Pada zaman ini, pendidikan merupakan bagian penting dan utama dalam pembentukan kualitas pribadi seorang individu, baik karakter maupun keutuhan personal seorang manusia.
Dengan belajar (pendidikan), manusia memiliki paradigma yang lebih luas dan terbuka untuk melihat panorama kehidupan. Karenanya, manusia memiliki tugas untuk berbuat sesuatu terhadap hidupnya, baik personal maupun komunal. Paling tidak, ia memiliki pandangan untuk berbuat baik bagi kehidupan yang sedang dijalaninya.
Salah satu tugas dan perutusan bagi mereka yang memilih untuk menjadi seorang gembala (calon imam) adalah menempuh pendidikan di bangku perkuliahan. Beberapa semester yang lalu dalam sebuah perkuliahan, yaitu Metafisika (di luar yang fisik/tampak), di pengujung semester, seorang mahasiswa bertanya kepada dosen, “Kira-kira kata atau kalimat apa yang bisa dijadikan pegangan hidup ketika menyelesaikan kuliah ini?”
Mungkin, pertanyaan ini didasari oleh kerumitan memahami Metafisika atau hal-hal yang ada di wilayah non-fisik: keberadaan, ruang, waktu, sebab-akibat, intinya cukup kompleks. Tentu saja, selain mendapat nilai yang baik dari ujian, seorang mahasiswa juga dituntut untuk memiliki pegangan atau pendasaran dalam menjalani hidup.
Dengan muka yang datar dan santai, dosen ini mengatakan, “Hancur lebur boleh, tapi jangan sampai karam.”
Sebagai seorang mahasiswa yang juga mengikuti perkuliahan, kata-kata yang diungkapkan dosen tersebut membekas dan memberi motivasi, khususnya dalam mempersiapkan diri menjadi seorang imam.
“Hancur lebur”, suatu keadaan yang menggambarkan betapa peliknya kehidupan ini. Setiap manusia dengan segala pergumulannya berjuang untuk menciptakan dan mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Dalam upaya itu, manusia tidak selalu bersentuhan dengan hal-hal yang menggembirakan dan menyenangkan.
Pengalaman hidup yang dialami seseorang dengan segala perjuangannya membuat seseorang kecewa, merasa sendirian, terluka, jatuh, dan bahkan menanyakan arti kehidupan, apa tujuan dari semua perjuangan ini.
Kata-kata Yesus ketika berada di salib, “Allahku ya Allahku, mengapa Kau tinggalkan Daku?”, menjadi gambaran kehidupan manusia bahwa tidak selalu pengalaman dan perjuangan hidup itu menggembirakan dan mengundang tawa.
Kadang, pada titik tertentu, manusia akan merasa diri paling lemah, paling rapuh, paling tak berdaya sehingga membutuhkan pertolongan. Pada titik itulah manusia menyadari bahwa ia adalah makhluk yang terbatas dan selalu memerlukan kehadiran orang lain.
Manusia bisa menghendaki banyak hal, tetapi perihal “yang terjadi” bisa tidak sesuai dengan apa yang telah dikehendakinya. Sederhananya, manusia serbaterbatas, tidak bisa mengendalikan segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya sesuai keinginannya.
“Tapi jangan sampai karam”. “Karam” menggambarkan sebuah keadaan yang serba putus asa, tenggelam total, kehilangan arah, dan tidak mampu untuk berbuat sesuatu. Frasa kedua ungkapan ini menyiratkan sebuah ajakan untuk tetap bertahan, tidak putus asa, dan tetap mengupayakan jalan keluar.
Sesulit, seberat, dan segelap apa pun jalannya, sejatinya seseorang senantiasa memberi ruang pada harapan agar tetap sadar dan berbuat sesuatu. Kesukaran hidup atau ketidakpastian menjadi latihan atau sekolah untuk mengharapkan sesuatu pada masa yang akan datang. Dengan harapan, seseorang mengupayakan sesuatu yang ia bisa lakukan pada masa sekarang ini agar memperoleh sesuatu yang ia harapkan di masa yang akan datang.
Salah satu ungkapan yang populer pada tahun Yubileum ini adalah “spes non confundit” – pengharapan tidak mengecewakan. Ungkapan ini terinspirasi dari kata-kata rasul Paulus kepada jemaat di Roma: “… dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm. 5:5).
Harapan memiliki beberapa makna: sesuatu yang (dapat) diharapkan; keinginan supaya menjadi kenyataan; orang yang diharapkan atau dipercaya. Harapan mengindikasikan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, tetapi harus diupayakan pada masa sekarang ini.
Misalnya, seorang pelajar yang mengharapkan nilai yang baik, maka ia harus belajar dengan tekun, mendengarkan penjelasan dengan penuh perhatian dan mengulangi pelajaran ketika berada di rumah. Dengan demikian, harapan bukanlah menantikan sesuatu tanpa berbuat apa-apa, tetapi selalu dibarengi dengan perjuangan dan upaya personal (komunal) saat ini.
Kata-kata Yesus “Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, dan Aku akan memberimu kelegaan” menjadi ajakan bagi setiap orang untuk datang kepada-Nya.
Jaminannya adalah kelegaan. Ketika seseorang merasa sendirian, jalannya berliku-liku dan bebannya berat, [mungkin] ia perlu datang kepada Yesus dan meminta kekuatan, semangat agar kembali dikuatkan menjalani hidupnya. Dengan cara ini, kita akan selalu berharap dan bersyukur atas setiap proses dan perjalanan “yang sudah, sementara dan yang akan” terjadi.
Oleh karena itu, Yesus senantiasa memanggil kita dari waktu ke waktu untuk datang kepada-Nya agar kita tidak merasa sendirian dan selalu memiliki banyak cara melakukan hal-hal baik. Harapan itu pula bukan hanya untuk penyertaan-Nya di dunia ini, tetapi jauh melampaui itu, harapan akan kehidupan kekal sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya.
Hendrikus Ance Mahasiswa Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma














