Mengikuti Jejak Sang Musafir Agung

Pelita503 Views

Dalam sebuah acara penggalangan dana untuk renovasi gereja, seorang bapak memberikan sharing dan motivasi kepada yang hadir. Beliau bercerita berdasarkan pengalaman pribadinya sewaktu masih kuliah di luar negeri dengan keterbatasan finansial. 

Pengalamannya memberikan donasi dalam keterbatasan seperti kisah seorang janda miskin yang memberikan apa yang dimilikinya, memberikan berkah tersendiri dalam perjalanan hidupnya. Ia bisa pulang kembali ke Indonesia karena mendapat tawaran bekerja di sebuah bank. 

Beliau juga bercerita bahwa jika beliau membantu penggalangan dana untuk pembangunan gereja, beliau terlebih dulu ”mendekati” beberapa orang relasinya untuk memberikan donasi. 

”Supaya teman-teman yang saya ajak bersedia memberikan donasi dengan ikhlas, saya harus memberikan contoh bahwa saya juga memberikan donasi secara pribadi. Dari situlah teman-teman bersedia untuk mendonasikan sejumlah yang sama dengan yang saya berikan,” ucapnya. 

Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-57 adalah berbicara dengan hati. ”Hatilah yang mendorong kita untuk datang, melihat, dan mendengarkan. Hati itulah pula yang menggerakkan kita berkomunikasi secara terbuka dan ramah,” tulis Bapa Suci. 

Dalam kehidupan keseharian, kita bisa langsung membedakan perilaku orang yang berkomunikasi dengan hati. Ia membuka diri dan ramah. Ia tulus dan mau mendengarkan dengan empati. Ia mau berbagi dan menemani. 

Contoh seperti ini yang kita lihat pada diri ”sang musafir misterius” dalam kisah perjalanan menuju Emaus yang sudah berulang kali kita baca dan kita dengar. Paus Fransiskus menulis: ”Yesus yang bangkit berbicara dengan hati, sambil dengan rasa hormat menemani perjalanan penderitaan mereka.” 

Kisah Emaus adalah kisah yang terjadi dalam kehidupan kita, yang dalam perjalanan sebagai musafir sering kali kita menghadapi situasi yang tidak gampang, seperti yang dihadapi oleh murid Emaus. Kecewa, merasa ditinggalkan, gagal, sedih, sakit, putus asa, dan lain-lain. 

Dalam perjalanan bersama, baik dengan orang yang sudah kita kenal ataupun dengan teman yang baru, jika kita mau membuka pikiran dan mendengarkan dengan hati, mungkin kita akan menemukan seorang musafir yang memang diutus untuk dalam perjalanan bersama. 

Sebagai rekan seperjalanan, berarti kedua belah pihak senantiasa bersedia untuk mengatur langkah agar yang satu tidak meninggalkan yang lain. Ada dan hadir dengan setia dan tidak memandang kepentingan diri lebih tinggi dari kepentingan orang lain. 

Rekan seperjalanan juga menyiratkan rasa persahabatan – dan cinta kasih – yang membawa perjalanan dipenuhi antusiasme dan menjadi lebih menyenangkan. 

Paus Fransiskus menulis: ”Kita memerlukan Gereja yang tidak takut untuk masuk ke dalam kekelaman hati manusia. Kita butuh Gereja yang dapat menjumpai mereka dalam perjalanan mereka. Kita butuh Gereja yang dapat masuk dalam percakapan dengan mereka. Kita butuh Gereja yang mampu berdialog dengan orang-orang yang telah meninggalkan ‘Yerusalem’ di belakang mereka. Gereja perlu menemani orang-orang yang berjalan dalam kekecewaan mereka.” 

Kisah bapak yang saya ceritakan di atas adalah kisah seorang musafir yang mampu melewati perjalanan panjang. Ia berbicara dengan hati, satunya kata dengan perbuatan, mau memberi dalam keterbatasan diri dan rela berkorban. Ia sudah selesai dengan dirinya sendiri. Ia tidak takut masuk dalam kesulitan orang lain dan mau menemani orang-orang dalam sebuah perjalanan yang tidak mudah. 

Romo Sindhunata SJ dalam buku Anak-anak Ignatius: Kontemplasi dalam Aksi menggambarkan usia lanjut bagi Romo Piet Zoetmulder SJ seperti yang dikatakan oleh Karl Julius Weber: ”Menjelang malam hidup ini akan menjadi lebih terang, bagaikan mimpi menjelang pagi.” 

Perjalanan yang jatuh bangun memang membutuhkan ”sang musafir misterius” untuk mencerahkan dan menguatkan seperti kedua murid Emaus, supaya kita dalam menghadapi rintangan apa pun dapat senantiasa berbalik kembali menuju ”Yerusalem”. 

Budaya perjumpaan dengan sesama musafir akan menjadi penerang menjelang malam, belajar supaya dapat menjadi seorang musafir sejati, menuju terang mengikuti jejak langkah Sang Musafir Agung. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment