Bantul. Untuk pertama kalinya, Paroki St. Yakobus Klodran Bantul, D.I. Yogyakarta menyelenggarakan Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP). Pembukaan KEP Angkatan I ditandai dengan Perayaan Ekaristi dan pre-class di Gereja St. Yakobus Bantul, Minggu, 13 Agustus 2023.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr, Pastor Kepala Paroki St. Yakobus dan dihadiri sekitar 138 umat sebagai tamu undangan yang terdiri dari Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Yakobus Bantul, para ketua wilayah, para ketua lingkungan, para koordinator Tim Pelayanan (Timpel) Pewartaan dan Evangelisasi, alumni KEP, serta para peserta KEP.
Rm. Merdi mengungkapkan latar belakang diselenggarakannya KEP berangkat dari pengalamannya saat bertemu umat yang tampak belum mengenal iman Katoliknya.
“Hidup di tengah masyarakat, kadang kala kita mendapat pertanyaan dari tetangga yang berbeda iman, misalnya apakah orang Katolik menyembah salib, mengapa Tuhan orang Katolik ada tiga, siapakah ibu Maria. Apakah karena ada Allah Bapa, maka ada ibunya, yaitu Maria, dan ada anaknya, Yesus. Siapa itu Roh Kudus. Kita pun bingung menjawab. Kadang, kita ditanya soal Kitab Suci saja berusaha untuk menghindar,” ujar Rm. Merdi prihatin.
Selain itu, imbuh Rm. Merdi, ada umat Katolik yang tidak mempunyai keberanian menampakkan sukacita sebagai umat Katolik. “Lebih senang menyembunyikan diri sebagai umat Katolik. Itu kita alami dalam kehidupan kita,” sebutnya sembari menambahkan bahwa tidak semua umat paroki mempunyai kedalaman pengetahuan sehingga perlu diajar dan disemangati kembali.

Rm. Merdi pun berharap, melalui perjumpaan yang selalu membuahkan sukacita dan semangat di dalam KEP, Tuhan menyemangati orang Katolik agar ketika ditanya oleh siapa pun dengan mantap bisa menjawab, daripada bersembunyi, malu, dan melipir.
“KEP kita ketahui sebagai singkatan dari Kursus Evangelisasi Pribadi. Dari KEP, kita mengalami sukacita dalam pembelajaran sampai mau mengakui bahwa Kristus Engkaulah Penyelamatku, yang disingkat KEP juga. Lewat proses, kita akan sungguh-sungguh memahami seperti apa iman sejati kita,” tandas Rm. Merdi.
Sementara itu, F.X Widyatmoko selaku Ketua Bidang Pewartaan dan Evangelisasi Paroki St. Yakobus menyebutkan bahwa sasaran peserta adalah para katekis dan wakil dari lingkungan. “Di dalam KEP, diharapkan para peserta semakin mendapatkan pembaruan-pembaruan, menambah pengalaman, dan menguatkan iman,” terangnya.

Selanjutnya, Maria Yustina Titik Marsiswati selaku Tim Pelayanan Evangelisasi sekaligus Ketua Panitia KEP St. Yakobus Bantul mengakui bahwa satu tahun setelah dilantik, timnya tidak mengadakan kegiatan apa pun selain membantu Timpel Sakramen Inisiasi.
Kemudian, Rm. Merdi mengusulkan diadakan KEP. “Apa itu KEP, saya tidak tahu. Saya belum pernah belajar di KEP. Lalu, saya menghubungi tim KEP dari Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Pugeran yang sudah dua belas kali mengadakan KEP,” cerita Titik apa adanya.
Setelah berdiskusi serta menimba wawasan dan pengalaman dari tim KEP Paroki Pugeran, Titik dan rekan timnya menghubungi para ketua lingkungan untuk sosialisasi dan mencari peserta.
“Puji Tuhan, yang berminat mengikuti KEP berjumlah 63 peserta. Murni peserta 48 orang, sedangkan 15 orang adalah panitia sebagai peserta. Kami sebagai panitia belum pernah mengikuti KEP. Memang, di antara kami ada tujuh alumni, tetapi nantinya hanya lima orang yang bisa menjadi fasilitator karena yang lain belum mengikuti retret perutusan,” jelas Titik sembari menambahkan bahwa pelaksanaan KEP dapat berjalan karena ada subsidi dari lingkungan dan paroki.
Titik berharap para peserta akan menjadi pewarta kabar sukacita di tengah masyarakat yang heterogen. “Bagaimanapun, kita harus dibekali dengan ilmu dan pengalaman yang nantinya bisa kita sampaikan kepada orang lain di mana pun kita berada,” pungkasnya.
Usai Perayaan Ekaristi, dilanjutkan Pelantikan Pengurus KEP St. Yakobus Bantul oleh Rm. Merdi dan sesi pre-class bersama Yoh. Handojo Setyawan Kusnadi dan Theresia Evy Christina.
“Orang-orang yang ada di sini adalah pilihan Tuhan, yang akan ditumbuhkan-Nya melalui SEP atau KEP,” buka Handojo yang berasal dari Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta ini.

SEP atau Sekolah Evangelisasi Pribadi, terang Handojo, diselenggarakan oleh keuskupan atau kevikepan. Alumnus menjadi bagian dari paroki atau komunitas asal, maupun bergabung dengan Pembaruan Karismatik Katolik (PKK). “Sedangkan KEP diselenggarakan oleh paroki dan alumnus menjadi milik paroki. KEP diselenggarakan selama 8 bulan, sedangkan SEP bisa 9 sampai 9,5 bulan karena ada tambahan-tambahan (materi),” papar Handojo.
SEP maupun KEP disebut sekolah karena ada kurikulum dan berbentuk pengajaran. Namun, SEP maupun KEP bukan kursus untuk menjadi pewarta mimbar, pemandu sabda, atau pengkhotbah. “KEP membekali kita supaya sebagai umat Katolik punya sukacita. Para alumni itu sudah lupa materinya, tapi yang mereka ingat, setelah mengikuti KEP merasa senang dan bersukacita,” tandasnya.
Menurut Handojo, dalam SEP maupun KEP, setiap peserta mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan sehingga setelah selesai akan mengalami sukacita sampai akhir hidupnya.

Selanjutnya, Theresia Evy Christina yang telah 12 tahun menjadi pengajar KEP mengaku, “Saya sudah mengajar begitu banyak kelas, ketemu ribuan alumni, baik di Jawa, Batam, Banjarmasin, Ketapang, maupun Pontianak. Mereka yang ikut KEP sampai selesai, saya lihat hampir sebagian besar hidupnya diubahkan.”
“Tuhan mau mengubah dan melepaskan masalah Anda,” sambung Evy. “Namun, akan ada banyak godaan selama mengikuti KEP.”
Oleh karena itu, setiap peserta harus mencari dua orang pendukung doa yang akan mendoakannya setiap hari supaya kuat menjalani proses belajar selama delapan bulan. Selain keluarga, juga disarankan mencari pendoa yang belum pernah ikut KEP supaya hatinya tergerak untuk mengikuti KEP juga.
Setelah sesi pre-class, para peserta KEP akan mengikuti rekoleksi awal atau pembukaan pada Sabtu, 26 Agustus 2023 pukul 17.00 WIB di aula paroki.








