Jeli Ambil Keputusan, Hadapi Dilema Individualitas

Jendela833 Views

Secara defenitif, dilema indivual dapat diartikan seperti situasi ketika seseorang harus membuat keputusan yang melibatkan kepentingan pribadi. Dalam kesempatan lain, orang juga biasa menyebut dilema individual sebagai dilema etika atau dilema moral.

Ada beberapa kasus, entah disadari atau tidak disadari, dilema individual bisa terjadi dalam situasi apa pun dan kapan pun. Sebagai contoh dilema yang terjadi antara individu dan masyarakat, rasa keadilan dan rasa kasihan, kebenaran dan kesetiaan. Dilema-dilema seperti ini yang menurut hemat penulis masuk dalam kategori dilema individualitas.

Problematika akan muncul ketika individu itu sendiri tidak bisa mengelola dan berani untuk mengambil keputusan dari dilema yang muncul itu.

Pada intinya dilema individualitas itu merupakan situasi ketika seseorang dihadapkan dengan dua pilihan yang secara moral benar tetapi bertentangan.

Dalam praktik hidup sehari-hari, saya melihat dilema individualitas atau dilema etika merupakan hal yang memerlukan “kerja ekstra” untuk dihadapi dari waktu ke waktu.

Dalam proses hidup ketika berhadapan dengan dilema individualitas, seseorang akan dihadapkan dengan nilai-nilai kebajikan, seperti cinta kasih, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, dan tanggung jawab. Mungkin masih ada kebajikan-kebajikan lain yang masing-masing kita bisa melihatnya.

Secara umum, saya melihat ada paradigma yang bisa terjadi ketika berhadapan dengan situasi dilema individualitas yang akan saya uraikan di bawah ini.

Individu vs community

Secara harfiah, paradigma ini diartikan sebagai pertentangan antara individu dengan sebuah kelompok yang di dalamnya terdiri dari lebih dari satu individu. Dalam artian lebih luas, saya melihat individu yang dimaksud di sini bukan tentang satu orang saja, tetapi lebih pada kumpulan individu kecil yang dipertentangkan dengan kelompok yang besar.

Seperti juga makna kelompok ini bisa dipahami dalam arti luas, yakni masyarakat, dan tidak menutup kemungkinan kelompok lain, entah organisasi yang lebih besar dari kumpulan individu kecil yang bertentangan.

Dalam pertentangan antara dua kelompok ini, dilema individu mulai muncul, dalam hal ini individu dihadapkan dengan pilihan, apa yang benar untuk kelompok kecil, dan apa yang benar untuk kelompok yang lebih besar.

Sebagai contoh, dalam sebuah seminar ada sebagian kelompok kecil sudah memahami apa yang menjadi pokok pembahasan, tetapi di sisi lain ada kelompok yang sama sekali belum memahami atau membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami apa yang disampaikan oleh narasumber. Dalam situasi ini, narasumber akan berhadapan dengan dilema individu melawan kelompok.

www.canva.com

Justice vs mercy

Secara defenitif, kedua hal yang dipertentangkan ini memiliki arti keadilan dan rasa kasihan.

Dalam paradigma ini, ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang di sisi lain.

Dalam kesempatan tertentu memang betul untuk memegang peraturan, tetapi kadang membuat pengecualian juga merupakaan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan. Di sisi lain, pilihan untuk membuat kecurangan dalam aturan dapat muncul atas dasar rasa kasihan.

Sebagai contoh, dalam kasus pencurian, pelakunya ada seorang nenek tua renta, yang mencuri daun singkong untuk dimakan, lalu karena kedapatan, ia dilaporkan ke pihak yang berwajib. Dalam konteks ini, yang dalam posisi dilema yakni pihak yang berwajib. Makna yang berlanjut yakni pihak yang berwajib ini mau memberikan hukuman sesuai aturan yang berlaku atau ia lebih mengedepankan rasa kemanusiaan berupa belas kasihan.

Truth vs loyalty

Kejujuran dan kesetian merupakan arti secara harfiah dari dua kalimat di atas. Dalam konteks dilema indivualitas, truth vs loyalty sering kali menjadi nilai-nilai yang bertentangan. Dalam satu konteks kita akan berhadapan dengan situasi harus berlaku jujur ataukah berlaku setia.

Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung tinggi nilai kesetiaan pada komitmen yang dibuat sebelumnya.

Hemat saya, hampir dari kita semua tentunya pernah mengalami harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman atau saudara yang sedang berada dalam masalah. Ini merupakn contoh dari dilema kebenaran yang dipertentangkan dengan kesetiaan.

Menyaring masalah

Berhadapan dengan dilema individualitas yang sudah saya paparkan di atas, ada tawaran yang mungkin bisa membuka wawasan kita bersama untuk mengambil keputusan dalam konteks dilema.

Perlu ada pengkajian lebih jauh dalam dilema tersebut, yakni ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini. Lebih sederhananya dapat dipahami bahwa perlu diidentifikasi dilema yang muncul itu dan menyaring masalah yang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial.

Namun, perlu diperhatikan juga bahwa penerapan langkah ini jika terlalu berlebihan dapat menjadikan kita orang yang terlalu mendewakan aspek moral sehingga kita akan mempermasalahkan setiap kesalahan sekalipun masalah itu kecil. Sebaliknya jika kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis.

 Pada akhirnya, kita semua akan sadar bahwa dalam setiap konteks kehidupan kita akan selalu berhadapan dengan dilema individualitas. Oleh karena itu perlu kejelian atau ketelitian dalam mengambil keputusan.

Hal yang tidak kalah penting juga jika dilema itu berhubungan dengan suatu kelompok besar, maka perlu untuk diperhatikan lebih jauh lagi. Bila perlu ada kajian dari disiplin-disiplin ilmu yang terkait yang menjadi pokok, yakni moralitas dan etika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *