Solo Dios Basta: Saat Yang Lain Luruh

Refleksi Kontemplatif Mengenai Diri, Misi, dan Kasih

Cermin782 Views

Selama bertahun-tahun, saya hidup dalam bayang-bayang satu pertanyaan: Siapakah saya sebenarnya? Dalam berbagai perjumpaan rohani, rekoleksi, maupun percakapan iman, saya sering mendengar ajakan untuk kembali pada diri yang otentik dan menemukan misi jiwa. Seolah ada pusat sejati dalam diri yang murni dan tetap, menunggu untuk disingkap dan dihidupi.

Namun perlahan, narasi itu mulai retak. Seolah-olah, saya mulai melihat lapisan-lapisan yang membentuk narasi itu. Dalam keheningan yang lebih dalam, saya bertemu dengan sesuatu yang tak lagi bisa dibingkai dengan definisi diri: bukan tentang menemukan siapa saya, melainkan membiarkan yang bukan saya luruh satu per satu. Seperti garam yang larut dalam air, ia tidak hilang, melainkan menyatu dengan yang lebih besar, sehingga tak lagi terlihat tapi terasa.

Pola yang Membentuk, Bukan Diri yang Otentik

Sejak awal kehidupan, kita membawa warisan. Bukan hanya genetik, tetapi juga emosional dan simbolik. Bahkan sebelum kita bisa berkata “aku”, kita telah dibentuk oleh getaran ibu, sejarah keluarga, ketakutan yang tidak terucapkan, dan harapan yang diwariskan. Apa yang kita sebut sebagai diri bukanlah sesuatu yang murni dan mandiri, melainkan simpul dari begitu banyak pola.

Simpul-simpul itu mungkin muncul dari berbagai luka. Misalnya, saya memiliki luka karena didiskriminasi dan dianggap berbeda. Inilah yang menyebabkan saya reaktif bila menghadapi konflik antar agama, dan berusaha untuk mengedepankan dialog demi perdamaian bersama.

Jika demikian, benarkah kita harus mencari “misi jiwa” yang unik dan pribadi? Atau justru, yang disebut misi itu hanyalah cara lain bagi luka-luka kita untuk mencari sublimasi? Apakah setiap gerakan keluar dari penderitaan harus selalu diberi nama spiritual?

Justru di simpul-simpul inilah kasih Allah bekerja. Rasul Paulus mengingatkan, “Karena kita adalah tubuh Kristus, dan masing-masing adalah anggotanya” (1Kor 12:27). Kita tidak dilahirkan untuk menjadi pusat bagi diri sendiri. Kita dilahirkan untuk saling mengalirkan hidup, sebagai bagian dari jaringan rahmat yang lebih besar.

Pembukaan guci perak berisi jenazah Santa Teresa (foto: Ordo Karmel)

Kasih yang Mengalir, Bukan Diri yang Menonjol

Dalam spiritualitas Ignasian, kita mengenal semboyan: Ad maiorem Dei gloriam, untuk kemuliaan Allah yang lebih besar. Semboyan ini bukan dorongan untuk menonjol, melainkan ajakan untuk melepaskan pusat ego, dan membiarkan kasih Allah mengalir bahkan melalui luka. Bukan karena lukanya sakral, tetapi karena Allah dapat memakai apa pun untuk menghadirkan rahmat.

Yang penting bukanlah siapa kita, melainkan ke mana kasih itu mengalir. Bahkan tindakan sekecil apa pun, jika dijalani tanpa keterikatan pada diri, dapat menjadi jalan kemuliaan Allah. Maka pertanyaannya bukan lagi: ‘apa misi pribadiku?’, melainkan: ‘apa yang sedang dilayani oleh hidup ini sekarang?’ Ini bukan berarti berhenti melayani, melainkan berhenti menyebut pelayanan itu sebagai ‘milikku’.

Itulah yang tercermin dalam kata-kata Yohanes Pembaptis:
“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).
Dalam spiritualitas yang sungguh ikhlas, segala narasi tentang “aku” akan makin meluruh, agar kasih menjadi satu-satunya yang tinggal.

Diam yang Tidak Lagi Membutuhkan Jawaban

Pada akhirnya, bahkan afirmasi yang terdengar positif, seperti: “aku sadar”, “aku pulih”, “aku kuat”, masih merupakan bentuk energi yang mempertahankan pusat. Di baliknya, sering tersembunyi keinginan untuk diakui, untuk dianggap “selesai”, atau “naik tingkat”. Tetapi kasih sejati tidak perlu dibungkus. Ia mengalir justru ketika tidak diklaim.

Yesus berkata, “Barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku, ia akan mendapatkannya” (Mat 10:39). Kehilangan ini bukan kehancuran, melainkan kelahiran baru dari hidup yang tak lagi melekat pada peran atau pencapaian.

Diam, dalam pengertian ini, bukan ketenangan teknis. Ia adalah pelepasan batin dari hasrat untuk mengetahui arah, makna, dan hasil. Diam seperti ini membuka ruang bagi kasih bekerja, seperti Bunda Maria yang ‘menyimpan segala perkara di dalam hatinya’ (Luk 2:19), sambil tetap melayani. Bukan karena kita kuat, bukan karena kita berhasil mengendalikan batin, melainkan karena kita berhenti mengklaim.

Di titik ini, gema Mazmur menjadi nyata:

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” (Mzm 46:11)

Kutipan itu bukan perintah untuk hening sebagai teknik spiritual, melainkan ajakan untuk melepas segala pusat, segala rencana, dan segala nama. Mengetahui Allah bukan berarti memahami, melainkan membiarkan Dia menjadi satu-satunya yang tinggal, ketika yang lain luruh.

Solo Dios Basta: Ketika Yang Lain Luruh

Dalam salah satu doa paling kontemplatif dari Gereja, St. Teresa dari Ávila menulis:

Nada te turbe, nada te espante, todo se pasa; Dios no se muda. La paciencia todo lo alcanza. Quien a Dios tiene, nada le falta: Solo Dios basta. (Tak ada yang menggelisahkanmu, tak ada yang menakutkanmu. Segalanya berlalu, Allah tidak berubah. Kesabaran meraih segalanya. Yang memiliki Allah, tidak kekurangan apa pun: Allah saja sudah cukup.)

Di titik ini, segalanya menjadi jernih. Tidak ada lagi diri otentik yang harus dibentuk. Tidak ada lagi misi yang harus dikejar. Tidak ada lagi nilai diri yang harus dibuktikan melalui peran. Hanya Allah. Hanya kasih yang tidak perlu nama. Hanya sunyi yang tidak menjadikan siapa pun selain Allah sebagai pusat.

Dan dalam sunyi itulah, pola-pola akhirnya bisa luruh. Bukan karena kita telah berhasil, melainkan karena kita berhenti mengklaim. Kita tidak sedang menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Kita sedang kehilangan diri, agar kasih yang tinggal menjadi satu-satunya yang tersisa.

Solo Dios basta.

 

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana
dan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi
RS Bethesda Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *