Asyik “Menggereja” di Metaverse?

Jendela593 Views

Belakangan ini ramai diperbincangkan teknologi komunikasi baru yang digadang-gadang bakal menjanjikan masa depan futuristik dan akan mengubah kehidupan manusia, yakni metaverse. Terdiri dari kata meta (melampaui) dan universe (semesta), Metaverse akan menjadi sebuah dunia baru yang mampu menghadirkan imajinasi manusia yang semula fiksi menjadi kenyataan yang virtual.

Dengan mengelaborasi Internet of Thing (IoT), Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan Artificial Intelligence (AI), Metaverse menjadikan penggunanya bisa saling berinteraksi secara real-time dan melakukan apa saja seperti di dunia nyata atau bahkan lebih dari itu, dengan pengalaman dan sensasi yang berbeda.

Pandangan Gereja

Kalau semua hal di dunia nyata juga bisa dilakukan di metaverse, apakah kegiatan menggereja juga bisa dilakukan di metaverse? Sebetulnya, belum ada pandangan resmi dari Gereja terhadap metaverse secara khusus, karena metaverse belum hadir sepenuhnya. Namun, untuk menjawab pertanyaan itu, saya menempatkan metaverse sebagai media komunikasi sosial paling mutakhir yang berbasis internet.

Ditegaskan oleh Konsili Vatikan II dalam Inter Mirifica, Gereja meyakini bahwa media komunikasi sosial merupakan “penemuan-penemuan teknologi yang mengagumkan” (IM 1). Dalam Communio et Progressio pun dikatakan, “Gereja memandang sarana-sarana ini sebagai ‘anugerah-anugerah Allah’, sesuai rencana Penyelenggaraan Ilahi, dimaksudkan untuk menyatukan manusia dalam ikatan persaudaraan, agar menjadi teman sekerja dalam rencana-rencana penyelamatan-Nya” (CP 2). Cara pandang yang demikian menunjukkan bahwa Gereja senantiasa terbuka terhadap perkembangan zaman sekaligus mengambil sikap yang positif terhadap peran media komunikasi sosial dalam berbagai bidang kehidupan.

Cara-cara baru dalam berpastoral yang memanfaatkan media komunikasi sosial berbasis internet telah dilakukan oleh Gereja. Penggunaan media semacam ini dipandang lebih efektif terutama dalam hal pewartaan, karena dapat menjangkau seluruh umat secara lebih luas tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Ketika pandemi Covid-19 mulai merebak dan membatasi ruang gerak manusia secara nyata, peran media internet melalui platform Zoom, Google Meet, dan YouTube semakin dirasa penting dalam kehidupan menggereja. Perayaan Ekaristi, seminar, katekese, perlombaan, dan bermacam kegiatan rohani dilakukan serba-online. Peran platform itu seperti bangunan gereja yang menjadi ruang perjumpaan antarumat beriman.

Kehidupan menggereja secara virtual tersebut kurang lebih bisa menjadi gambaran masa depan Gereja di dalam metaverse. Akan tetapi, Gereja perlu memberi batasan kegiatan menggereja mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan di metaverse. Ini bukan hanya persoalan teknis semata, tetapi menyangkut persoalan teologis mengenai makna kehadiran dan kesatuan dalam Tubuh Mistik Kristus. Kesatuan kita sebagai anggota dari Tubuh Mistik Kristus terpenuhi manakala kita berpartisipasi secara sadar dan aktif di dalam Perayaan Ekaristi dan menyambut komuni kudus.

Berdasarkan pengamatan saya ketika mencicip metaverse di AltspaceVR, saya meragukan Perayaan Ekaristi bisa dilakukan di metaverse. Itu dengan pengandaian kalau imam yang memimpin Misa hadir secara virtual dengan bentuk avatar, kemudian roti dan anggur yang dikonsekrasikan pun dalam bentuk virtual, lantas umat yang hadir dalam bentuk avatar itu menyambut komuni secara virtual. Perayaan Ekaristi dengan model seperti itu tentu tidak akan pernah diperbolehkan. Demikian pula dengan upacara sakramental lainnya yang mengharuskan kehadiran secara nyata.

Kegiatan menggereja nonsakramental kemungkinan masih diperbolehkan untuk dilakukan di metaverse dengan cara yang lebih unik dan kreatif. Misalnya, kegiatan rekoleksi yang secara konvensional kerap kali dipandang membosankan, akan menjadi lebih menarik apabila dikemas secara kreatif di dalam metaverse. Di dalam ruang virtual itu peserta rekoleksi bisa mencitrakan dirinya dengan avatar yang dibuatnya secara unik, kemudian mereka bisa berinteraksi dengan peserta lain secara real-time. Selain itu, dalam rekoleksi juga bisa memanfaatkan fitur-fitur yang disediakan oleh metaverse untuk mengadakan permainan atau kuis secara virtual yang membuat acara semakin menarik tanpa menghilangkan esensi rohaninya.

Di dalam metaverse, berbagai kegiatan menggereja bisa dilakukan lebih menarik, ketika cara lama menggereja dipandang membosankan bagi sebagian orang. Hal yang terakhir disebutkan itu penting dalam kehidupan menggereja, khususnya dalam pewartaan. Paus Paulus VI dalam Evangelii Nuntiandi mengatakan bahwa salah satu hambatan pewartaan yang berasal dari dalam diri adalah kurangnya rasa gairah, yang tampak dari tidak adanya sukacita dan pengharapan (EN 80). Oleh karena itu, kehadiran Gereja di dalam metaverse diharapkan menjadi sebuah peluang dan cara baru yang menggairahkan dan membangkitkan sukacita serta pengharapan dalam melakukan pewartaan di era kontemporer yang serbadigital ini. Tentu saja, kehadiran metaverse tidak serta-merta meninggalkan cara menggereja yang sudah sejak lama diwariskan oleh para rasul dengan tetap mengutamakan kehadiran persoalan secara nyata.

Tantangan menggereja di metaverse

Para pemikir postmodern meyakini bahwa dunia kontemporer ditandai oleh hiperealitas. Hiperealitas adalah suatu kondisi ketika realitas sudah saling carut-marut sehingga mana yang nyata atau semu, asli atau palsu sulit untuk dibedakan lagi, karena semua itu telah melebur menjadi sebuah realitas baru. Kondisi hiperealitas ini muncul semenjak adanya teknologi informasi mutakhir yang mampu menciptakan realitas baru yang pada tingkat tertentu bisa terkesan lebih nyata daripada realitas aslinya. Itulah yang terjadi ketika kita tenggelam dan terlampau asyik bermain dalam realitas vitual yang hadir dalam media sosial.

Demikian pula dengan metaverse, sebagai sebuah realitas virtual, ia terkesan lebih real dan lebih menyenangkan daripada apa yang terjadi di dunia nyata sehingga orang akan lebih senang menghabiskan waktunya di dalam metaverse daripada bersosialisasi di dunia nyata. Hal yang sama juga bisa terjadi dalam hidup menggereja, orang enggan untuk hadir secara langsung ke gereja dan lebih memilih untuk “menggereja” di metaverse, karena dirasa lebih asyik dan menyenangkan. Alih-alih menemukan keberadaan dirinya di dalam realitas virtual, orang jutru semakin kehilangan keberadaan dirinya di dunia nyata. Orang yang demikian sejatinya teralienasi dari dunia nyata. Tidak hanya keberadaan diri yang hilang, tetapi juga imannya kepada Kristus sehingga iman yang diperolehnya adalah iman semu, bukan iman yang sejati. Kalau cara pandangnya demikian, metaverse hanya dijadikan sebagai tempat pelarian dari dunia nyata.

Bersikap bijak

Meskipun menggereja di dalam metaverse atau realitas virtual lainnya tampak lebih menarik dan menyenangkan, kehadiran secara real dan personal di dunia nyata tidaklah dapat tergantikan oleh apa pun. Sebab, di dalam dunia nyata kita bisa menjalin relasi antarpribadi yang autentik. Hal inilah yang sulit untuk didapatkan dalam ruang perjumpaan secara virtual. Akan tetapi, media komunikasi internet perlu dipandang sebagai sarana yang mendorong orang agar bisa menghayati imannya secara penuh dan memperkaya kehidupan rohani para penggunanya. Oleh karena itu, kehadiran metaverse perlu kita sikapi secara bijak. Memang, metaverse punya sisi positif dan negatif, tetapi bukan berarti kita bersikap menolak sama sekali atau menerima begitu saja. Kita harus peka terhadap perubahan zaman dan di saat yang bersamaan pula kita diajak untuk menjadi pewarta kebenaran Kristus.

Vinsensius Peter Ardi

Mahasiswa Magister Ilmu Teologi Universitas Katolik Parahyangan Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *