Aku hanya seorang gadis sederhana yang mencoba peruntungan di Kota Semarang. Setiap pagi dan sore aku selalu menggunakan BRT (Bus Rapid Transit) untuk menuju tempat kerja dan pulang ke rumah. Suatu hari sepulang kerja, aku bersama teman-teman berangkat menuju Terminal Sukun untuk bisa mendapatkan BRT yang akan membawa kami menuju ke Terminal Bawen, perhentian terakhir bus Trans Jateng.
Untuk menuju Terminal Sukun, aku menumpangteman kerjaku yang kebetulan hari itu membawa kendaraan pribadi. Sesampai di Terminal Sukun, aku dan teman-teman lainnya menunggu kedatangan BRT. Hari itu cuaca di Semarang cukup panas, membuatku ingin segera sampai ke rumah.
Setelah cukup lama menunggu kedatangan BRT, dari kejauhan aku melihat bus berjalan menuju ke arah halte bus di Terminal Sukun. Sesampainya di halte, aku dengan semangat melangkah memasuki bus itu dan segera mencari tempat duduk. Kebetulan saat itu penumpang yang menuju ke Ambarawa sedikit jumlahnya sehingga mudah bagiku dan teman-teman untuk duduk. Ketika kami sedang berbicara, tiba-tiba orang yang duduk tepat di sebelahku berdiri. Spontan aku bertanya, “Ibu mau turun di mana?”
Ibu itu tidak lantas menjawab, tetapi justru menangis. Melihat reaksinya, aku langsung bertanya kembali, “Ibu kenapa nangis? Sini, Bu, duduk saja.”
Tak kusangka, ibu itu malah semakin memperbesar volume menangisnya, menarik perhatian penumpang lain dan petugas BRT.
Petugas BRT juga berusaha menanyakan alasan ibu itu menangis, tetapi juga tidak ada jawaban. Petugas BRT pun kebingungan.
Aku lantas mengusulkan kepada sopir dan petugas BRT untuk membawa ibu itu ke RS Ungaran yang kebetulan tidak jauh dari lokasi bus saat itu. Ibu itu menolak dibawa ke rumah sakit dan membuatnya tambah menangis.
Melihat itu, aku akhirnya berdiri untuk mengajak ibu itu. Ketika memegang tangan si ibu yang juga sedang menggenggam pegangan bus yang berada di atas, aku merasakan tangannya dingin sekali. Sambil membujuk ibu itu, aku mengoleskan minyak gosok agar tangannya hangat.
Aku pikir, dengan mengoleskan minyak gosok pada tangannya akan membuat kondisi ibu itu semakin membaik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ibu itu jadi sesak napas. Orang-orang yang berada di dalam bus pun semakin panik. Aku yang berada persis di samping ibu itu juga ikut panik.
Melihat kondisi yang semakin runyam, akhirnya sopir BRT memutuskan untuk berhenti di RS Ungaran dan mengalihkan penumpang yang tersisa ke BRT yang di belakangnya. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku tetap membuat pijatan kecil pada tangan ibu itu agar tidak memperburuk kondisinya.
Ketika sudah sampai di rumah sakit, kami para penumpang yang berada di dalam bus pun turun dan menunggu bus berikutnya dengan ditemani petugas BRT.
Begitu bus berikutnya datang, kami semua menaikinya. Kondisi di dalam bus saat itu cukup sepi sehingga kami dapat duduk dengan tenang. Lalu lintas di luar cukup padat sehingga bus melaju dengan kecepatan rendah. Sesaat kemudian, di dalam bus menjadi ramai karena para penumpang membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi.
Aku sendiri memilih diam dan bertanya dalam hati, ibu tadi kenapa, ya? Kenapa tiba–tiba menangis dan sesak napas? Pertanyaan itu justru membuatku semakin penasaran dan ingin memperoleh jawabannya segera.
Ketika sedang santai menikmati kemacetan, tiba-tiba anak yang duduk di sebelahku muntah. Kejadian itu membuat kaget seluruh penumpang, termasuk petugas BRT. Memang, ketika duduk di dekat anak itu, aku melihat raut wajahnya yang pucat, menunjukkan kalau anak itu sedang sakit.
Melihat situasi itu, sopir dan petugas BRT memutuskan berhenti dan membersihkan kembali bus yang aku tumpangi. Tanpa basa-basi, aku menyodorkan minyak gosok. Ada apa dengan hari ini? batinku tak mengerti.
Bagaimana tidak? Dalam waktu yang singkat aku sudah mengalami dua peristiwa yang tidak terduga dan sangat dekat denganku. Pertanyaan itu terus membayang selama perjalanan menuju Ambarawa. Perasaanku campur aduk, mulai dari sedih, takut, kaget, dan galau.
Sampai saat itu aku belum menemukan jawaban apa yang sesungguhnya terjadi pada hari ini. Di sisi lain, aku sedikit kecewa karena semua peristiwa itu terjadi persis di sampingku.
Selama dalam perjalanan, selain mencari-cari jawaban, aku mulai mengobrol dengan penumpang lainnya. Ketika sedang asyik berbincang, tiba-tiba petugas BRT memberi tahu kalau di depan ada kecelakaan lalu lintas.
Sontak semua penumpang riuh merespons dan ingin melihatnya. Kecelakaan itu terjadi di daerah Bawen. Tampak sebuah mobil yang sudah hancur berantakan. Kurasa kecelakaan itu sudah terjadi beberapa saat lalu karena sudah ada Polantas yang mengatur lalu lintas agar tetap lancar.
Dalam keriuhan itu aku mulai tersadar dan bersyukur dalam hati. Seluruh pertanyaan yang menjadi pergulatanku selama perjalanan terjawab oleh peristiwa yang terakhir ini. Aku tidak tahu Tuhan sedang merencanakan apa di dalam hidupku. Namun, pada hari ini Tuhan tampaknya telah melindungiku agar terhindar dari kecelakaan.
Cara Tuhan sungguh tidak terduga. Mungkin cara-Nya memang tidak menyenangkan, tetapi aku bersyukur karena Dia menyelamatkanku dari kecelakaan dan masih mengizinkan aku untuk hidup. Bisa jadi, bus pertama yang aku tumpangi akan terdampak kecelakaan itu andai tetap berjalan normal (dengan aku di dalamnya!).
Rencana Tuhan memang tidak akan pernah diketahui oleh manusia, bahkan aku tidak habis pikir dengan dua kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi. Mungkin kalau aku tidak berjumpa ibu yang menangis, aku dan penumpang lain akan menjadi korban kecelakaan.
Ah, rencana Tuhan memang selalu indah pada waktu-Nya.
* Artikel ini telah terbit di Majalah UTUSAN edisi Mei 2020











