Kaum Muda: Tantangan dan Potensi Gereja

Pelita2091 Views

Kaum muda atau orang muda merupakan masa depan bagi segala hal di dunia ini. Hal itu tidak terkecuali bagi Gereja. Kaum muda merupakan masa depan dari segala hal, karena merekalah orang-orang yang keberadaannya akan mendominasi di dunia ini.

Data dari UNICEF menunjukkan bahwa populasi pemuda di dunia berjumlah sekitar 1,3 miliar dari 8,16 miliar jumlah penduduk dunia. Hal tersebut menunjukkan bahwa kaum muda memang merupakan potensi terbesar dalam meneruskan tradisi di tengah perkembangan arus zaman.

Kaum muda sungguh merupakan potensi terbesar Gereja agar dapat terus berkembang mengikuti arus zaman tanpa menghilangkan tradisi sucinya. Kaum muda membuat Gereja memiliki semangat untuk dapat terus memperbarui diri dan membuat Gereja menjadi tetap muda bagi seluruh umat Gereja.

Kaum muda memang dapat menjadi potensi Gereja, tetapi tanpa bimbingan dan wadah yang memadai, mereka juga dapat menjadi tantangan bagi Gereja. Gereja perlu mengerti mengenai sifat-sifat kaum muda agar dapat memberikan bimbingan dan wadah bagi mereka sehingga kaum muda dapat menjadi penggerak, penguubah, dan pembaru Gereja.

Kaum muda atau orang muda merupakan seseorang dengan rentang usia 16 sampai 30 tahun. Dari segi psikologi, orang muda merupakan seseorang yang berada dalam masa transisi secara fisik, psikis, intelektual, dan peran sosial. Masa transisi tersebut merupakan upaya serta proses para pemuda untuk mencari identitas dirinya.

Pencarian identitas diri dari para pemuda ditandai dengan adanya krisis dan komitmen yang muncul pada diri mereka. Krisis tersebut dapat berdampak negatif bagi para pemuda jika mereka tidak didampingi. Hal tersebut merupakan hal yang wajar, karena mereka bingung terhadap identitas dirinya dan belum dapat menentukan siapa dirinya atau belum dapat menentukan nilai hidupnya.

Tantangan kaum muda dan Gereja

Perkembangan teknologi membuat para kaum muda makin sulit menghadapi krisis mereka. Kemajuan teknologi memang mempermudah manusia dalam menjangkau tujuannya, tetapi dampaknya tidak hanya itu saja. Teknologi membuat pilihan-pilihan yang kaum muda miliki makin banyak. Hal tersebut, membuat kaum muda makin bingung dengan nilai-nilai atau identitas yang ingin mereka hidupi.

Teknologi yang dapat memberikan banyak informasi serta pilihan bagi kaum muda. Membuat kaum muda berfokus pada dirinya sendiri karena mereka tidak ingin tertinggal dengan banyaknya informasi serta pilihan yang mereka terima. Mereka dengan sifatnya ingin dapat merasakan semua pilihan yang mereka miliki serta tidak ingin tertinggal dengan tren yang ada.

Hal itu membuat mereka menjadi terlalu lekat dengan media serta fokus mereka. Tanpa adanya dampingan bagi kaum muda hanya akan memperburuk dampak negatif tersebut. Krisis yang terjadi akhirnya tidak hanya krisis pencarian identitas diri, tetapi juga akan terjadi krisis kasih.

Krisis kasih dapat terjadi pada kaum muda karena tidak adanya dampingan, perhatian atau perasaan kasih yang mereka terima dari orang terdekat mereka, seperti oleh orang tua. Hal itu diperburuk dengan adanya teknologi yang tanpa disadari makin membuat mereka memiliki sifat egosentris, seperti berfokus pada gawai dan membuat mereka tidak peduli terhadap sekitar. Krisis kasih sesungguhnya menjadi tantangan bagi Gereja untuk dapat makin memberi wadah serta bimbingan kepada kaum muda.

Gereja merupakan komunitas yang mengikuti ajaran dari Kristus, yaitu ajaran mengenai kasih. Pada Alkitab pun tertera bahwa kasih adalah hukum yang terutama dan yang paling utama, terutama bagi pengikut Kristus (Ef. 5:25 dan Gal. 2:20).

Dengan kondisi dunia saat ini, Gereja harus dapat menunjukkan kepada kaum muda bahwa kasih bukanlah sesuatu yang abstrak, tetapi dapat dirasakan dan dinyatakan secara nyata melalui tindakan konkret. Salah satu cara Gereja dalam mengatasi krisis tersebut adalah dengan menerbitkan dokumen Gereja, seperti dokumen Christus Vivit yang dibuat oleh Paus Fransiskus.

Karya Gereja menghadapi kaum muda

Pada dokumen Christus Vivit, Paus Fransiskus menyoroti permasalahan-permasalahan yang muncul pada kaum muda. Sebagian besar permasalahan kaum muda sebenarnya muncul dari diri mereka yang kurang dampingan serta kurang didengarkan oleh orang-orang di sekitar mereka.

Kaum muda sesungguhnya memiliki keinginan untuk didengarkan, dipahami, dan ditemani sehingga mereka perlu untuk didampingi dan dibimbing. Dokumen Christus Vivit mengajak Gereja untuk membuka dialog dengan para orang muda. Hal itu pun menjadi salah satu upaya Gereja untuk mendampingi dan mendengarkan kaum muda yang merupakan bentuk karya pelayanan Gereja.

Gereja yang dapat mendampingi dan membimbing kaum muda akan memberikan buah-buah roh baik yang mampu mengembangkan dan memperbarui Gereja. Tidak hanya mengembangkan dan memperbarui Gereja, buah-buah roh tersebut dapat membuat para kaum muda memiliki daya ubah bagi dirinya sendiri, sesama, juga Gereja. Para kaum muda pun dapat terdorong untuk terlibat aktif di dalam berbagai karya Gereja. Hal tersebut dapat dicapai dari berbagai bentuk karya pelayanan Gereja yang ada untuk kaum muda.

Karya-karya pelayanan Gereja saat ini sebenarnya telah banyak yang disesuaikan dan cocok bagi kaum muda seperti Orang Muda Katolik (OMK), Anthiok, dan sebagainya. Gereja saat ini telah memberi banyak wadah bagi kaum muda untuk dapat berkarya dan menyebarkan kasih, melalui berbagai organisasi serta kegiatan yang telah dibentuk Gereja.

Berbagai organisasi serta kegiatan Gereja saat ini telah banyak bersifat untuk membimbing generasi muda atau kaum muda, hal itu dapat dilihat dari setiap organisasi kepemudaan yang memiliki orang tua di dalamnya. Tidak hanya membimbing, organisasi serta kegiatan Gereja bahkan dapat menopang, menyembuhkan, dan memelihara para kaum muda.

Para kaum muda dapat dibantu untuk mengatasi krisis yang mereka miliki dan mengembangkan diri mereka melalui bimbingan serta perjumpaan yang terjadi di dalam organisasi serta kegiatan Gereja.

Perjumpaan yang terjadi pada diri kaum muda membuat mereka dapat menumbuhkan iman, menghadapi krisis, serta memiliki daya ubah. Patut diketahui bahwa sesungguhnya para kaum muda bukan hanya merupakan masa depan Gereja, tetapi juga masa kini Gereja.

Para kaum muda sebenarnya merupakan penggerak dan pembaru Gereja saat ini sehingga mereka perlu diberikan dampingan serta wadah untuk berkarya. Tanpa adanya dampingan serta wadah, kaum muda hanya akan menjadi tantangan bagi Gereja dan bukan potensi Gereja untuk semakin berkembang.

Fransiskus Xaverius Ragil Ismupranatal Bhatara Randa (seminaris tahun keempat Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *