Prof. Al Makin Ajak Publik Menguji Nalar, Agama, dan Kekuasaan, di Pascasarjana USD 

Kuliah Umum Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma

News390 Views

Yogyakarta – Indonesia terbentuk melalui perjumpaan beragam tradisi agama dan pemikiran. Itulah identitas Indonesia yang demikian istimewa. Namun, kemampuan hidup berdampingan dan beradaptasi belum tentu membuat masyarakat berani mengkritisi kekuasaan. Persoalan inilah yang menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kuliah umum Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma (USD) bersama Prof. Dr. Phil. H. Al Makin, M.A., Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa, Oktober 2026.

Bertajuk “Manusia, Nalar, Agama, dan Kekuasaan”, kuliah umum ini diselenggarakan Program Magister dan Doktor Kajian Budaya USD bekerja sama dengan Selaras Arts Space. Forum ini menghadirkan ruang dialog intelektual untuk menelaah hubungan antara sejarah pemikiran, kebudayaan Indonesia, agama, dan kehidupan politik. Selain kuliah umum, kegiatan yang berlangsung di Ruang Kadarman, Gedung Pusat USD, Yogyakarta, juga membahas buku karya Al Makin yang berjudul Dari Athena sampai Nusantara: Pengantar Filsafat Dunia tentang Manusia, Nalar, dan Agama, dan Kekuasaan.

Bambang K. Prihandono, S.Sos., M.A., dosen Sosiologi FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang tengah menempuh studi doktoral di Program Doktor Kajian Budaya USD memandu pada sesi diskusi. Kehadiran Al Makin dalam dialog yang melibatkan perspektif lintas disiplin memperlihatkan komitmen Pascasarjana USD dalam menghadirkan forum akademik yang menghubungkan gagasan filosofis dengan persoalan nyata masyarakat.

Direktur Program Pascasarjana USD, Profesor Paulus Sarwoto, Ph.D., saat memberikan sambutkan menilai buku Al Makin sungguh menarik. Menurutnya, buku ini hadir karena menelusuri pergulatan gagasan dari filsafat Yunani hingga perdebatan kebudayaan di Indonesia. Paulus Sarwoto menegaskan bahwa salah satu contoh ialah polemik antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane mengenai orientasi kebudayaan Barat dan Timur dalam pembentukan identitas Indonesia.

Dalam diskusi ini, Sarwoto mengatakan bahwa perdebatan semacam itu menunjukkan bahwa perkembangan pemikiran yang membutuhkan keterbukaan terhadap perbedaan.

“Apa yang kita pelajari dari perdebatan gagasan adalah, tidak seharusnya kita mengkriminalisasi gagasan yang berbeda,” tegasnya.

Prof. Al Makin (kanan) menyampaikan kuliah umum tentang manusia, nalar, agama, dan kekuasaan di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Selasa, 20 Oktober 2026. (Dok. USD).

 Siapa Kita sebagai Orang Indonesia?

Al Makin, Guru Besar UIN Yogyakarta, saat memberikan pemaparan tentang latarbelakang kehadiran bukunya, ia menjelaskan bukunya hadir berangkat dari kegelisahan mendasar tentang identitas bangsa. Ia mempertanyakan siapa sebenarnya “kita” sebagai orang Indonesia.

“Buku ini berangkat dari keresahan pribadi tentang pertanyaan, siapa sebenarnya ‘kita’ (orang Indonesia),” ujar Al Makin.

Lebih lanjut Al Makin menjelaskan, identitas Indonesia tidak lahir dari satu tradisi yang berdiri sendiri. Identitas tersebut terbentuk melalui perjumpaan beragam tradisi dan pengaruh kebudayaan, termasuk Hindu, Buddha, Islam, serta Eropa. Proses perjumpaan itu menghasilkan berbagai bentuk adaptasi dan koeksistensi yang turut membentuk karakter kebudayaan Nusantara.

Namun, hidup berdampingan dan menyesuaikan diri bukanlah jawaban untuk seluruh persoalan kebangsaan. Kemampuan beradaptasi tidak secara otomatis menjamin integritas, memperkuat demokrasi, atau menciptakan relasi yang sehat antara masyarakat dan negara.

Al Makin justru mengingatkan bahwa kecenderungan untuk terus beradaptasi dapat membuat masyarakat kehilangan keberanian untuk mempertanyakan kebijakan publik apabila tidak diimbangi sikap kritis.

“Ketika semuanya itu berusaha untuk adaptasi, kritik kita terhadap negara itu lemah,” katanya.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi pentingnya nalar kritis dalam kehidupan demokratis. Masyarakat tidak cukup hanya mampu menerima perbedaan dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Masyarakat juga perlu mempertahankan kemampuan untuk menguji argumentasi, mengevaluasi kebijakan, dan mengawasi penggunaan kekuasaan.

Peserta kuliah umum bersama Prof. Al Makin dan Prof. Paulus Sarwoto dalam kegiatan Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Selasa, 20 Oktober 2026. (Dok. USD).

Merawat Tradisi Intelektual, Memperkuat Nalar Kritis

Al Makin turut menyoroti persoalan konsistensi gagasan dalam kehidupan politik. Ia membandingkan tradisi perdebatan intelektual pada masa sebelumnya, ketika tokoh-tokoh seperti Soekarno dan Mohammad Hatta dikenal menyampaikan pandangan melalui argumentasi, dengan kecenderungan perubahan sikap politik yang dinilainya tidak selalu disertai penjelasan yang konsisten.

Ia juga menyinggung pertentangan antara pernyataan politik pemerintah dan kebijakan yang dijalankan, termasuk dalam persoalan lingkungan. Bagi Al Makin, situasi semacam itu mengingatkan publik akan pentingnya menguji hubungan antara pernyataan, argumentasi, dan tindakan politik.

Persoalan lain yang menjadi perhatiannya ialah keterputusan tradisi intelektual Indonesia. Pemikiran para pendahulu, menurutnya, semestinya tidak berhenti sebagai catatan sejarah atau sekadar dikutip, tetapi terus ditanggapi, diuji, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

Dalam dunia akademik, penggunaan teori-teori asing tanpa menelusuri kontribusi pemikir Indonesia sebelumnya dapat menghambat kesinambungan pengetahuan. Tradisi intelektual yang sehat justru tumbuh melalui dialog antargenerasi, keterbukaan terhadap kritik, serta keberanian mengembangkan gagasan dari konteks sosial dan kebudayaan sendiri.

Dengan demikian, pertanyaan mengenai identitas Indonesia tidak cukup dijawab melalui penelusuran asal-usul agama dan kebudayaan. Pertanyaan tersebut juga berkaitan dengan cara masyarakat membangun kehidupan politik, mengelola perbedaan, serta menentukan sikap terhadap kekuasaan.

Pascasarjana USD sebagai Ruang Pertemuan Gagasan

Kuliah umum ini menegaskan relevansi kajian budaya dalam membaca persoalan kontemporer. Filsafat, sejarah pemikiran, agama, dan politik tidak ditempatkan sebagai bidang yang terpisah, melainkan sebagai perspektif yang saling melengkapi untuk memahami kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia.

Melalui forum ini, Program Magister dan Doktor Kajian Budaya USD menghadirkan kesempatan bagi sivitas akademika dan peserta diskusi untuk berjumpa dengan pemikiran seorang Guru Besar Filsafat, mendalami persoalan kebangsaan secara kritis, serta menghubungkan teori dengan realitas sosial.

Bagi USD, pendidikan pascasarjana bukan semata-mata proses pendalaman keilmuan, melainkan juga ruang untuk menguji asumsi, mempertemukan perspektif, dan melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru. Melalui dialog akademik yang terbuka dan lintas disiplin, Pascasarjana USD terus menghidupkan tradisi intelektual yang tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi mendorong keberanian berpikir dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.

Pada akhirnya, kuliah umum bersama Prof. Al Makin membawa satu pengingat penting: kemampuan hidup berdampingan merupakan modal berharga bagi bangsa yang beragam, tetapi demokrasi membutuhkan lebih dari sekadar kompromi. Demokrasi memerlukan nalar yang teruji, tradisi intelektual yang terus dirawat, dan keberanian warga untuk mengajukan pertanyaan kritis terhadap kekuasaan.

Humas USD/Apri Damai Sagita Krissandi dan Raihan Athaya Mustafa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *