjang SMP/SMA/K), para frater Seminari Tinggi St. Paulus (pendamping SPKS), dan guru pendidikan agama Katolik dari berbagai SMA/K negeri serta swasta di Kabupaten Sleman.

Ismulyadi menegaskan kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Ia mengajak para peserta sungguh-sungguh membangun silaturahmi (srawung) lintas sekolah, seraya berterima kasih kepada para guru pendamping yang telah bekerja keras di balik layar.
“Melalui temu pelajar, kita dapat saling mengenal pelajar Katolik dari berbagai sekolah. Kita disadarkan, kita mempunyai komunitas yang dapat saling meneguhkan dan memberi sumbangan positif bagi Kabupaten Sleman,” tutur Ismulyadi.
Sesi motivasi dibawakan A.A. Kunto dengan cara tidak biasa, yakni tanpa slide presentasi atau proyektor. Ia mengajak setiap peserta menemukan power dan point dari dalam diri sendiri yang bisa ditawarkan kepada dunia.
Berdiri di tengah kerumunan, ia mengingatkan bahwa para pelajar ini jauh lebih besar daripada apa pun yang mencoba mengecilkan mereka. “Tetap positif, punya kekuatan dan poin-poin kebaikan yang bisa diberikan untuk dunia,” tegas Kunto lalu memberikan pesan yang menghunjam, “Seringlah mendengarkan diri sendiri, sekalipun dunia di sekitar begitu berisik.”
Kunto juga mengajak para pelajar untuk semakin peka dengan lingkungan sekitar. Dalam dinamika kelompok melalui metode tepuk tangan, ia melatih para pelajar menyadari makna perhatian dan kekompakan.
“Kita tidak sendiri! Banyak teman yang siap membantu dan membangun relasi dengan kita,” jelas Kunto kepada para pelajar.

Kegiatan temu pelajar dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Rm. Y. Sunaryadi, Pr (Vikaris Episkopal Kevikepan Yogyakarta Barat) dan Romo F.X. Merry Christian Putra, Pr.
Dalam homilinya, Rm. Tian menceritakan pengalaman selama masa studi. “Saya mengajak para pelajar untuk menyadari panggilan sebagai seorang pelajar. Jika kita tidak fokus dan mungkin mengesampingkan tugas pokok kita untuk belajar, maka kita perlu waspada terhadap diri kita sendiri,” pesan Rm. Tian.
Pastor Rekan Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Pugeran Yogyakarta ini melontarkan pertanyaan retoris yang membekas, “Orang muda akan memilih perjamuan yang mana, perjamuan Tuhan atau perjamuan setan? Kemalasan untuk belajar dan menyiapkan diri, itulah perjamuan setan. Sebaliknya, perjamuan Tuhan adalah ketekunan dan kedisiplinan belajar, wujud nyata mempersiapkan masa depan.”
Salah satu peserta, siswa dari SMKN Depok, merasa senang bisa mengikuti acara ini. “Tadi waktu Perayaan Ekaristi, saya merasa diingatkan dengan tugas saya. Pada waktu sesi motivasi dari Pak Kunto, saya merasa semangat lagi buat kejar cita-cita dan tetap setia berdoa,” katanya.
Sementara itu bagi Ramia, siswa SMK Kesehatan Binatama yang baru pertama kali mengikuti kegiatan ini memaknainya sebagai pengalaman berharga. “Saya senang bisa mengikuti misa bersama, mendapat banyak teman baru, dan merasa semakin dekat dengan Tuhan. Semoga EKM (Ekaristi Kaum Muda) terus diadakan,” tuturnya.
Kesan senada diungkapkan Steve, siswa Farmasi dari sekolah yang sama, “Acaranya menyenangkan, bisa dapat teman dan belajar bersama.”
CB. Ismulyadi & Alfred B. Jogo Ena








