Ketika Tanah Berubah, Gereja Dipanggil untuk Bertumbuh (2)

HPS 2026 Santo Petrus Warak: Merawat Pangan, Merawat Rumah Bersama, dan Meneruskan Kehidupan

Jendela52 Views

Rangkaian Hari Pangan Sedunia (HPS) 2026 di Paroki Santo Petrus Warak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta kemudian bergerak dari ruang pelatihan ekonomi menuju pengalaman yang lebih dekat dengan tanah.

Pada Minggu, 4 Oktober 2026, umat mengikuti pelatihan penyiapan media tanam dan budidaya cabai Jawa serta merica bersama Itok Sampoerno dan Tim Bolayana Farm. Kegiatan yang diselenggarakan di halaman parkir gereja ini mengajak umat kembali berhubungan dengan praktik menanam.

Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi aktivitas ekonomi dan pekerjaan nonpertanian, kegiatan semacam ini mempunyai arti tersendiri. Menanam bukan hanya keterampilan teknis, melainkan juga proses pendidikan ekologis. Manusia belajar bahwa kehidupan tidak muncul secara instan. Tanaman membutuhkan media yang tepat, air, cahaya, pemeliharaan, dan waktu.

Ada pelajaran tentang kesabaran di dalamnya. Ada pula kesadaran bahwa manusia tidak sepenuhnya mengendalikan kehidupan. Ia hanya dapat merawat kondisi agar kehidupan memiliki kesempatan untuk bertumbuh.

Pertanyaan Decky tentang bagaimana tumbuhan dapat tumbuh apabila manusia tidak memulainya menemukan jawabannya dalam kegiatan tersebut. Harapan terhadap masa depan tidak cukup diucapkan. Ia harus dimulai melalui tindakan yang konkret, sekalipun kecil.

Pada Minggu, 11 Oktober 2026, perhatian beralih pada persoalan pengelolaan sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi. Kegiatan ini memperluas pemahaman bahwa persoalan pangan tidak dapat dipisahkan dari pola produksi dan konsumsi masyarakat.

Apa yang kita makan, bagaimana kita membeli, bagaimana kita menggunakan bahan, dan bagaimana kita membuang sisa konsumsi merupakan bagian dari satu sistem kehidupan. Sampah bukan hanya persoalan kebersihan lingkungan, tetapi juga cermin dari cara masyarakat mengelola sumber daya.

Di sini, HPS mempertemukan tiga dimensi yang sering dipisahkan: tanah sebagai sumber produksi, manusia sebagai pelaku ekonomi, dan sampah sebagai konsekuensi dari pola konsumsi. Ketiganya sebenarnya saling terhubung.

Perspektif ini sejalan dengan gagasan ekologi integral dalam Ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus. Ekologi integral berarti memahami bahwa persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan, dan martabat manusia.

Kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan alam, karena dampaknya selalu menyentuh kehidupan manusia, terutama mereka yang paling rentan.

Pada nomor 141–142, Laudato Si’ menegaskan hubungan antara ekologi lingkungan, ekonomi, dan sosial. Kesehatan lembaga-lembaga masyarakat, keluarga, dan komunitas lokal mempunyai pengaruh terhadap kualitas lingkungan serta kehidupan manusia. Dengan kata lain, menjaga lingkungan juga berarti menjaga kualitas hubungan antarmanusia.

Karena itu, mengelola sampah menjadi bernilai ekonomi tidak seharusnya berhenti pada pertimbangan keuntungan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kegiatan tersebut juga membentuk kebiasaan baru, mengurangi beban lingkungan, dan menciptakan tanggung jawab bersama.

Mewarnai merupakan salah satu cara anak mengenali dan mengekspresikan dunia di sekitarnya.
Ekaristi yang bergerak menuju solidaritas

Dimensi sosial HPS semakin terlihat pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Dalam rangkaian kegiatan tersebut diselenggarakan Perayaan Ekaristi, pemberkatan alat-alat usaha, dan Bazar UMKM di Gereja Santo Petrus Warak.

Pemberkatan alat usaha memiliki makna yang menarik. Alat produksi, yang dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk bekerja dan menghasilkan pendapatan, dibawa ke dalam ruang perayaan iman. Di sini terdapat pengakuan bahwa pekerjaan, usaha, dan perjuangan menghidupi keluarga bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan rohani.

Iman tidak hanya hidup di dalam gereja, tetapi juga hadir di dapur tempat seseorang mengolah makanan, di meja tempat pedagang mencatat transaksi, di ruang kerja tempat orang merancang usaha, dan di tangan mereka yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ekaristi kemudian memperoleh kesinambungan makna ketika umat diajak berbagi melalui pengumpulan sembako, perlengkapan mandi, dan perlengkapan mencuci. Bantuan tersebut dipersiapkan untuk diserahkan kepada Yayasan Hamba di Pakem dan Yayasan Bakti Luhur di Berbah.

Di sinilah perayaan iman bertemu dengan solidaritas sosial. Apa yang diterima sebagai anugerah tidak berhenti menjadi milik pribadi, tetapi dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Puncak perayaan pada Minggu, 18 Oktober 2026 diawali dengan Perayaan Ekaristi pukul 07.00, dilanjutkan lomba memasak olahan umbi pada pukul 10.00, bazar, dan kebersamaan umat.

Di antara rangkaian kegiatan tersebut, terdapat pula lomba mewarnai yang melibatkan anak-anak dalam dua kategori usia, yakni anak-anak TK hingga kelas satu SD serta anak-anak kelas dua hingga kelas tiga SD.

Sekilas, lomba ini mungkin tampak sebagai kegiatan sederhana yang memberikan ruang bermain bagi anak-anak. Namun, dalam konteks HPS, kegiatan tersebut menyimpan makna yang lebih luas.

Mewarnai merupakan salah satu cara anak mengenali dan mengekspresikan dunia di sekitarnya. Melalui gambar dan warna, anak-anak diajak membangun kedekatan dengan tema yang diangkat dalam perayaan HPS.

Mereka tidak hanya menjadi penonton dalam kegiatan orang dewasa, tetapi turut mengambil bagian melalui bahasa yang dekat dengan dunia mereka: imajinasi, kreativitas, dan permainan.

Ada pesan penting di balik pelibatan anak-anak ini. Kesadaran untuk merawat bumi dan menghargai pangan tidak seharusnya baru diperkenalkan ketika seseorang dewasa. Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan sejak dini melalui pengalaman yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Lomba mewarnai menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan bahwa tanah, tanaman, pangan, dan kehidupan merupakan bagian dari rumah bersama yang perlu dijaga.

Penyerahan bantuan hasil persembahan kepada Yayasan Hamba.

Kehadiran dua kategori usia juga memperlihatkan bahwa anak-anak memiliki tahap perkembangan dan kemampuan yang berbeda. Mereka diberi ruang untuk berkarya sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Dalam perspektif pendidikan dan kebudayaan, pengalaman sederhana seperti ini dapat menjadi bagian dari proses pembentukan nilai: belajar mengenali lingkungan, mengembangkan kreativitas, dan merasa menjadi bagian dari komunitas.

Dengan demikian, HPS bukan hanya ruang belajar bagi orang dewasa tentang pertanian, pengelolaan usaha, atau persoalan lingkungan. HPS juga merupakan ruang pewarisan nilai kepada generasi berikutnya.

Kehidupan yang ingin diteruskan tidak hanya menyangkut ketersediaan pangan, tetapi juga kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab untuk merawat bumi.

Lomba memasak umbi menjadi bagian lain yang menarik untuk dibaca melalui pendekatan budaya. Umbi-umbian merupakan bagian dari pengetahuan pangan lokal yang sering kali berada di bawah dominasi budaya konsumsi yang lebih mengutamakan beras, tepung terigu, dan produk pangan industri.

Ketika umbi diolah menjadi sajian kreatif, masyarakat sebenarnya sedang melakukan lebih dari sekadar kegiatan memasak. Mereka menghidupkan kembali pengetahuan tentang bahan pangan, memperlihatkan kemungkinan pengolahan baru, serta membangun apresiasi terhadap kekayaan pangan yang tersedia di lingkungan sendiri.

Makanan memiliki dimensi kebudayaan. Di dalamnya terdapat ingatan keluarga, pengetahuan antargenerasi, kebiasaan, selera, dan identitas masyarakat. Karena itu, menjaga pangan lokal juga berarti menjaga sebagian dari ingatan kolektif masyarakat.

Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, bantuan yang dikumpulkan dalam rangkaian HPS diserahkan kepada Yayasan Hamba di Pakem dan Yayasan Bakti Luhur di Berbah. Kegiatan kunjungan kasih ini dilaksanakan oleh panitia HPS dengan dukungan program kerja Orang Muda Katolik (OMK) Santo Petrus Warak tahun 2026, yang salah satunya memberi perhatian pada kunjungan kasih ke panti sosial.

Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk membawa semangat HPS keluar dari lingkungan gereja dan menjumpai mereka yang membutuhkan perhatian. Apa yang sebelumnya dikumpulkan melalui kebersamaan umat kemudian diwujudkan dalam tindakan berbagi.

Di sini, solidaritas tidak berhenti sebagai pesan dalam perayaan, tetapi hadir melalui kehadiran, kepedulian, dan kesediaan untuk menjumpai sesama. Keterlibatan OMK juga memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap kehidupan merupakan tanggung jawab lintas generasi.

Orang muda tidak hanya menjadi peserta kegiatan paroki, tetapi turut mengambil bagian dalam pelayanan sosial. Program kunjungan kasih yang mereka jalankan menemukan ruang perjumpaan dengan semangat HPS: merawat kehidupan berarti juga memperhatikan mereka yang mungkin berada jauh dari keseharian kita.

Pada akhirnya, rangkaian HPS memperlihatkan bahwa merawat kehidupan membutuhkan keterlibatan semua generasi. Orang dewasa belajar mengolah peluang ekonomi, umat belajar berbagi, sementara anak-anak mulai mengenal lingkungan dan tanggung jawab merawatnya.

Orang muda mengambil bagian dengan menghadirkan kepedulian melalui kunjungan kasih. Masing-masing bergerak dengan cara yang berbeda, tetapi menuju harapan yang sama: kehidupan yang lebih baik dan bumi yang tetap layak diwariskan.

Hans Salvatore

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *