Sega Mubeng, Bentuk Keberagaman dalam Semangat Kemanusiaan

News1524 Views

Yogyakarta. Sabtu, 9 November 2024, Pusat Paroki Mahasiswa (PPM) Yogyakarta berpartisipasi membantu kegiatan Sega Mubeng, sebuah kegiatan rutin kemanusiaan Paroki St. Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta.

Partisipasi kegiatan Sega Mubeng juga merupakan bagian dari rangkaian awal kegiatan open house PPM yang diadakan pada tanggal yang sama.

Sebanyak sepuluh orang lebih anggota PPM membantu kegiatan Sega Mubeng yang diawali dengan kumpul bersama di Gedung Karya Sosial Widya Mandala, seberang Gereja Kotabaru.

Kegiatan Sega Mubeng dimulai sekitar pukul 06.00. Bersama para pengurus kegiatan Sega Mubeng, beberapa anggota PPM mulai mengitari sudut Kota Yogyakarta membagikan nasi bungkus beserta buah jeruk.

Sebelum berbagi, kumpul bersama di Gedung Karya Sosial Widya Mandala.

Sebanyak 542 nasi bungkus dibagikan dalam kegiatan tersebut yang tersebar di 18 rute berbeda. Target penerima Sega Mubeng adalah mereka yang membutuhkan seperti pasien rumah sakit, orang yang tinggal di jalan, tukang becak, dan bagi mereka yang sekiranya membutuhkan.

Beni, koordinator distribusi kegiatan Sega Mubeng mengatakan, kegiatan ini merupakan tugas kemanusiaan dalam bentuk bagi-bagi nasi bungkus. “Tugas kami menyampaikan yang ingin disampaikan, lewat nasi bungkus yang dibagikan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ungkapnya.

Sega Mubeng aktif dilakukan setiap pekan pada Rabu malam dan Sabtu pagi. Hanya saja pada Rabu malam, kegiatan Sega Mubeng dilakukan dengan membagikan roti dan minuman hangat. Serupa dengan Sega Mubengpada Sabtu pagi, kegiatan pada Rabu malam juga dilakukan dengan mengitari jalanan Yogyakarta.

“Kita menjalin banyak komunikasi dengan saudara-saudara yang membutuhkan. Supaya enak menjalin hubungan bersama, kita sembari ngopi, ngeteh, dan makan roti. Kita ajak komunikasi untuk menjalin hubungan dengan banyak orang,” cerita Beni.

Kegiatan tersebut merupakan gagasan Rm. Macarius Maharsono Probo, SJ yang dimulai sejak 2017. Awalnya, ide bagi-bagi nasi bungkus ini tebersit karena kelimpahan makanan di pastoran sehingga Rm. Mahar mengajak anak muda Gereja untuk membagi-bagikan makanan kepada mereka yang membutuhkan. “Daripada tidak termakan, mereka mulai tergerak untuk membagi-bagikan makanan,” lanjut Beni.

Lama-kelamaan, kegiatan tersebut bertransformasi menjadi sebuah komunitas di Paroki Kotabaru.

Beni, koordinator distribusi kegiatan Sega Mubeng.

“Ada inisiasi dari Rm. Mahar, gimana kalau kita bikin dapur untuk mengelola makanan sendiri. Semoga lebih banyak makanan yang bisa kita bagikan, tidak hanya menunggu makanan berlimpah dari pastoran,” ungkap Beni.

Lambat laun kegiatan Sega Mubeng ini terus berkembang dengan kenaikan jumlah nasi bungkus yang dapat dibagikan. “Awal kami mulai dari 25 bungkus dan puji Tuhan sekarang bisa sampai 500-an bungkus,” jelas Beni.

Keberagamaan dalam semangat kemanusiaan

Kegiatan tersebut lambat laun semakin berkembang, tidak hanya perihal kuantitas, tetapi semakin banyak pihak lain bekerja sama membantu kegiatan Sega Mubeng, termasuk kelompok Gusdurian yang sering sekali bekerja sama.

“Kita sering bekerja sama dengan kelompok Gusdurian, karena kita sepaham dengan visi yang digagas oleh Gus Dur,” ungkap Beni.

Gus dur sendiri meneladani semangat kemanusiaan, dengan tidak mengenal agama, warna kulit, dan kaya atau miskin. Sega Mubeng tidak mengenali ciri-ciri tersebut, karenaberdiri atas dasar kemanusiaan tanpa melihat latar belakang kehidupan. Semangat Gusdurian itu juga muncul pada mereka yang berada di balik kegiatan Sega Mubeng.

“Walaupun acara ini digagas oleh naungan Gereja Paroki Kotabaru, tapi kita tidak eksklusif hanya untuk komunitas Katolik semata, tapi acara ini dapat menampung kepercayaan dan agama lain untuk ikut berpartisipasi dalam misi kemanusiaan,” tegas Beni.

Makna keberagamaan dalam kemanusiaan ini tampak dalam diri dua orang mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN), Husna dan Lia. Mahasiswa jurusan Studi Agama tersebut sudah mengikuti kegiatan Sega Mubeng sejak menjadi mahasiswa baru tahun 2022.

Keduanya merupakan muslimah anggota kelompok Simpul Iman Community (SIMC), sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) setingkat fakultas di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kelompok ini juga merupakan gabungan dari tiga universitas di Yogyakarta, yaitu UIN, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), dan Universitas Sanata Dharma (USD).

Lebih baik memberi makanan daripada uang.

“SIMC bekerja sama dengan pihak Sega Mubeng sehingga kami diajak untuk berpartisipasi dalam acara ini,” terang Husna.

Dirinya bercerita, awalnya memang ada sedikit rasa ketakutan karena harus melakukan kegiatan di bawah naugan Gereja Katolik. Namun, perasaan sentimental tersebut terjadi hanya karena ketidaktahuan tentang agama lain.

“Saya itu mahasiswa jurusan Studi Agama, di situ kita belajar semua agama, jadi kita lebih mengetahui mengenai banyak agama di Indonesia, menjadi semakin paham agama lain, menjadikan nilai sentimental itu semakin hari semakin memudar,” urai Husna.

Begitu pun yang terjadi pada Lia. Ketika pertama kali bergabung dengan Sega Mubeng, ada kecanggungan karena belum kenal siapa-siapa, ditambah dirinya dan Husna adalah muslimah.

“Tapi di sisi lain, saya merasa orang yang beda agama dengan saya biasanya lebih terbuka. Jadi, tidak semenakutkan yang saya pikirikan. Ternyata, ya sama aja,” ungkap Lia kemudian melanjutkan, “Awal-awal canggung belum ada yang kenal ‘kan, tapi ternyata anggota Sega Mubeng sangat ramah, kita terus diajak ngobrol, dan lama-lama mulai terbiasa.”

Kedua perempuan tersebut mengatakan, mengenal agama-agama lain merupakan implementasi dari jurusan yang sedang mereka tekuni. Bukan hal baru ketika mereka harus berkunjung ke rumah ibadat agama lain atau ikut partisipasi dalam kegiatan keagamaan.

“Sega Mubeng ini menjadi praktik dari implementasi jurusan kami, Studi Agama,” jelas Husna.

Bia (kiri) dan Detta (kanan). Menjadi semakin bersyukur.

Refleksi kehidupan dari sebungkus nasi

Sebelum kegiatan Sega Mubeng diakhiri, terdapat sesi sharing refleksi mengenai kegiatan. Beberapa peserta turut menceritakan pengalamannya membagi-bagikan makanan kepada banyak orang.

Tak terkecuali dua anggota PPM yang ikut berpartisipasi, Bia dan Detta. Keduanya mendapat rute 16. Bersama Erli dan Yulia, mereka mengunjungi rumah singgah yang berada di sekitar Monumen Jogja Kembali (Monjali).

Rumah singgah tersebut merupakan sebuah rumah untuk anak-anak berusia maksimal 16 tahun yang menyandang sakit kanker. Kala Bia dan Detta berkunjung ke rumah singgah tersebut, terdapat tujuh anak yang sedang dirujuk.

Perhatian mereka terfokus kepada seorang anak tunggal kelas 3 SMK dari Purworejo yang dirujuk ke Yogyakarta untuk penanganan lebih lanjut. Anak itu tinggal sementara di rumah singgah untuk mendapat fasilitas kesehatan sebelum dirujuk ke rumah sakit.

“Orang tuanya sempat ngomong kalau anak ini merupakan anak satu satunya, maka mereka usahakan segalanya untuk kesehatan si anak ini,” cerita Bia sembari mengatakan kesehatan adalah segalanya.

“Kesehatan itu mahal, harus bersyukur sampai detik ini kita masih diberikan kesehatan. Pun kalau diberikan sakit sama Tuhan, kita berusaha untuk menguatkan diri sendiri dan orang disekitar kita,” ungkap Bia.

Detta kemudian melanjutkan, “Rumah singgah itu ‘kan isinya orang yang sakit juga, mereka bersama-sama saling menguatkan, untuk kesembuhan mereka bersama.”

Bia dan Detta lantas menceritakan pengalaman terharu mereka ketika melihat senyum kedua orang tua pasien tadi yang seakan penuh harap untuk kesembuhan anaknya. “Senyum mereka sungguh berharga,” kesan Bia.

Bia dan Detta lantas merefleksikan pengalaman Sega Mubeng dalam kehidupan sehari-hari mereka sebagai mahasiswa.

“Rasanya menjadikan kita semakin bersyukur, membuat saya refleksi diri. Kadang masih sering ngeluh, sebagai anak kos terkadang uang bulanan sisa 50 ribu tapi kita sudah mengeluh. Di luar sana orang mengusahakan seribu saja sampai matian-matian,” begitu Detta merefleksikan.

Sementara Bia memiliki keinginan untuk kembali mengikuti dan menerapkan nilai filosofis dari Sega Mubeng tersebut.

“Jika saya punya makanan lebih, saya mencoba untuk memberikan kepada orang yang membutuhkan. Bagi saya lebih baik memberi makanan daripada uang,” pungkas Bia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *