Pada 15 Juli 2024, kegiatan Pengenalan Lingkungan Persekolahan Pengelolaan Pembelajaran (PLP PP) dilaksanakan. Saya menjadi salah satu mahasiswi dari Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta yang mengikuti praktik mengajar.
Saya ditempatkan di salah satu SMA negeri di Yogyakarta yang sudah cukup saya kenal dan familier dengan lingkungannya. Sekolah yang saya gunakan untuk praktik ini adalah sekolah yang sama ketika saya melakukan PLP yang pertama pada kegiatan observasi.
Overthinking menjadi kebiasaan yang timbul dalam diri saat mengawali sebuah proses yang padahal belum tentu yang ditakutkan itu terjadi. Tidak pernah terbayangkan dalam diri menjadi seorang guru yang memiliki tanggung jawab, tidak hanya dalam hal mengajar tetapi juga dalam membangun relasi dan memahami karakter siswa.
Kegiatan PLP PP ini adalah kegiatan pengenalan kedua setelah saya melalu proses observasi dan menjalankan mata kuliah micro teaching (pembelajaran mikro). Kembali ke sekolah yang sama membuat saya merasa terkejut sekaligus senang, karena dapat mengurangi satu beban saya untuk beradaptasi.

Pengalaman praktik mengajar saya ini, saya dihadapkan oleh kenyataan untuk mengajar anak SMA dengan latar belakang dan karakter yang berbeda-beda serta tingkatan mengatasinya lebih tinggi. Hal ini sempat membuat saya ragu, apakah saya layak dan bisa menjadi seorang pengajar yang didengarkan dan dicontoh oleh siswa saya? Terlebih saya mengingat sewaktu saya SMA dulu bahwa terkadang kedatangan praktikan di kelas kurang dihargai siswa dan kurang mengenakkan.
Kegiatan PLP PP dimulai dengan aktivitas yang masih biasa, seperti bertemu guru pamong untuk menjadwalkan hari mengajar dan mengikuti observasi di kelas. Saya mengampu mata pelajaran bahasa Indonesia dan mendapat dua kelas mengajar di setiap minggunya.
Rasa takut dan ragu kembali menyelimuti diri saya. Hari itu observasi pertama yang saya ikuti untuk melihat situasi kelas yang akan digunakan untuk praktik mengajar. Kelas observasi pertama memiliki karakter siswa yang superaktif, hal ini membuat saya semakin ragu untuk bisa mengelola kelas saat mengajar.
Namun, saya tetap optimistis dan mencoba menghilangkan rasa takut dan ragu dalam diri bahwa saya pasti bisa. Ketakutan dan keraguan ini seakan terpatahkan saat saya diberi kesempatan oleh guru pamong untuk mulai berinteraksi dengan siswa di kelas. Satu per satu saya bisa mengenali siswa-siswi melalui dinamika yang terjadi.

Hari berikutnya, saya mengikuti observasi kelas kedua dan saya sedikit terkejut karena kelas tersebut berbanding terbalik dari kelas sebelumnya. Kelas ini cukup tenang dan sopan. Hal ini membuat saya harus menyiapkan diri saya untuk bisa beradaptasi di dua kelas yang berbeda.
Observasi di kelas kedua ini saya mengingat diri saya saat SMA dahulu. Saya menghargai guru praktikan yang sedang atau akan mengajar di kelas dengan harapan jika saya menjadi seorang guru, saya akan diperlakukan sama.
Tidak pernah saya sangka bahwa saya menuai kebaikan yang saya lakukan ini di kemudian hari, yakni saat saya mengajar di kelas. Walaupun kedua kelas yang akan saya ampu ini memiliki karakter yang berbeda, siswa-siswi di kelas keduanya berkelakukan baik dan konsekuen dengan apa yang dilakukan.
Saya selalu membimbing siswa dengan suasana santai, tetapi tetap menanamkan tanggung jawab pada siswa untuk menyelesaikan tugas yang saya berikan.

Banyak hal yang saya dapatkan dari kegiatan praktik mengajar, seperti belajar menjadi guru yang sabar, menjadi guru yang menanamkan sikap menghormati terhadap sesama, dan mampu memahami karakter seluruh warga sekolah.
Saya bersyukur dari pengalaman yang saya dapatkan saat mengajar karena saya mendapat kelas yang bisa saya kelola dengan mudah. Sebagai seorang pengajar, hal utama yang ditanamkan dalam diri adalah sikap sabar, karena tidak selamanya daya tangkap siswa dalam menangkap materi itu sama.
Hal ini menjadi renungan saya bahwa menjadi pengajar tidak hanya sekadar datang memberi materi, tetapi juga memberikan pemahaman dan memahami karakter tiap siswa untuk mencapai tujuan belajarnya di kelas.
Hari berlalu dengan cepat, semakin banyak pengalaman yang saya dapatkan di sekolah itu, baik dari dua kelas yang saya ampu dan siswa kelas lain yang tidak saya ampu. Keraguan menjadi seorang pengajar yang memiliki ekspektasi buruk di awal dapat dipatahkan oleh menyenangkannya mengajar dan berinteraksi secara dekat dengan siswa-siswi di sekolah.

Hal ini karena jarak umur yang tidak terlalu jauh membuat siswa lebih nyaman untuk berdinamika dan berinteraksi dengan saya, baik saat pembelajaran berlangsung ataupun tidak. Minggu demi minggu saya lalui dengan sangat enjoy dan percaya diri untuk mengajar di dalam kelas. Hingga di minggu terakhir ada pesan haru yang saya dapatkan dari Rifqa, salah satu siswa di kelas yang saya ampu, katanya, “Minggu ini kita masih belajar bersama ‘kan, Bu?”
Rasa haru menyelimuti batin saya saat mereka juga menuliskan kesan pesan belajar bersama yang dikirimkan kepada saya menggunakan kertas sobekan kecil. Pengalaman mengajar ini memiliki kesan tersendiri bagi saya dan akan menjadi pengalaman yang saya rindukan nantinya.
Tidak seperti apa yang saya bayangkan di awal, saya bisa mencapai tujuan saya dalam praktik mengajar. Pengalaman kali ini membuat saya mendapatkan balasan misi yang saya bawa ke sekolah menjadi seorang guru, yakni misi “mencintai peserta didik” dan akhirnya mendapat balasan dari misi saya, yakni “dicintai peserta didik” dalam hal praktik belajar mengajar.












