Desember 2026 menjadi waktu yang aku nantikan sekaligus menjadi sebuah renungan. Saat itu, aku akan memulai perjalanan yang sangat panjang dan bermakna sebagai mahasiswa, yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN).
KKN bukan sekadar kegiatan akademik yang harus diselesaikan, tetapi juga mengajak mahasiswa untuk berekspresi lebih jauh dengan keluar dari lingkup kampus. Aku akan mengenal kehidupan masyarakat dan membuat tugas yang akan direalisasikan kepada mereka.
Walaupun KKN belum dimulai, tetapi sudah ada bayang-bayang dan banyak pertanyaan dalam pikiranku. Bagaimana rasanya tinggal bersama masyarakat baru selama satu bulan. Apakah menyenangkan? Apa saja yang akan didapatkan dari warga sekitar? Program kerja seperti apa yang sangat bermanfaat dan berguna dalam jangka panjang bagi masyarakat? Bagaimana aku dapat memilah nilai-nilai sosial dan rohani di setiap kegiatan yang akan aku lakukan?
Sebagai mahasiswa, aku tidak selalu hadir sebagai orang yang membawa jawaban bagi persoalan kemasyarakatan. Namun, aku juga harus belajar untuk turut bergabung dan bekerja sama dengan masyarakat. Di sana, aku juga akan hidup bersama teman-teman satu kelompok, mengenal suasana baru, serta berinteraksi dengan warga sekitar.
Melalui kegiatan KKN, aku ingin melayani dengan tulus, tidak semata-mata ditakar dengan apresiasi, tetapi juga kesediaan untuk selalu berbuat baik bagi sesama.
Ada banyak sekali pelayanan yang dapat dilakukan mahasiswa KKN bersama warga sekitar. Misalnya, seperti membantu pekerjaan warga sekitar, mendengarkan cerita warga, mengetahui apa saja yang mereka butuhkan, memberikan pendampingan, serta menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Pelayanan ini sederhana, tetapi memiliki banyak makna.
Aku akan mencoba membiaakan diri untuk tidak selalu menilai orang lain dari tingkat pendidikan, latar belakang, bahkan pekerjaannya. Namun, aku juga harus memahami setiap orang mempunyai martabat yang sama.
Aku ingin hadir bersama teman-teman kelompok. Dalam kelompok, setiap anggota pasti memiliki karakter, kebiasaan, kemampuan, dan cara berpikir yang berbeda-beda. Walau begitu, ketika kami menjalani aktivitas, turun ke lapangan, dan menghadapi segala kejadian maupun persoalan, tidak semua harus dijalani sendiri-sendiri. Tidak semua pendapatku harus teman-teman lakukan. Aku perlu memberikan ruang untuk teman-teman dan orang lain berkembang.
Sebelum melaksanakan KKN, aku menanamkan dalam diriku bahwa iman tidak hanya hadir dalam hidup manusia, melainkan melalui kesediaan untuk datang melayani. Ilmu yang didapat akan lebih terasa nyata bila kita bagikan kepada warga sekitar.
Semoga KKN yang akan aku jalani nanti dapat menjadi sebuah kesempatan bagiku untuk mulai bertumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang selalu memberikan kasih dalam keseharian.
Melayani bukanlah tentang seberapa lama aku terlibat di tempat itu, tetapi juga bagaimana kepedulian, kebaikan, dan nilai-nilai kehidupan muncul dari diriku.
Vincentius Yovie Krisan Saputra







