Dini hari bagi saya merupakan saat yang tepat untuk merenung dan berdialog dengan diri sendiri. Suasana pagi yang senyap membantu saya merenungkan sejauh mana hidup membawa saya hingga saat ini.
Saya teringat sebuah ungkapan “Life begins at 40” atau hidup dimulai di usia 40.
Usia 40 menandakan kematangan atau kedewasaan seseorang. Saya telah melewati masa remaja yang penuh gejolak dan masa dewasa muda yang disibukkan dengan aneka pekerjaan. Kini, saatnya saya memasuki periode setengah baya.
Secara fisik, usia 40-an ditandai dengan rambut yang beberapa helainya memutih, stamina yang jauh berkurang, keriput-keriput yang bermunculan di wajah, penyakit yang mulai berdatangan, dan lainnya.
Bila di usia 20 dan 30-an, saya sibuk beraktualisasi diri dengan aktif di berbagai kegiatan, saya menyadari bahwa inilah saatnya saya memperlambat langkah saya dan menikmati setiap momen yang ada.
Saya berusaha menikmati kesempatan mengikuti Misa harian pagi di gereja, mendengarkan orang lain bercerita, atau mengayuh sepeda melintasi sawah yang menguning. Saya menyadari waktu saya di dunia ini kian berkurang dengan bertambahnya usia saya.
Sebuah pesan WhatsApp dari seorang teman yang sama-sama berusia 40-an menyadarkan saya atas pemeliharaan Tuhan. “Von, ayahku telah meninggal. Namun, Tuhan tetap memelihara saya dan ibu saya lewat sesama kami,” tulisnya.
Itulah sebuah ungkapan syukur dari seorang teman bahwa di balik dukacita karena kehilangan kepala keluarga, Tuhan senantiasa memeliharanya lewat jalan yang tidak terduga.
Tentu saja Ia memelihara semua anak-anak-Nya dengan cara-cara yang unik. Maka, saya menatap layar kehidupan saya ke depan sembari membayangkan masa senja yang sudah mengintip di balik pintu. Kondisi fisik dapat dipastikan akan menurun, tetapi iman dan kegairahan hidup tak boleh melemah.
Hidup adalah anugerah, panggilan, dan perutusan. Perjalanan panjang 40 tahun telah saya lalui dengan berbagai macam suka dukanya. Saya berusaha mengikuti panggilan hidup saya dan menjalani perutusan di tengah keluarga, Gereja, dan sesama. Melalui kehidupan yang tak selamanya indah, iman, harapan, dan kasih membukakan pintu kebahagiaan bagi saya.
Hingga nantinya, di ujung perjalanan sunyi ini, Ia telah menunggu saya pulang. Dan, saya bahagia karena telah mempersembahkan yang terbaik sebagai ucapan syukur atas anugerah kehidupan yang Tuhan berikan.
Ivonne Suryanto








