Seperti yang tercantum dalam visi dan misi sekolah, SMA Kolese Gonzaga adalah sekolah yang mempersiapkan pemimpin masa depan, baik pemimpin bangsa atau Gereja.
Dalam kegiatan formatio pendidikan, selain kegiatan akademis sebagai tugas utama, sekolah juga menyediakan banyak ruang dan waktu bagi para siswa untuk mengembangkan diri.
Pengembangan diri para siswa ditempuh melalui pelatihan-pelatihan kepemimpinan dengan harapan mereka bisa menjadi pemimpin yang berkarakter 4 CHI (compassion, conscience, competence, commitment, humble, dan integrity).
Namun demikian, kalau mereka tidak bisa menjadi pemimpin bagi banyak orang, sekolah tetap meletakkan fondasi untuk para siswa agar mereka bisa memimpin dirinya sendiri untuk menjadi siswa dan alumni sekolah yang sukses dalam kehidupannya dan senantiasa membawa napas AMDG (Ad Maiorem Dei Gloriam/Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar) di tengah masyarakat.
Kegiatan non-curricular yang berkaitan dengan pembekalan dan pelatihan kepemimpinan diberikan kepada para siswa selama belajar di SMA Kolese Gonzaga. Siswa yang belajar di kelas X diberi latihan kepemimpinan awal, siswa kelas XI dilatih kepemimpinan sehingga ikut kontestasi pemilihan Ketua Senat (sebutan yang setara dengan OSIS di SMA pada umumnya), dan siswa kelas XII mendapat challenge untuk menyelenggarakan kegiatan Gonzaga Festival sebagai bentuk praksis bekal kepemimpinannya.
Siswa kelas XI yang mendapat kesempatan untuk dipilih menjadi suksesor kepemimpinan sebagai Ketua Senat difasilitasi oleh sekolah dan Senat yang sedang menjabat sebagai penyelenggara pesta demokrasi, layaknya saat negara sedang menyelenggarakan pemilihan presiden.
Dalam pesta demokrasi, para siswa berlatih cara berdemokrasi yang ideal, yaitu bahwa pemimpin harus muncul dari siswa dan dipilih sepenuhnya oleh siswa tanpa melalui “partai politik” yang menyaringnya seperti halnya dalam praktik kenegaraan yang dalam kondisi tertentu demokrasi bisa dimanipulasi oleh banyak konflik kepentingan.
Sebelum pesta demokrasi, Senat SMA Kolese Gonzaga periode 2025/2026 yang akan habis masa tugasnya, mempersiapkan suksesi kepemimpinan yang akan meneruskan. Suksesi dimulai dengan menjaring calon, mempersiapkannya melalui Latihan Kepemimpinan Ignatian, membentuk tim sukses calon, mengadakan kampanye, mengikuti debat dan diakhiri dengan pemungutan suara.
Demokrasi tidak mengidealkan bahwa pemilihan pemimpin hanya diisi oleh calon tunggal sehingga dalam pemilihan Ketua Senat kepengurusan 2026/2027 dijaring sebanyak mungkin calon, meski pada akhirnya mengerucut dan didapatkan tiga calon yang harus berjuang untuk memperebutkan simpati dari para rekan siswa lainnya yang menjadi pemilik kekuasaan sebagai calon pemilih.
Ketiga calon membentuk tim sukses masing-masing, membuat program unggulan, mengadakan kampanye untuk menarik simpati pemilih. Para calon menunjukan kepiawaian dalam berorasi dengan dukungan yel-yel tim sukses setelah mendengar orasi calon.
Debat ala pemilihan presiden Indonesia juga diadakan dengan memaparkan program-program unggulan, menjawab pertanyaan antarkandidat, dewan pakar maupun audien semua siswa dalam panggung terbuka.
Meski perdebatan antarkandidat kurang gereget dalam beradu argumen, berbeda pandangan, saling menyanggah sehingga tidak terasa atmosfer perdebatan tetapi nuansa dialog di atas mimbar yang diikuti semua guru dan siswa sudah memberikan pengalaman berharga bagi kandidat, tim sukses, serta keseluruhan siswa dan guru.
Dalam konteks kepemimpinan Ignasian, siswa yang terpilih menjadi pemimpin adalah siswa yang bisa mengedepankan konteks, aksi dan refleksi dalam setiap kepemimpinannya sehingga siswa harus menyadari betul bahwa menjadi pemimpin bukan sekadar memiliki jabatan melainkan pemimpin yang terus menggunakan suara hati ketika mau mengambil keputusan, pemimpin yang mau menjadi jembatan ketika akan menyelesaikan persoalan dari berbagai pihak yang berbeda, mau melayani dan bisa menginspirasi kepada banyak siswa.
Untuk mengobarkan semangat pengurus senat dalam kepemimpinan Ignatian yang mengutamakan pelayanan dan menjadikan pemimpin sebagai model ideal bagi siswa yang lain, maka Senat SMA Kolese Gonzaga memilih moto “Servire Exempla Trahit” yang tulisannya terpampang di depan kantor senat agar semboyan itu terus mengalir dalam setiap gerak napas pelayanannya.
Pembelajaran demokrasi yang terus dikembangkan, yang dimulai setiap proses pemilihan Ketua Senat akan bermakna manakala para siswa dan siswi menjadi sadar bahwa mereka harus berani muncul menjadi ketua ketika dirinya berada di sebuah wadah yang memiliki banyak anggota.
Sedari awal, ketika siswa mulai mendaftarkan diri dan diterima menjadi siswa, Pater Eduardus C. Ratu Dopo, SJ selaku Pater Kepala SMA Kolese Gonzaga, sudah memperkenalkan bahwa siswa dan seminaris kelak harus menjadi pemimpin sehingga selama di Gonzaga, mereka akan terus dibentuk dan dilatih untuk menjadi pemimpin yang bisa dan berani tampil berbicara di depan publik, pemimpin yang terlatih memiliki eloquentia informata perfecta, menjadi fasih, berbobot, dan berwawasan ketika berbicara di depan umum.
Sekolah telah membuat program unggulan yang cukup efektif sebagai sarana pelatihan dan pembentukan pemimpin berkarakter. Kegiatan seperti Latihan Kepemimpinan, Jambore, live-in dan kegiatan Gonzaga Festival menjadi ajang terbuka semua siswa untuk belajar kepemimpinan. Dengan mengikuti dan melakukan semua program kegiatan, siswa telah diberi peran sebagai seorang pemimpin yang akan belajar banyak tentang kepemimpinan dan demokrasi.
Kepemimpinan Ignatian di kepengurusan Senat SMA Kolese Gonzaga lebih berorientasi bahwa Senat memberikan cukup waktu dan ruang bagi banyak siswa untuk diajak dialog bersama dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan sehingga menjadikan kegiatan yang dibuat bukan lagi sebagai tujuan tetapi menjadi sarana yang bisa digunakan untuk lebih mengagungkan kemuliaan Tuhan.
Apa yang ditulis oleh Simon Sinek dalam bukunya Leader Eat Last, Why Some Teams Pull Together and Others Don’t bahwa pemimpin hendaknya menjadi orang terakhir makan menjadi relevan untuk kepemimpinan Senat SMA Kolese Gonzaga. Aksi nyata yang dilakukan oleh Ketua Senat dan tim dalam banyak kegiatan selalu mendahulukan kepentingan orang banyak di atas kepentingan diri sendiri.
Menyaksikan hari-hari para siswa belajar berdemokrasi, semakin percaya bahwa SMA Kolese Gonzaga menjadi tempat yang menjanjikan dalam mencetak pemimpin masa depan bangsa, negara, dan Gereja.
Pemimpin masa depan adalah pemimpin yang tidak cukup memiliki kecakapan tetapi pemimpin yang bisa memadukan kecakapan dengan integritas diri, yang keduanya harus ditanamkan sekolah kepada semua siswa dalam spirit Ad Maiorem Dei Gloriam.
Albertus Bambang Utomo Guru SMA Kolese Gonzaga Jakarta














