Berakal Sehat Tidak Mengenal Usia

Bingkai305 Views

Ideologi umumnya dipahami sebagai kumpulan gagasan dan keyakinan yang menjadi dasar cara berpikir seseorang. Namun ideologi juga dapat dimaknai sebagai ruang lahirnya akal sehat yang memantik berbagai gagasan baru.

Pemikiran itu terasa dekat dengan kutipan Tan Malaka: “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” Kutipan tersebut mengingatkan bahwa masa muda adalah waktu yang paling berharga untuk belajar, bertanya, dan menguji berbagai gagasan tentang kehidupan berbangsa.

Suatu kesempatan membawa langkah menuju Perpustakaan Kolsani (Kolese Ignatius), tempat berlangsungnya kuliah umum perdana Akademi Republikan bertajuk “Ideologi dan Metode.” Ruangan itu dipenuhi mahasiswa dan akademisi yang datang untuk berdiskusi mengenai ide dan arah pemikiran publik.

Di antara para peserta, hadir pula seorang pelajar SMP. Keberadaan yang berbeda itu justru menjadi pengalaman tersendiri: menyaksikan langsung diskusi intelektual yang selama ini hanya terlihat melalui layar.

Suasana Kuliah Umum oleh Rocky Gerung di Kolsani, Yogyakarta (Dokumentasi: Istimewa)

Sosok Rocky Gerung yang selama ini dikenal dari berbagai forum publik hadir sebagai pembicara. Namun daya tarik forum tersebut tidak semata pada figur yang hadir, melainkan pada gagasan yang diperdebatkan.

Salah satu kalimat yang paling membekas adalah pernyataan Rocky Gerung: “Pikiran hanya disebut pikiran kalau dipertengkarkan.” Kalimat itu mengingatkan bahwa gagasan tidak lahir dari hafalan, melainkan dari dialog dan perdebatan.

Selama ini banyak orang diajarkan untuk menghafal Pancasila. Namun jarang sekali diajak untuk menguji dan mendebatkannya sebagai sebuah public reason yang hidup di tengah masyarakat.

Forum semacam ini memperlihatkan bahwa intelektualitas tidak tumbuh dari kesepakatan semata, melainkan dari keberanian memiliki sparing partner dalam berpikir. Perdebatan menjadi cara untuk merawat akal sehat.

Dalam konteks itu, Pancasila tidak semestinya berhenti sebagai dogma yang dihafalkan. Ia perlu dihidupi sebagai kompas moral yang rasional, yang diuji melalui berbagai persoalan nyata bangsa.

Salah satu persoalan yang disorot adalah krisis lingkungan. Menurut Rocky Gerung, isu tersebut harus menjadi arena pengujian nalar publik bagi siapa pun yang ingin memimpin republik ini.

Antusiasme Para Peserta dalam Mengikuti Kuliah Umum (Dokumentasi: Isimewa)

Ketika acara berakhir, antusiasme peserta terlihat jelas. Banyak yang berdesakan untuk mengambil gambar bersama pembicara. Kerumunan itu menunjukkan betapa besar minat generasi muda untuk terlibat dalam ruang diskusi ide.

Namun lebih dari sekadar euforia, suasana tersebut menunjukkan sesuatu yang lebih penting: tumbuhnya kesadaran intelektual di kalangan anak muda. Mereka tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi mulai aktif bertanya dan berdiskusi.

Dari pengalaman tersebut muncul satu keyakinan sederhana. Masa depan republik akan semakin kuat jika generasi muda berani memasuki gelanggang pengetahuan—mempelajari ide, sejarah pemikiran, dan tradisi debat yang sehat.

Sebab bangsa yang rasional hanya dapat dibangun oleh individu-individu yang berani berpikir merdeka, progresif, dan konsisten merawat nalar publik.

Angelica Diajeng Prameswari
Murid SMP Kanisius Kalasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *