Setiap orang unik dan berarti. Simfoni kehidupan ini tak akan lengkap tanpa kehadiran satu orang.
“Saya bagaikan ikan kecil yang berenang di lautan yang luas,” ujar Melati suatu sore.
Saya mengamati teman saya. Badannya mungil, penampilannya sederhana, dan pancaran matanya redup. Bila dipandang sekilas, ia bukanlah orang yang populer atau menonjol. Namun, siapa sangka di balik tubuhnya yang terlihat ringkih itu tersimpan keteguhan hati dan semangat untuk berjuang.
Melati terpesona pada sosok bruder yang kerap dilihatnya di muka gerbang sekolah anaknya. Bruder itu berusia setengah baya, kurus, dan berambut putih. Setiap pagi dengan senyum cerah ia menanti anak-anak yang berebutan bersalaman dengannya.
Ada sesuatu dalam diri bruder itu yang mendorongnya untuk menemuinya. “Gesture dan sorot matanya kala menyapa dan mengajak mengobrol anak saya memancarkan kehangatan kasih Tuhan,” sahutnya kagum.
Maka, ia memberanikan diri datang ke bruderan. Ia membawa kue bolu marmer buatan sendiri. Di muka kardus kue itu ia menempelkan kartu namanya. Penjaga bruderan menyambutnya ramah.
“Saya ingin menitipkan kue ini untuk Bruder Adrianus. Saya mamanya Reza, siswa SD di sini,” ujarnya malu-malu.
“Kebetulan Bruder sedang menyiram tanaman di kebun. Apakah Ibu mau saya panggilkan Bruder?” tanya penjaga itu.
“Ya, boleh,” jawabnya.
Religius pendidik ini menemuinya di ruang tamu yang asri. Melati memperkenalkan dirinya dan menceritakan sekilas perjalanan hidupnya. Lalu, ia permisi pulang. Malam harinya, ia mendapat pesan, “Melati, terima kasih kuenya. Saya nikmati bersama teman-teman bruder lain.”
Melati menutup ceritanya dengan berkata, “Saya tidak tahu dari manakah asal keberanian dan kepercayaan diri saya. Sebelumnya, saya tak berani menjumpai orang yang belum saya kenal baik dan menceritakan diri saya.”
Kuseruput teh yang tersaji di atas meja ini. Kupandang wajahnya yang lugu itu. Ya, ada sesuatu yang berharga di dalam dirinya. Keahliannya membuat kuelah yang memberanikannya menatap dunia ini dan berkata, “Inilah aku.”
“Ikan kecil” itu tak lagi terkurung oleh perasaan rendah dirinya. Ia telah berhasil menemukan arti dirinya di lautan yang luas ini. Dorongan semangat dan penerimaan dari bruder itu menggugahnya untuk tegak menatap masa depan. Meski terjal jalan yang mesti dilaluinya.
Kita masing-masing dibekali kemampuan untuk bersinar. Kebugaran masa muda dan keelokan paras bukan satu-satunya modal utama, melainkan kemauan untuk berproses, berkembang, dan berbagi pada orang lain.
Perjuangan menerima dan bersahabat dengan diri sendiri memerlukan tahapan yang lama. Seperti perubahan kerang menjadi mutiara. Tak jarang ia menerima penolakan atau diremehkan orang.
Semuanya menempa Melati menjadi wanita yang tangguh, ulet, dan berhati lembut. Bila seseorang sudah menemukan makna dirinya di dunia ini, ia akan bangun dengan semangat baru dan bergairah menyongsong masa depannya.
Lautan yang luas dan dalam tak lagi menjadi halangan untuk terus mengarunginya. Sebab, ia telah menyadari alangkah berharganya ia di mata Penciptanya.













