Sebuah bangsa tidak akan runtuh hanya karena keterbatasan sumber daya alam, tetapi ia dipastikan hancur jika kehilangan kompas moralnya.
Hari-hari ini, jika kita jujur merefleksikan situasi di Bumi Pertiwi, ada kecemasan mendalam yang sulit disembunyikan. Kita sedang menyaksikan tontonan yang kian hari kian karib dengan indra kita: sebuah fenomena nyata tentang merosotnya nurani, moral, dan etika dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Pancasila yang kerap kita dengungkan dalam seremoni formal seolah bertransformasi menjadi sekadar pajangan dinding. Nilai-nilai luhur yang dahulu dirumuskan dengan darah dan air mata oleh para pendiri bangsa kini kerap kalah telak oleh syahwat politik, keserakahan ekonomi, dan pragmatisme akut.
Ironi di panggung publik
Manifestasi dari runtuhnya etika ini paling telanjang terlihat di panggung publik dan politik kita. Praktik korupsi tidak lagi menjadi sebuah aib yang ditakuti, melainkan bertransformasi menjadi tindakan yang dianggap lumrah, bahkan struktural.
Ketika para pejabat publik yang memegang amanah rakyat justru memperkaya diri atau kelompoknya tanpa rasa bersalah, di sanalah nurani telah mati.
Lebih jauh, kita disuguhkan pada ironi penegakan hukum yang kerap kali “tebang pilih”. Hukum yang seharusnya menjadi panglima keadilan justru sering terasa tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.
Ketika keadilan bisa diperjualbelikan, etika bernegara sebetulnya sudah berada di titik nadir (bdk. Im. 19:15). Masyarakat kehilangan figur teladan dan ruang publik kita kemudian dipenuhi oleh sinisme serta ketidakpercayaan mutual (distrust).
Krisis ini menjalar hingga ke akar rumput melalui digitalisasi tanpa jangkar moral. Media sosial yang sejatinya bisa menjadi ruang dialog yang sehat, kini kerap berubah menjadi medan pertempuran caci maki, hoaks, dan pembunuhan karakter.
Budaya unggah-ungguh dan tepa selira khas Nusantara perlahan terkikis, digantikan oleh egoisme kelompok yang ekstrem.
Mengapa kita sampai di sini?
Runtuhnya moralitas bangsa ini bukan terjadi dalam semalam. Ini adalah akumulasi dari sistem pendidikan kita yang terlalu mendewakan formalisme akademis. Kita terjebak pada angka-angka di atas kertas, merayakan kecerdasan kognitif, tetapi abai menumbuhkan kecerdasan moral dan budi pekerti. Kita melahirkan manusia-manusia pintar secara intelektual, tetapi miskin secara spiritual dan sosial (bdk. Rm.1:28-32)
Kondisi ini diperparah oleh penetrasi budaya materialisme dan hedonisme global. Sukses hari ini diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki atau seberapa tinggi jabatan yang diraih, bukan lagi dari seberapa besar integritas dan kebermanfaatan seseorang bagi sesamanya. Ketika materi menjadi tuhan baru, maka etika pun dengan mudah digadaikan.
Menyalakan kembali lentera nurani
Kita tidak boleh membiarkan keputusasaan memenangkan masa depan bangsa ini. Memulihkan etika berbangsa adalah panggilan darurat yang harus dijawab oleh seluruh elemen masyarakat.
Pertama, pemulihan ini harus dimulai dari keteladanan elite. Pemimpin tidak boleh hanya pandai beretorika tentang moral, melainkan harus memimpin dengan contoh (leading by example). Integritas, kesederhanaan, dan kepatuhan pada hukum harus ditunjukkan secara nyata dalam setiap kebijakan (bdk. Mzm. 78:72 cf, Flp. 2:3-4)
Kedua, kita perlu melakukan revitalisasi pendidikan karakter secara substantif. Pendidikan harus kembali pada khitahnya: memanusiakan manusia. Nilai-nilai Pancasila jangan lagi diajarkan sebagai hafalan ujian, melainkan sebagai perilaku hidup sehari-hari (Amsal 1:7 cf. Rm.12:2)
Ketiga, penegakan hukum tanpa pandang bulu. Hanya lewat kepastian hukum yang adil, marwah moral bernegara bisa ditegakkan kembali dan kepercayaan publik dapat dipulihkan (Ul. 1:17; 16:19 cf. Yak.2:9)
Etika dan moral adalah lem perekat yang menjaga kemajemukan Indonesia tetap utuh. Jika lem itu mengering dan hancur, maka runtuhlah bangunan kebangsaan kita.
Sudah saatnya kita semua—dari para pengambil kebijakan hingga masyarakat biasa—bercermin dan bertanya pada diri sendiri: mau dibawa ke mana Bumi Pertiwi ini jika nurani telah mati?
Menjemput kembali nurani yang hilang bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan demi kelangsungan hidup bangsa ini.
Izinkan saya mengakhiri tulisan ini dengan mengutip salah satu kata-kata bijak Bung Karno (the Founding Father bangsa ini), “Membangun suatu negara, membangun ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama dan pada asasnya membangun jiwa bangsa. Tentu saja keahlian adalah perlu, tetapi keahlian saja tanpa didasarkan pada jiwa bangsa yang besar, tidak akan dapat mencapai tujuannya.”
Semoga dari hari ke hari kita semua—seluruh bagian anak negeri Bumi Pertiwi ini—makin menyadari menemukan kembali jiwa dan nurani bangsa ini untuk mewujudkan diri sebagai bangsa yang besar—gemah ripah loh jinawi.
Thomas R.M. Harjawikarta Alumnus Pontifical Faculty of Theology “Wedabhakti” Pemerhati masalah anak-anak, remaja, & keluarga







