Bantul. Paroki St. Yakobus Bantul, D.I. Yogyakarta mengadakan konser akhir tahun untuk pertama kali pada Minggu, 3 November 2024. Konser di dalam gereja paroki ini dipersembahkan oleh siswa-siswi kursus organis Paroki St. Yakobus Bantul.
Konser bertema “Suara Syukur” ini diselenggarakan sebagai sebuah sarana atau wadah untuk mengapresiasi anak-anak yang telah mengikuti kursus organis yang diselenggarakan Paroki St. Yakobus Bantul selama kurang lebih setahun.

Umur dari anak-anak yang mengikuti kursus ini pun berbeda-beda, dari 10 hingga 25 tahun dan dikelompokkan atau dikelaskan berdasarkan kemampuan. Mereka terbagi dari dua kelas atau tingkat. Kelas pemula terdiri dari 9 siswa-siswi, sedangkan kelas lanjutan terdiri dari 8 siswi.
Pastor Paroki St. Yakobus Bantul, Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr, mengucapkan profisiat kepada para siswa-siswi peserta kursus. Menurut Rm. Merdi, kursus ini merupakan bagian dari formatio iman berjenjang.

“Harapan dari pembelajaran ini supaya regenerasi organis Gereja terus berlanjut,” kata Rm. Merdi sembari mengucapkan terima kasih kepada Daniel Aditya Pragnyana dan Victoria Memorita selaku pengajar dalam kursus ini.
Rm. Merdi berterima kasih pula kepada para orang tua yang setiap Minggu siang selalu mengantar dan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan. “Juga kepada adik-adik peserta kursus organis Paroki St. Yakobus Bantul, terima kasih telah belajar dan menunjukkan potensi di tempat ini. Artinya, kalian mempunyai kerelaan untuk terlibat,” imbuh Rm. Merdi.

Selanjutnya, Yohanes Sugiman selaku perwakilan orang tua menyampaikan adanya seleksi alam dari antara peserta kursus. Semula, masing-masing kelas atau tingkat terdiri dari 10 siswa-siswi. Namun, dalam perkembangannya, ada beberapa peserta yang mundur atau tidak melanjutkan belajar hingga tuntas.
“Semoga anak-anak menjadi organis, baik di paroki maupun wilayah masing-masing. Kami juga berharap kursus ini tetap dilanjutkan,” harap ayah dari siswi kelas lanjutan Natalia Alfa Era Nugroho ini.

Konser diawali oleh penampilan siswa-siswi kelas pemula, kemudian disambung oleh para siswi kelas lanjutan. Penampilan mereka kemudian mendapatkan evaluasi atau penilaian atas perkembangan kemampuan anak-anak dalam memainkan organ.
Oleh karena itu, tim kursus juga menghadirkan tenaga profesional dari luar, yaitu Damian Alma, untuk memberikan evaluasi atas apa yang ditampilkan oleh anak-anak supaya menjadi masukan positif sehingga ke depannya mereka semakin lebih baik lagi ketika menjadi seorang organis.
Alma Linggar Jonarta atau yang sering dipanggil Damian Alma merupakan seorang dokter gigi yang sejak muda sering berkecimpung di dunia musik, khususnya musik Gereja. Selain sebagai pengiring, Damian Alma juga telah menciptakan lagu Doa Komuni Spiritual/Batin.

Ia banyak memberikan masukan yang positif untuk anak-anak yang tampil. Dari bagaimana cara duduk di depan organ, menggunakan pakaian yang sopan supaya nyaman saat tampil, hingga bagaimana menjaga tempo supaya pas, yaitu dengan cara sebelum main, jangan lupa menyanyi dalam hati terlebih dahulu. “Tugas utama organis adalah membantu umat berdoa (menghidupkan suasana), bukan hanya mengiring kor,” pesannya.
Saverius Vanny Noviandri selaku Wakil Ketua II Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Yakobus Bantul mengatakan, tema “Suara Syukur” mengandung makna ungkapan syukur tim yang terlibat secara langsung seperti DPP, orang tua murid, dan anak-anak sendiri atas berjalannya kursus dalam setahun ini. “Konser ini menjadi pelecut semangat anak-anak supaya akan giat lagi dalam berlatih,” tegas ayah dari siswi kelas lanjutan Brigitta Neva Radinka Manaan ini.

Mikaela Vania Ayu Prasetya, anggota Paduan Suara Esteyekabe Musica yang menyanyikan lagu-lagu iringan para siswi kelas lanjutan, menyatakan kegembiraannya melihat adik-adiknya tampil dan berani menunjukkan hasil dari latihan mereka selama setahun ini.
“Semoga adik-adik yang mengikuti kursus organ terus meneruskan bakatnya karena ini sudah ada wadahnya dan mungkin bisa mengajak teman-teman lain, terus mengiringi kor di lingkungannya biar ada regenerasi,” pesan mahasiswi Sekolah Vokasi – Universitas Gadjah Mada (SV UGM) Yogyakarta ini.








