Dewasa Politik Berdasar Filsafat Pancasila

Pelita543 Views

Pancasila adalah dasar Negara Indonesia. Pancasila juga sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila bukan sebagai ideologi saja, tetapi juga sebagai pegangan kita dalam kehidupan sehari-hari di negara Indonesia yang penuh dengan politik. 

Filsafat adalah ilmu yang mempelajari hakikat secara mendalam, kritis, dan rasional. Filsafat berusaha mencari kebenaran dan memahami realitas, baik tentang manusia, alam, Tuhan, maupun kehidupan. Kata filsafat berasal dari philosophia, yang berarti “cinta akan kebijaksanaan” ( philo = cinta, sophia = kebijaksanaan). Oleh karena itu, filsafat tidak hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana menggunakan pengetahuan itu dengan bijak. 

Politik juga mengingatkan kita dengan sila pertama Pancasila yang menegaskan kita untuk selalu ingat dan berpegang pada nilai moral dan etika. Politik juga seharusnya dijalankan dengan kejujuran tanpa ada kecurangan seperti berita korupsi yang selama ini terjadi. Hal seperti inilah yang merusak kedewasaan dalam berpolitik. 

Kemanusiaan yang adil dan beradab mengingatkan bahwa kebijakan yang ada untuk seluruh rakyat, bukan hanya untuk menguntungkan segelintir orang saja, apalagi hanya untuk keuntungan pribadi.

Ada beberapa pertanyaan reflektif yang berelevansi dengan dewasanya rakyat dalam berpolitik di negara Indonesia. Apakah dalam berpolitik diperlukannya Pancasila sebagai dasar negara? Sebelum itu, apakah pejabat negara menyadari bahwa beberapa dari mereka sering melanggar dasar negara? Bagaimana nasib rakyat yang membutuhkan pertolongan dari mereka yang seharusnya membantu malah meraup keuntungan dirinya sendiri?

Sebagai mahasiswa Teologi, saya mendapatkan mata kuliah filsafat Pancasila dan menyadari bahwa Pancasila dalam dunia politik menentukan arah bangsa dan nilai-nilai Pancasila harus benar-benar dihayati dan diterapkan dalam dunia politik supaya Indonesia bisa menjadi negara yang lebih adil, bijak. Saya pun tertarik dalam berpolitik. Maka, setidaknya saya memahami apa itu Pancasila. 

Pancasila adalah filsafat negara yang lahir sebagai ideologi kolektif (cita-cita bersama) seluruh bangsa indonesia. Pancasila sebagai filsafat, karena merupakan hasil perenungan jiwa mendalam yang dilakukan oleh para pendahulu kita, yang kemudian dituangkan dalam suatu sistem yang tepat (Agustinus W. Dewantara, 2017).

Pancasila sebagai filsafat terbuka bukan sekadar sebagai ideologi politik saja, tetapi juga filsafat terbuka yang dapat berkembang sesuai dinamika zaman. Hal ini mengingatkan bahwa nilai-nilai Pancasila dapat diinterpretasikan kembali tanpa menghilangkan esensi dasarnya sehingga tetap relevan dengan orang dewasa dalam berpolitik dalam sosial dan budaya.

Pancasila ini juga jika diteliti dengan baik, ada juga akar pemikiran nya juga yang berasal dari para filsuf-filsuf yang dipengaruhi dari pemikir seperti Aristoteles dan Plato, seperti mengenai konsep Tuhan yang berkaitan dengan filsafat teologi, konsep kemanusiaan yang berhubungan dengan filsafat humanisme, dan masih ada banyak yang lain lagi yang bisa diambil dari filsafat lainnya, dan dari situlah lahirlah dasar negara, yaitu Pancasila.

Filsafat Pancasila mengajarkan kita untuk sadar, salah satu tantangan terbesar dalam politik Indonesia adalah menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan. Sila ketiga, persatuan Indonesia, mengajarkan bahwa perbedaan politik tidak boleh menjadi pemicu perpecahan bangsa. 

Namun, sangat disayangkan dalam kenyataan yang ada, sering kali terjadi polarisasi yang tajam, terutama saat pilkada dan pemilu. Padahal, politik seharusnya menjadi wadah mencari solusi yang terbaik bagi bangsa, bukan sebagai ajang untuk saling menjatuhkan dengan cara-cara yang tidak sehat.

Relevansi filsafat Pancasila dengan orang dewasa dalam berpolitik ini juga mengingatkan kita untuk menjunjung politik yang beretika dan berkeadaban, karena sila kedua mengajarkan politik dijalankan dengan etika dan moralitas yang tinggi. Namun, kenyataannya tetap sama saja, masih banyak praktik politik yang mengandalkan hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian sebagai meraih kekuasaan. Jika saja nilai-nilai Pancasila benar-benar diterapkan, politik seharusnya menjadi arena yang beradab dan mencerminkan kepribadian luhur bangsa.

Semoga politik benar-benar berpihak pada kesejahteraan rakyat, memastikan bahwa keadilan sosial bukan sekadar slogan, melainkan juga dijalankan dengan baik, bersama dengan masyarakat untuk aktif dan sadar mengawal jalannya demokrasi agar tetap berada di jalur yang benar.

Gabriel Jonathan Barcelona (Mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *