Uskup Larantuka Minta Warga Perantau Jadi Duta Damai

News675 Views

Jakarta. Perumpamaan tentang Kerajaan Surga bagaikan penemuan harta yang terpendam, seperti tertulis dalam Matius 13:44-52, bacaan Injil dalam Misa Minggu, 26 Juli 2026. Pengajaran dari Tuhan Yesus ini, senantiasa menggema ke segenap penjuru dunia, menerabas ruang hingga sampai ke Jakarta dan sekitarnya, tempat para perantau asal Keuskupan Larantuka berada.

Di hadapan ribuan perantau asal Kabupaten Flores Timur dan Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah pelayanan Keuskupan Larantuka, Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengatakan bahwa Kerajaan Surga, seperti seorang petani penyewa ladang yang menemukan harta karun di tanah tersebut.

Petani itu kemudian berupaya agar bisa mendapatkan tanah itu, salah satu caranya adalah dia menjual hartanya kemudian berusaha mendapatkan tanah yang mengandung harta karun tersebut.

Berdasarkan bacaan Injil itu, menurutnya menemukan harta yang sesungguhnya adalah menemukan Yesus sebagai harta kekayaan yang paling dasariah dan utama. Harta itulah yang hendaknya dikejar oleh umat perantau Keuskupan Larantuka di Jabodetabek.

“Itulah yang kita kejar dan kita cari, yang akan melipatgandakan seluruh harta kehidupan kita di dunia ini. Bagi saudara-saudariku, saya yakin dan percaya bahwa hari ini kita semua ada di sini bukan pertama-tama karena saya dipilih jadi Uskup Laratuka, orang baru yang datang di Jakarta ini, tetapi pertama-tama karena kita semua ingin menemukan dan mendapat berkat dari Tuhan untuk seluruh perjalanan hidup kita sampai dengan saat ini,” ucapnya dalam Perayaan Ekaristi Syukuran Tahbisan Episkopal di Kompleks Zeni Angkatan Darat (AD), Matraman, Jakarta, Minggu 26 Juli 2026.

Dia melanjutkan, setelah menemukan Yesus dalam iman, semua pengikut-Nya mesti senantiasa mencari dan menemukan Sang Juruselamat dalam keseharian, melalui sesama manusia.

Dengan memahami kembali dan mengerti sesamanya manusia sebagai ciptaan Allah yang serupa dengan Allah atau Imago Dei, berarti umat Kristen menemukan mutiara-mutiara kecil yang berharga dalam kehidupan.

Mgr. Yohanes Hans Monteiro merupakan uskup pribumi keempat Keuskupan Larantuka.

Ia kemudian mengajukan pertanyaan reflektif, apakah para umat diaspora Keuskupan Larantuka sudah menemukan harta karun yang paling berharga itu, yakni Yesus, dalam interaksi dengan sesama manusia, ataukah pencarian itu tertutupi oleh harta duniawi menutupi keseluruhan hidup untuk berjumpa dengan orang lain, saudara-saudari sesama manusia yang merupakan mutiara-mutiara kecil dalam hidup ini.

“Mari kita menjadi mutiara-mutiara kecil untuk hidup sampai pada penemuan sukacita dalam kerajaan surga. Tuhan memberkati,” tutupnya.

Sesudah Perayaan Ekaristi, Mgr. Hans Monteiro berpesan kepada warga perantau asal Lembata dan Flores Timur, apa pun asal kampung dan pulau serta agamanya, tidak tercabut dari akarnya budaya yang penuh gotong royong dan persaudaraan.

Warga perantau juga diminta untuk menjadi duta damai di tengah kehidupan majemuk  di wilayah Jabodetabek, pada khususnya, serta Indonesia pada umumnya.

Pada kesempatan itu, ia juga menguraikan tentang arah pastoral Keuskupan Larantuka yang membicarakan pemberdayaan ekonomi sebagai ekspresi iman. Arah pastoral ini menurutnya tepat karena keadaan ekonomi di Lembata dan Flores Timur yang masih sangat terbatas.

“Kita berusaha supaya dengan kemampuannya, ada rasa percaya diri ditumbuh,kan, potensi yang ada dikembangkan. Untuk itu tema pertama pemberdayaan ekonomi sebagai ekspresi iman,” pungkasnya.

Sebelum pelaksanaan Ekaristi, Mgr. Hans Monteiro disambut dengan Tarian Hedung, sebuah tarian perang yang dipentaskan untuk menyambut tamu agung. Setelah itu, sesepuh perantau menyapanya dengan sapaan adat dalam dialek Lamaholot, suku bangsa yang mendiami wilayah Flores Timur dan Lembata.

Perayaan Ekaristi Syukuran Tahbisan Episkopal di Kompleks Zeni Angkatan Darat (AD), Matraman, Jakarta.

Ketua Panitia Misa Syukuran Tahbisan Episkopal Uskup Larantuka di Jakarta, Kolonel Yohanes Wain mengatakan bahwa Perayaan mengangkat tema “Dalam Satu Pengharapan, Kita Dipersatukan”, yang diambil dari moto tahbisan Bapa Uskup sendiri, Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes (Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Pengharapan).

Mgr. Yohanes Hans Monteiro ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Larantuka pada Rabu, 11 Februari 2026, di Gereja Katedral Reinha Rosari, Larantuka, Flores Timur. Sebelum menjadi uskup, ia merupakan dosen Kitab Suci di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores, dan ditunjuk oleh Paus Leo XIV pada 22 November 2025.

Gembala kelahiran 15 April 1971 ini merupakan uskup pribumi keempat Keuskupan Larantuka, menggantikan Mgr. Fransiskus Kopong Kung.

Para uskup yang tercatat pernah memimpin Keuskupan Larantuka sebelumnya adalah Mgr. Johannes van den Hurk, Mgr. Antonius Hubertus Thijssen, Mgr. Gabriel Manek, Mgr. Darius Nggawa, dan Mgr. Fransiskus Kopong Kung.

Wain mengungkapkan, dalam menyelenggarakan kegiatan itu, pihaknya juga melibatkan sesama perantau dari Flores Timur dan Lembata yang beragama Islam. Keterlibatan mereka, lanjutnya, Islam bukan suatu kebetulan.

Hal itu, tuturnya, adalah cerminan langsung dari budaya etnis Lamaholot—etnis mayoritas yang mendiami Flores Timur dan Lembata, yang sejak zaman leluhur menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, kesetaraan, dan toleransi sebagai filosofi hidup bersama (gemohing, semangat gotong royong lintas sekat), yang terus dijaga dan diwariskan secara turun-temurun hingga ke tanah rantau.

“Perayaan ini tidak hanya menjadi momen syukur bagi umat Katolik, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang merangkul semua kalangan tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang. Bahwa saudara-saudara Muslim asal Flores Timur dan Lembata turut hadir dan berbahagia bersama kami hari ini adalah bukti bahwa toleransi bagi kami bukan sekadar wacana, tetapi warisan hidup yang kami rawat bersama, di kampung halaman maupun di tanah rantau,” ujar Yohanes Wain.

Dia juga bersyukur bahwa kegiatan itu dapat terselenggara dengan baik, meski kepanitiaan bekerja dalam waktu yang relatif singkat. Semua itu, ujarnya, berkat kerja sama dan keterlibatan berbagai elemen perantau dari dua kabupaten tersebut.

Rizal Fernandez 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *