Hikmat Amsal bagi Masalah Kaum Muda

Pelita892 Views

Dalam hidup, kecemasan dan ketidakpastian selalu ada. Hidup tanpa tujuan yang jelas dan ketakutan akan masa depan menjadi masalah di masyarakat, terlebih bagi kaum muda di era sekarang ini.

Secara statistik, data dari lembaga kesehatan mental menunjukkan tingkat kecemasan di kalangan remaja dan mahasiswa terus meningkat. Misalnya, penelitian American Psychological Association menunjukkan lebih dari 30% remaja melaporkan merasa cemas secara signifikan. Hal-hal seperti ini dapat ditimbulkan karena dipicu oleh tekanan akademis, ekspektasi sosial, dan ketidakpastian tentang masa depan.

Mahasiswa Teologi di STKIP Widya Yuwana Madiun pun tidak luput dari kecemasan dan ketakutan akan masa depan. Namun, sebagai mahasiswa Teologi, hal apa yang dapat dilakukan untuk menghadapi ketakukan itu?

Sebagai mahasiswa Teologi, kami mendapatkan Mata Kuliah Kitab Nyanyian dan Kebijaksanaan. Salah satu yang menurut saya menarik adalah Kitab Amsal dan bagaimana pandangan Kitab Amsal terhadap masalah pada kaum Muda.

Buku Hermeneutika Perjanjian Lama II menerangkan bahwa Kitab Amsal memuat beberapa hikmat (Dewantara, 2008: hlm. 76). Pertama, nasihat mengenai keluarga, kaum muda, kemurnian seksual, kesetiaan hubungan pernikahan, kejujuran, kerja keras, kemurahan, persahabatan, keadilan, kebenaran, dan disiplin.

Kedua, memperingatkan mengenai bodohnya dosa, pertengkaran, bahaya lidah, kebebalan, minuman keras, kerakusan, nafsu, kebejatan, kebohongan, kemalasan, dan teman-teman yang tidak baik.

Ketiga, membandingkan kebijaksanaan dengan kebodohan, orang benar dengan orang fasik, kesombongan dengan kerendahan hati, kemalasan dengan kerajinan, kemiskinan dan kekayaan, kasih dan hawa nafsu, benar dan salah, serta kematian dan hidup.

Namun, pada buku ini masalah ketidakpastian dan kecemasan tidak disorot. Padahal pada era sekarang, kecemasan dan rasa takut akan masa depan menjadi masalah yang menjamur pada kaum muda. Permasalahan ini yang mendorong untuk saya mencoba mengembangkan materi dari buku Hermeneutika Perjanjian Lama II.

Masalah ketidakpastian dan kecemasan ini dibahas dalam Amsal 12:25, “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.”

Dari kutipan ayat pada kitab Amsal ini, kita dapat mengatasi kecemasan dengan tiga solusi.

Pertama, memahami sumber kecemasan. Kecemasan sering kali berasal dari ketidakpastian, tekanan sosial, atau beban emosional. Amsal 12:25 menyatakan, “Kecemasan di hati seseorang membungkukkan tubuhnya.” Ini menunjukkan perasaan cemas dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental. Memahami sumber kecemasan adalah langkah pertama untuk mengatasinya.

Kedua, menggunakan kata-kata yang membangun. Amsal menggarisbawahi kekuatan kata-kata. Amsal 12:25 melanjutkan dengan mengatakan bahwa “kata yang baik membuatnya bersukacita”. Menggunakan bahasa positif, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, dapat membantu mengubah perspektif dan meredakan kecemasan. Misalnya, mengingatkan diri akan hal-hal yang baik dan bersyukur dapat memberikan ketenangan.

Ketiga, dukungan eksternal dari komunitas. Kecemasan sering kali terasa lebih berat ketika kita menghadapinya sendiri. Amsal mendorong kita untuk mencari dukungan dari sesama. Berbagi perasaan dengan teman atau anggota komunitas bisa menjadi cara efektif untuk mengurangi beban. Komunitas dapat menyediakan dukungan emosional dan perspektif yang berbeda yang dapat membantu kita mengatasi kecemasan.

Dapat dsimpulkan, mengatasi kecemasan bukanlah proses yang instan, tetapi Amsal memberikan panduan praktis dan spiritual untuk mendukung kita. Dengan memahami sumber kecemasan, menggunakan kata-kata yang membangun, mencari dukungan, dan mengandalkan hikmat serta janji Tuhan, kita dapat menemukan cara untuk mengelola kecemasan dengan lebih baik.

Dalam komunitas iman, kita tidak hanya belajar untuk mengatasi kecemasan, tetapi juga untuk saling menguatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *