Saat Bukber Kom-HAK KWI, Shinta Nuriyah Wahid Beri Tiga Pesan

News864 Views

Jakarta. Berbagai bencana yang diturunkan oleh Allah kepada manusia mengandung tiga makna. Pertama, bencana tersebut merupakan peringatan dari Allah. Kedua, bencana tersebut merupakan ujian dari Allah. Ketiga, bencana sebagai hukuman dari Allah.

Demikian dikemukakan Hj. Dr. (HC) Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dalam Tausiyah Ramadan pada acara Buka Bersama Ibu Hj. Shinta Nuriyah yang digelar Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi HAK KWI) di Aula Henri Soetio Gedung KWI Jl. Cut Mutiah 10, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 13 Maret 2026.

Hadir dalam buka bersama kali ini, Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo, Ketua Presidium KWI Mgr. Antonius Subianto OSC, Ketua Komisi HAK KWI, Mgr. Christophorus Tri Harsono, unsur wakil rakyat DPR RI, wali kota, camat, lurah, unsur Ormas Keagamaan (MUI, Muhammadiyah, NU, Parisadha Hindu, Permabudhi, Matakin, PGI, serta Penghayat Kepercayaan).

Selanjutnya, hadir Organisasi Keagamaan Pemuda (OKP) Lintasagama (Pemuda Katolik, Pemuda Muhammadiyah, GP Ansor, GAMKI, Hindu, Buddha, Konghucu, dan Penghayat Kepercayaan). Hadir pula para tokoh lintasagama, masyarakat, romo, suster, Bruder KLSD KWI, serta para wartawan media massa cetak dan elektronik.

Sementara dari unsur kaum duafa, hadir Komunitas Anak Yatim Piatu dari Kwitang, Tim Oranye Kebersihan Jalan Menteng, Komunitas Janda Kalipasir, Panti Asuhan Muslim Kalipasir, Panti Asuhan Muslim Masjid Cut Mutia, Panti Asuhan Katolik Vinsensius Kramat, Tukang Parkir Cut Mutia, dan karyawan-karyawati Kantor KWI.

“Karena bencana yang diturunkan Allah merupakan peringatan, maka mari kita bersama-sama mohon petunjuk dari Allah agar kita diberi ketajaman mata, ketajaman pikiran, ketajaman otak agar kita bisa memahani peringatan apa yang telah diturunkan Allah kepada kita,” tutur Shinta.

Selanjutnya, sambung Shinta, “Jika bencana itu merupakan ujian dari Allah, marilah kita mohon kepada Allah agar kita bisa menjalanii ujian itu dengan sebaik-baiknya. Kalau lulus ya lolos. Tidak ada manusia yang tidak mengalami ujian, semuanya pasti mengalami ujian, dan yang lulus ujian pasti akan naik derajatnya.”

Sedangkan yang ketiga, apabila bencana itu merupakan hukuman dari Allah, “Masya Allah, marilah kita semua bertobat kepada Allah. Kita harus meningkatkan iman, takwa, dan minta kepada Allah agar hukuman yang diturunkan kepada kita segera diangkat oleh Allah sehingga kita bisa hidup lagi dengan tenang dan bahagia.”

Lebih jauh, istri mendiang Presiden ke-4 Republik Indonesia K.H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur ini mengatakan keprihatinannya karena keadaan bencana diperparah dengan adanya guncangan-guncangan lainnya.

“Para pengampu hukum, para pengampu negara, dan sebagainya banyak melakukan perbuatan atau tindakan yang justru meresahkan rakyat dan membuat rakyat lebih menderita,” ujarnya.

Oleh karena itu, Shinta mengingatkan dan mengajak masyarakat pada momen bulan suci Ramadan ini untuk memohon pertolongan dari Allah. “Memohon ampunan kepada Allah, semoga semuanya itu segera diangkat, dan semua yang melakukan pelanggaran yang menyengsarakan rakyat bisa segera dihentikan dan diberi hukuman,” tutupnya.

Buka bersama ini merupakan rangkaian kegiatan Ibu Shinta sebagai satu-satunya Ibu Bangsa yang peduli kepada warga masyarakat Indonesia khususnya kaum duafa dalam sikap menghargai keberagaman dengan “Sahur Keliling” 2026.

Buka bersama ini merupakan rangkaian kegiatan Shinta sebagai satu-satunya Ibu Bangsa yang peduli kepada warga masyarakat Indonesia, khususnya kaum duafa, dalam sikap menghargai keberagaman dengan “Sahur Keliling” 2026.

Itulah sebabnya, selama bulan Ramadan, Shinta berkeliling ke pelosok-pelosok daerah, menyapa warga masyarakat dalam sinergi dengan umat beriman, apa pun agama dan kepercayaannya. Inilah yang juga menjadi landasan kerja sama dengan Komisi HAK KWI untuk pelaksanaan Buka Bersama 2026 dengan tema: “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”.

Untuk kali kedua, sesudah lebih dari satu abad keberadaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), pembacaan ayat suci Al-Quran, kumandang Azan Magrib penanda buka puasa, alunan musik hadroh, liukan penari sufi berlangsung di Gedung KWI. Yang pertama terjadi pada Ramadan 2025 dan yang kedua pada Ramadan 2026 ini.

“Kepada mereka kami berbagi berkat Ramadan dan paket sembako Idul Fitri dalam sinergi Mabes Polri,” ujar Rm. Aloys Budi Purnomo Pr, Sekretaris Komisi HAK KWI.

Rm. Budi mengatakan, momentum buka puasa bersama Shinta menjadi ruang perjumpaan dalam semangat sinodalitas – berjalan bersama – secara interreligius sebagai wujud persaudaraan sejati.

“Di tengah konflik dan perang yang terjadi di tingkat dunia, kita bertekad membangun jembatan persaudaraan dengan semua orang tanpa diskriminasi. Buka bersama ini menjadi kesempatan untuk semua orang berjalan bersama sebagai umat beriman apa pun agama dan kepercayaannya, dengan praksis belarasa, dan semangat persaudaraan demi terwujudnya kerukunan, keharmonisan, dan kehidupan yang damai sejahtera,” ucapnya.

Terakhir, Rm. Budi mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dengan segala kebaikan dan kemurahan hati hingga momentum buka bersama dapat dilaksanakan dengan baik di KWI. “Semoga momentum ini menjadi berkat bagi umat dan masyarakat yang saling menghargai dan menghormati dalam perbedaan dan keberagaman,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *