“Tangguh dan Kolaboratif”: Proses MPLS SMA Kolese De Britto

Papan Tulis915 Views

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) adalah kegiatan awal yang sangat mendasar bagi para siswa baru. Para siswa dibantu secara positif untuk mengenali dan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sosial, dan budaya sekolah yang baru dimasukinya.

Para siswa baru diperlakukan sebagai subjek pendidikan yang dihargai dan didorong untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki. MPLS sebagai bagian dari adaptasi awal pendidikan, maka sekolah harus bersifat edukatif, memanusiakan, dan menumbuhkan kemandirian.

Maka dari itu, di SMA Kolese de Britto Yogyakarta, sejak awal para siswa diperkenalkan tentang adat dan kebiasaan di sana, misalnya budaya saling menghormati pihak lain, antikekerasan, antisikap menyontek atau curang, serta konsisten dalam sikap maupun perbuatan.

Fungsi strategis MPLS adalah untuk pembinaan awal karakter dan kedisiplinan siswa sebelum berproses dan berdinamika secara utuh. Oleh karena itu, sekolah memiliki tanggung jawab besar terhadap para siswa baru dalam memberikan rasa aman, percaya diri, dan siap menerima proses pembelajaran.

Berdasarkan hal tersebut, kesungguhan dalam merancang kegiatan menjadi sangat penting, karena MPLS dapat dijadikan sebagai sarana untuk membangun fondasi psikologis siswa untuk menghadapi tantangan belajar di sekolah baru.

Para siswa baru melaksanakan jingle dan salam.

Demikian juga MPLS di SMA Kolese De Britto akan menjadi sarana efektif bagi para siswa baru dalam berkenalan dan beradaptasi dengan lingkungan SMA Kolese De Britto, yakni pada nilai-nilai yang ditawarkan dan diperjuangkan, keutamaan-keutamaan hidup yang ditawarkan, dorongan memiliki ketahanan mental, keberanian bertanggung jawab terhadap pilihan dan tujuan, spiritualitas Ignatian, dan pendidikan karakter 1L + 5C atau Leadership (kepemimpinan) yang berkarakter Competence (kecakapan), Conscience (nurani yang benar), Compassion (bela rasa), Commitment (komitmen), dan Consistency (konsistensi/kesatuan kata dan tindakan).

Semuanya itu digunakan untuk mempersiapkan generasi yang humanis, kritis, dan bijak dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di era digital.

Diharapkan melalui sarana MPLS ini para siswa terbantu dalam menghayati keutamaan yang ditawarkan di Kolese ini seturut profil siswa yang memiliki keunggulan di bidang kepemimpinan berhati nurani benar dan memiliki kepekaan sosial.

Dalam hal ini tujuan dan harapan MPLS dengan tema “Tangguh dan Kolaboratif” ini dapat dimaknai dalam logo dibawah ini.

Logo MPLS SMA Kolese De Britto 2025.

Berdasarkan logo MPLS tersebut, ada filosofi yang dapat dimaknai dari setiap bagian yang ada, yaitu:

  • Lima garis yang menyerupai matahari terbit melambangkan karakter Leadership, Competence, Conscience, Compassion, Commitment dan Consistency.
  • Bentuk segitiga yang menyerupai gunung kukuh melambangkan ketangguhan: kuat dan tahan uji.
  • Dua tangan menyatu melambangkan kolaborasi yang membentuk siluet burung merpati/penyertaan Roh Kudus.
  • Warna hijau (pertumbuhan, harapan, keseimbangan), warna merah (semangat dan keberanian), dan putih (kejujuran, keterbukaan).

Berdasarkan logo di atas, MPLS ini merupakan suatu sarana untuk beradaptasi awal dalam kesempatan mengantar dan membawa para siswa kelas X dalam memasuki semangat yang dihayati bersama, yaitu spiritualitas Ignasian dan semangat St. Yohanes de Britto, sikap MAGIS, sikap diskretif dengan mampu membedakan hal baik dan buruk, hal benar dan salah, maupun memilih pilihan yang terbaik di antara pilihan yang baik.

Selain itu, pengenalan visi misi sekolah yang tercermin dalam profil siswa 1 L+5 C.

Berikutnya terkait dengan pengenalan sarana dan prasarana serta komunitas, misalnya mengenal tempat-tempat penting dalam proses belajar maupun mengenal para guru, staf kependidikan, karyawan, para romo dan frater di komunitas.

Dalam pelaksanaan MPLS ini untuk menentukan konsep dan tema, di-breakdown dari konteks siswa yang ada saat ini berdasarkan hasil tes penerimaan siswa baru (PSB) yang meliputi; tes potensi akademik, psikotes, tes wawancara dan tes kebugaran jasmani, serta konteks siswa di generasi Z (Gen Z). Berdasarkan konteks siswa tersebut tercetuslah tema “Tangguh dan Kolaboratif”.

Para siswa baru kerja bakti memilah sampah.

Dalam hal ini pengertian, “Tangguh” menggambarkan kemampuan adaptasi, ketahanan mental, dan semangat juang yang tinggi, relevan dengan tantangan masa remaja dan perkembangan zaman yang dinamis. Secara umum, mental yang tangguh berarti terampil mengelola stres dan tekanan, kemampuan memaknai kegagalan sebagai pembelajaran, dan tetap positif dan berusaha di tengah keterbatasan.

Berikutnya pengertian “Kolaboratif” menekankan pentingnya kerja sama, komunikasi efektif, dan kemampuan untuk berkontribusi dalam kelompok. Mereka adalah generasi Z yang sudah terbiasa dengan media sosial, kolaborasi digital, dan komunikasi instan, tetapi banyak di antara mereka yang kurang terbiasa dengan interaksi sosial langsung (face-to-face).

Di sinilah poinnya: mereka perlu diberi tantangan untuk komunikasi verbal (menyampaikan ide dan mendengarkan aktif); kemampuan membaca bahasa tubuh (gestur, ekspresi wajah); menyelesaikan konflik langsung; dan kerja sama tim yang melibatkan diskusi tatap muka.

Berdasarkan tema yang yang diambil, supaya tujuan dari MPLS ini terwujud dan memberikan proses adaptasi yang baik dan tepat di SMA De Britto, maka dalam pelaksanaanya tema besar “Tangguh dan Kolaboratif”, diturunkan dalam tema-tema harian sebagai berikut:

  1. Hari pertama, “membangun mental tangguh dan dasar kolaborasi” (fokus pada: leadership).
  2. Hari kedua, “kompetensi dan adaptasi di era digital” (fokus: competence & conscience).
  3. Hari ketiga, “empati dan kolaborasi sosial” (fokus: compassion).
  4. Hari keempat, “komitmen dan konsistensi dalam tantangan” (fokus: commitment & consistency).
  5. Hari kelima, integrasi nilai 1L + 5C dan penguatan identitas spiritualitas Ignatian, (fokus: 1L yang 5C).
Bagan Konsep Pelaksanaan MPLS SMA De Britto 2025.

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang telah dilaksanakan selama lima hari, 14 – 18 Juli 2025 dibagi dalam dua sesi pagi dan siang. Sesi pagi berisi informasi tentang persekolahan terkait pengajaran dan pengetahuan, sedangkan siang berisi tentang formasi terkait pembentukan diri, sikap, dan perilaku.

Harapannya dari proses yang dilalui pagi dan siang ini, akan dapat mentransformasi pembaruan hidup para siswa, terkait dengan pertobatan dan perubahan menuju komitmen yang berdasarkan semangat ke-De Britto-an dengan berlandaskan spiritualitas Ignatian.

Guna mewujudkan tema “Tangguh dan Kolaboratif” ini, pada acara penutupan diadakan flashmob “Dari Yogyakarta Istimewa untuk Indonesia” dengan menampilkan kebudayaan nasional berupa lagu-lagu daerah seperti Sigulempong (Sumatra Utara), Soleram (Riau), Cublak-cublak Suweng (Jawa), Ampar-ampar Pisang (Kalimantan Selatan), Si Patokaan (Sulawesi Utara), Poco-poco (Maluku), Sajojo (Papua), dan diakhiri dengan Yogya Istimewa dikombinasikan dengan gerakan tubuh yang serempak.

Selanjutnya, untuk mengucap Syukur pada Tuhan atas segala karunia dan berkat-Nya sehingga diberikan kelancaran dan kesuksesan dalam kegiatan MPLS ini, maka ditutup dengan ibadat syukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *